Agen bola Piala Dunia

Silakan Hubungi Cs kami untuk informasi lebih lanjut.

SELAMAT DATANG DI BLOG PREDIKSI CERIA4D

Blog Prediksi Resmi dari BO CERIA4D

Lomba Tebak 3D -2Line Bersama CERIA4D

bagi yang ingin mengikuti Silakan bergabung di Group Facebook kami "DONATAN4D Agent Togel Terpercaya"

Link WAP Donatan4D

Kini Hadir Versi Handphone Untuk memudahkan Para Member melakukan Betting dimana saja dan kapan saja.

Donatan4D bandar Togel Online Terpercaya

Silakan Hubungi Kami melalui Kontak di Atas

Wednesday, October 5, 2022

Adanya 'Gas Tertawa' di Sebuah Planet, Berarti Terdapat Kehidupan


Pencarian kehidupan di luar Bumi masih terus gencar dilakukan oleh para ilmuwan. Namun, beberapa hal yang menjadi patokan mereka dalam mendukung upaya tersebut masih ternyata masih belum sepenuhnya. Sebab, para ilmuwan di UC Riverside kini menyarankan ada sesuatu yang hilang dari daftar bahan kimia khas yang digunakan oleh ahli astrobiologi untuk mencari kehidupan di planet di sekitar bintang lain, yaitu keberadaan dari gas tertawa atau biasa disebut nitrous oxide.

Senyawa kimia di atmosfer planet yang dapat menunjukkan kehidupan, yang disebut biosignatures ini, biasanya mencakup gas yang ditemukan berlimpah di atmosfer bumi saat ini.

"Ada banyak pemikiran yang dimasukkan ke dalam oksigen dan metana sebagai biosignatures. Tapi lebih sedikit peneliti yang secara serius mempertimbangkan nitrous oxide, tetapi kami pikir itu mungkin kesalahan," kata Eddie Schwieterman, astrobiologis di Departemen Ilmu Bumi dan Planet UCR.

Kesimpulan ini, dan pekerjaan pemodelan yang mengarah ke sana, dirinci dalam sebuah artikel baru yang telah diterbitkan pada 4 Oktober di The Astrophysical Journal. Makalah tersebut diberi judul Evaluating the Plausible Range of N2O Biosignatures on Exo-Earths: An Integrated Biogeochemical, Photochemical, and Spectral Modeling Approach.


Untuk mencapainya, Schwieterman memimpin tim peneliti yang menentukan berapa banyak nitrogen oksida yang dapat dihasilkan makhluk hidup di planet yang mirip dengan Bumi. Mereka kemudian membuat model yang mensimulasikan planet itu di sekitar berbagai jenis bintang dan menentukan jumlah N2O yang dapat dideteksi oleh observatorium seperti Teleskop Luar Angkasa James Webb.

"Dalam sistem bintang seperti TRAPPIST-1, sistem terdekat dan terbaik untuk mengamati atmosfer planet berbatu, Anda berpotensi mendeteksi nitro oksida pada tingkat yang sebanding dengan CO2 atau metana," kata Schwieterman.

Ada beberapa cara makhluk hidup dapat membuat nitrous oxide, atau N2O. Mikroorganisme secara konstan mengubah senyawa nitrogen lain menjadi N2O, suatu proses metabolisme yang dapat menghasilkan energi seluler yang berguna.

"Kehidupan menghasilkan produk limbah nitrogen yang diubah oleh beberapa mikroorganisme menjadi nitrat. Dalam tangki ikan, nitrat ini menumpuk, itulah sebabnya Anda harus mengganti airnya," kata Schwieterman.

"Namun, di bawah kondisi yang tepat di laut, bakteri tertentu dapat mengubah nitrat tersebut menjadi N2O," tambah Schwieterman. "Gas itu kemudian bocor ke atmosfer."

Dalam keadaan tertentu, N2O dapat dideteksi di atmosfer dan masih belum menunjukkan kehidupan. Tim Schwieterman memperhitungkan hal ini dalam pemodelan mereka. Sejumlah kecil oksida nitrat dibuat oleh petir, misalnya. Tapi di samping N2O, petir juga menciptakan nitrogen dioksida, yang akan memberikan petunjuk kepada ahli astrobiologi bahwa cuaca tak hidup atau proses geologis menciptakan gas tersebut.

Orang lain yang menganggap N2O sebagai gas biosignature sering menyimpulkan bahwa akan sulit dideteksi dari jarak yang begitu jauh. Schwieterman menjelaskan bahwa kesimpulan ini didasarkan pada konsentrasi N2O di atmosfer bumi saat ini. Karena tidak banyak di planet ini, yang penuh dengan kehidupan, beberapa orang percaya itu juga akan sulit dideteksi di tempat lain.

"Kesimpulan ini tidak memperhitungkan periode dalam sejarah Bumi di mana kondisi laut memungkinkan pelepasan N2O secara biologis jauh lebih besar. Kondisi pada periode tersebut mungkin mencerminkan keberadaan planet ekstrasurya saat ini," jelas Schwieterman.

Schwieterman menambahkan bahwa bintang biasa seperti katai K dan M menghasilkan spektrum cahaya yang kurang efektif dalam memecah molekul N2O dibandingkan matahari kita. Kombinasi dua efek ini dapat sangat meningkatkan jumlah prediksi gas biosignature ini di dunia yang berpenghuni.

Tim peneliti percaya saat ini adalah waktu bagi astrobiolog untuk mempertimbangkan gas biosignature alternatif seperti N2O karena teleskop James Webb akan segera mengirimkan informasi tentang atmosfer planet berbatu seperti Bumi dalam sistem TRAPPIST-1.

"Kami ingin mengajukan ide ini untuk menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan gas biosignature ini, jika kita mencarinya," pungkas Schwieterman.

Rahasia Cincin Saturnus


Jika kalian pergi keluar di malam tak berawan, tanpa teleskop kalian bisa melihat hingga lima planet. Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang. Planet-planet tersebut telah menarik perhatian orang selama ribuan tahun, terlebih ketika teleskop telah ditemukan sehingga cincin-cincin Saturnus yang spektakuler untuk pertama kalinya terlihat.

Empat ratus tahun kemudian foto-foto cincin Saturnus yang lebih detil dipotret oleh wahana antariksa Voyager yang mengunjungi planet tersebut pada tahun 1980-an. Foto-foto itu mengungkapkan bahwa sebetulnya Saturnus mempunyai beberapa cincin besar yang tersusun dari miliaran bongkahan es dan batu dengan berbagai ukuran, mulai dari bulir-bulir sebesar debu hingga partikel sebesar gunung.

Kini kita tahu bahwa Saturnus memiliki tujuh cincin besar, yang dipisahkan oleh celah-celah kosong yang disebut ‘divisi’. Tapi, pemahaman kita mengenai cincin Saturnus masih berevolusi. Baru-baru ini sekelompok peneliti berhasil mengukur kecerlangan dan temperatur cincin-cincin Saturnus secara lebih detil daripada sebelum-sebelumnya.

Mereka menemukan bahwa satu cincin tampaknya jauh lebih terang daripada dua cincin sebelahnya saat dilihat dalam citra termal, artinya cincin itu lebih panas. Anehnya, celah bernama ‘Divisi Cassini’ juga bersinar terang dalam citra-citra termal, menunjukkan bahwa celah ini tidak sekadar ruang kosong antar-cincin.

Kita menduga area ini lebih panas karena mengandung lebih sedikit partikel sehingga Matahari lebih mudah memanasi daerah tersebut. Selain itu, partikel-partikel di sana lebih gelap sehingga menyerap lebih banyak panas.

Di pihak lain, Divisi Cassini tampak kosong dalam citra-citra normal sementara cincin-cincin di dekatnya yang mempunyai lebih banyak partikel memantulkan lebih banyak cahaya matahari dan tampak lebih terang.








 

Tuesday, October 4, 2022

Perang Suku dan Praktik Kanibalisme di Pulau Tanna di Vanuatu


Sejak Kepulauan Pasifik ditemukan pertama kali oleh bangsa Eropa, mereka tidak pernah membayangkan hal pelik terjadi di sana. Kepulauan Pasifik yang indah nyatanya menyimpan sejumlah konflik.

"Tempat itu dipenuhi dengan permusuhan di mana perang suku dan praktik kanibalisme banyak terjadi di sana," tulis Debbie Fabb kepada Pilot Guide dalam artikel "An Eye for an Eye: Cannibalism in the Pacific Islands" terbit pada 1 Februari 2022.

Selama awal abad ke-19, jika Anda adalah seorang pelaut yang terdampar di Kepulauan Pasifik, Anda mungkin tidak akan hidup untuk menceritakan kembali betapa payahnya terdampar di sebuah pulau, tetapi Anda akan berakhir di panci masak untuk dihidangkan.

Inilah sebuah pengalaman dari kesaksian bangsa Eropa yang terdampar di kepulauan di Vanuatu. Sebuah praktik kanibalisme yang merajalela di Pulau Tanna di Vanuatu.

Pertempuran antar suku adalah pemandangan yang umum terjadi. Menariknya lagi, setelah menang, mereka akan memakan lawannya. "Intensitas dan signifikansi kanibalisme sangat bervariasi di seluruh pulau di Vanuatu," terangnya.

Namun secara umum, diyakini bahwa dengan memakan potongan tubuh lawannya, hal itu dipercaya akan menyerap beberapa kualitas yang dimiliki lawan perang mereka. Kualitas itu dapat dikatakan seperti keberanian dan kekuatan suku tandingannya.

Lebih penting lagi, dengan memakan daging lawan mereka juga merupakan balas dendam paling memuaskan, terutama terhadap lawan yang paling dibenci. Sebuah kemenangan dari lawan perangnya yang telah melakukan penghinaan besar bagi keluarga mereka.

Para prajurit perang suku, biasanya menyimpan tubuh korban mereka. Hal itu dapat dibayangkan untuk membuat sebuah kalung, jepit rambut atau hiasan daun telinga yang terbuat dari tulang manusia, yang merupakan lawan perangnya.

Atau, "mungkin juga tengkoraknya akan dibuat menjadi sebuah mangkuk minum yang disebut yaqona," imbuhnya. Seluruh prosesi kanibalisme akan dirayakan dengan lagu, tarian dan upacara pengorbanan formal.

Para pria dalam suku pemenang, akan menyanyikan 'cibi' atau tarian kematian, sedangkan para wanita 'dele', akan mempermalukan mayat lawan perangnya secara seksual.

Gordon Frazer, melukiskan perjalanannya ke Vanuatu, tepatnya di Pulau Tanna dengan menggambarkan kondisi kanibalisme di sana. Kala itu, Frazer melakukan perjalanan secara ekstensif ke seluruh Australasia, New Hebrides (Vanuatu), dan Nugini.


Selama kunjungan keduanya ke Pulau Tanna di New Hebrides, dia menyaksikan ritual yang digambarkan di mana dia menulis: "Setelah beberapa orasi yang bersemangat, festival dimulai."

Prosesi itu perlahan-lahan membawa korban mereka ke atas tiang. Dua korban telah disaksikan Frazer, meskipun korban yang akan disantap ada lebih banyak.

Raungan dan ratapan terus terdengar dari semak-semak. "Dimungkinkan datang dari para wanita yang mengeluh atas orang-orang yang terbunuh dari suku mereka sendiri," pungkas Frazer.

Lukisan fenomenal Gordon Frazer akhirnya selesai dibuat. Ia mulai memamerkan lukisannya pada tahun 1895 di sebuah pameran di Liverpool. Ia juga menciptakan sebuah makalah yang merepresentasikan lukisan yang telah dibuatnya.

Fosil Owa Berusia 7,5 Juta Tahun dan Kesenjangan Sejarah Evolusi Kera

Para ahli paleontologi telah menemukan fosil owa paling awal yang berusia sekitar 7,5 juta tahun. Spesies monyet kecil di dunia lama itu hidup di Tiongkok selama zaman Miosen akhir.

Penemuan tersebut telah dideskripsikan dan dilaporkan dalam Journal of Human Evolution baru-baru ini. Publikasi tersebut bisa didapatkan secara daring dengan judul "The earliest hylobatid from the Late Miocene of China."

Spesies owa ini termasuk dalam hylobatids, keluarga kera yang mencakup 20 spesies owa hidup, yang ditemukan di seluruh Asia tropis dari timur laut India hingga Indonesia.

"Sisa-sisa fosil Hylobatid sangat langka, dan sebagian besar spesimen adalah gigi yang terisolasi dan tulang rahang yang terpisah-pisah yang ditemukan di situs gua di Tiongkok selatan dan Asia Tenggara yang berusia tidak lebih dari 2 juta tahun yang lalu," jelas Terry Harrison, seorang profesor antropologi di New York University dan salah satu penulis makalah.

"Temuan baru ini memperluas catatan fosil hylobatid kembali ke 7 hingga 8 juta tahun yang lalu dan, lebih khusus, meningkatkan pemahaman kita tentang evolusi keluarga kera ini."

Fosil yang ditemukan di daerah Yuanmou di Provinsi Yunnan di barat daya Tiongkok ini adalah kera kecil bernama Yuanmoupithecus xiaoyuan.

Yuanmoupithecus xiaoyuan hidup di tempat yang sekarang disebut Yunnan di Tiongkok selatan antara 8,2 dan 7,1 juta tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan pada tahun 2006, termasuk dalam Hylobatidae, keluarga kera yang terdiri dari owa dan siamang yang masih hidup.

Analisis yang melibatkan Xueping Ji dari Kunming Institute of Zoology dan penulis utama studi tersebut, berfokus pada gigi dan spesimen tengkorak Yuanmoupithecus, termasuk rahang atas bayi yang berusia kurang dari 2 tahun saat mati.

Dengan menggunakan ukuran gigi geraham sebagai panduan, para ilmuwan memperkirakan bahwa Yuanmoupithecus memiliki ukuran yang mirip dengan siamang saat ini, dengan berat badan sekitar 6 kilogram, atau sekitar 13 pon.

"Gigi dan wajah bagian bawah Yuanmoupithecus sangat mirip dengan owa modern, tetapi dalam beberapa ciri, spesies fosil lebih primitif dan menunjukkan bahwa dia adalah nenek moyang semua spesies hidup," kata Harrison, bagian dari Pusat NYU untuk Studi Asal Usul Manusia.

Ji menemukan rahang atas bayi selama survei lapangan dan mengidentifikasinya sebagai hylobatid dengan membandingkannya dengan tengkorak owa modern di Institut Zoologi Kunming.

Pada tahun 2018, ia mengundang Harrison dan rekan lainnya untuk mengerjakan spesimen yang disimpan di Institut Relik dan Arkeologi Budaya Yunnan dan Museum Manusia Yuanmou yang telah dikumpulkan selama 30 tahun terakhir.


"Sisa-sisa Yuanmoupithecus sangat langka, tetapi dengan ketekunan dimungkinkan untuk mendapatkan cukup banyak spesimen untuk menetapkan bahwa fosil kera Yuanmou memang kerabat dekat hylobatid yang masih hidup," catat Harrison.

Studi Journal of Human Evolution juga menemukan bahwa Kapi ramnagarensis, yang telah diklaim sebagai spesies hylobatid yang lebih awal, berdasarkan pada fosil geraham tunggal yang diisolasi dari India.

Bagaimanapun juga, itu bukanlah hylobatid, tetapi anggota dari kelompok yang lebih primitif, primata yang tidak berkerabat dekat dengan kera modern.

"Studi genetik menunjukkan bahwa hylobatid menyimpang dari garis keturunan yang mengarah ke kera besar dan manusia sekitar 17 hingga 22 juta tahun yang lalu, jadi masih ada celah 10 juta tahun dalam catatan fosil yang perlu diisi," Harrison memperingatkan.

"Dengan eksplorasi lanjutan situs fosil yang menjanjikan di Tiongkok dan di tempat lain di Asia, diharapkan penemuan tambahan akan membantu mengisi kesenjangan kritis dalam sejarah evolusi hylobatid."

Pertama Ditemukan, Fosil Dinosaurus Dikira Skrotum Manusia Raksasa


Hingga saat ini, sudah lebih dari 700 jenis dinosaurus teridentifikasi dan diberi nama. Sebagian diantaranya merupakan spesimen lengkap yang berasal dari 3 zaman di era mesozoikum, sekitar 230 hingga 65 juta tahun yang lalu.

Tapi apakah Anda tidak penasaran bagaimana sebenarnya dinosaurus pertama kali ditemukan dan bagaimana kemudian makhluk ini disebut dinosaurus?

American Scientist mencatat, bahwa fosil dinosaurus pertama kali ditemukan oleh seorang naturalis yang berasal dari Inggris bernama Robert Plot pada tahun 1677. Naturalis adalah orang yang melakukan penyelidikan terhadap tumbuhan dan hewan.

Robert Plot saat itu adalah direktur pertama Museum Ashmolean di Oxford dalam Natural History of Oxford-shire. Ia menemukan fosil pertama tersebut di desa Cornwell di Oxfordshire.

Namun, pada saat menemukan fosil yang kemudian diketahui adalah tulang paha Megalosaurus tersebut, Plot justru mengira fosil tersebut adalah fosil manusia raksasa.

Plot mendeskripsikan fosil itu dengan sangat bagus, tetapi mengidentifikasinya sebagai tulang paha raksasa manusia.

Plot sebenarnya bukanlah seorang ahli paleontologi -sebutan untuk orang yang mempelajari fosil dan evolusi organisme. Seperti yang kita tahu sekarang bahwa identifikasi sebagian besar dinosaurus dilakukan oleh para ahli paleontologi.


Plot justru lebih dikenal sebagai ahli kimia, ia adalah Profesor Kimia pertama di Oxford University.

Saat menemukan fosil tersebut, Plot tahu bahwa itu adalah tulang paha, namun ia tidak yakin fosil tersebut milik makhluk apa.

Banyak ilmuwan ketika itu meyakininya sebagai tulang gajah raksasa, tapi Plot mendebatnya sebagai tulang manusia raksasa, meski Plot sendiri tidak yakin.

Bahkan ia sendiri sepertinya tidak begitu yakin dengan penemuan tersebut, ia punya teori sendiri terhadap fosil tersebut.

Menurutnya, fosil itu sebagian besar hanyalah hasil kristalisasi dari garam mineral yang kebetulan berbentuk seperti tulang hewan. Ia melihatnya dari kemungkinan reaksi kimia yang mungkin terjadi.


F Naturalis Richard Brookes membalikkan pendapat Plot, dan mencatat kemiripan yang mengejutkan dengan alat kelamin laki-laki.

Tidak dapat diidentifikasikan dengan pasti, fosil tersebut kemudian hanya disimpan di museum hingga 165 tahun. Hingga kemudian tepatnya pada tahun 1842, Sir Richard Owen, Paleontolog terkemuka Inggris menyadari bahwa tulang tersebut bukan berasal dari manusia raksasa ataupun makhluk lainnya yang kita kenal saat ini.

"Tulang yang telah menjadi misteri selama 165 tahun tersebut adalah milik makhluk purbakala yang memiliki filum atau cabang taksonomi tersendiri yang kemudian dinamai filum dinosauria," seperti dituliskan laman history.

"Nama tersebut diambil dari bahasa Yunani dan Latin denon dan sauros yang berarti reptil yang mengerikan,"

Deskripsi tersebut sebenarnya melanjutkan identifikasi yang dilakukan juga oleh William Buckland sebelumnya pada tahun 1824. Buckland adalah seorang profesor geologi pertama di Oxford University dan juga kurator tidak resmi museum Oxford.

Ia menyatakan bahwa tulang temuan Plot tersebut adalah milik makhluk seperti reptil karnivora di zaman prasejarah.

Menurutnya, dalam perjalanannya pada tahun 1815 di Inggris, ia menemukan jenis tulang yang sama dengan yang telah ditemukan Plot di lebih dari 100 tahun sebelumnya.

Meski saat itu fosil itu dianggap tulang manusia raksasa, keyakinan Plot bahwa sebagian besar fosil itu hanyalah kristalisasi garam mineral, bahkan membuatnya tidak benar-benar diyakini sebagai fosil.

Notochen bannockburnensis, Angsa Purba yang Ditemukan di Selandia Baru


Ahli paleontologi telah menemukan fosil yang diyakini milik spesies angsa tertua di Belahan Bumi Selatan. Fosil angsa purba itu ditemukan di dekat kota perburuan emas Otago di Saint Bathans.

Spesies burung yang baru diidentifikasi ini diketahui milik Anatidae, keluarga burung air yang mencakup bebek, angsa leher pendek dan angsa. Fosil tersebut dinamakan angsa Bannockburn, Notochen bannockburnensis.

Angsa purba ini hidup antara 16 dan 19 juta tahun yang lalu (zaman Miosen awal) di Danau Manuherikia, sebuah danau besar yang menutupi sebagian besar Otago Tengah modern.

Para ilmuwan dari Selandia Baru dan Australia telah mendeskripsikan angsa itu dari fosil tulang sayap. Tulang tersebut terawetkan di dekat Saint Bathans di lapisan lumpur prasejarah yang disebut formasi Bannockburn.

Meskipun kerusakan pada tulang sayap membuat penentuan ukuran yang tepat menjadi sulit. Itu mungkin sedikit lebih besar dari angsa hitam yang sekarang umum di Aotearoa Selandia Baru.

Temuan ini telah dijelaskan di jurnal Zootaxa dengan judul "A swan-sized fossil anatid (Aves: Anatidae) from the early Miocene St Bathans Fauna of New Zealand."


Penulis utama makalah Trevor Worthy, dari Flinders University di Adelaide, mengatakan bentuk tulang sayap dan ukurannya yang besar menunjukkan itu milik angsa prasejarah.

"Tulang ini agak rusak tapi jelas milik anggota kelompok unggas air angsa dan angsa," kata Worthy.

"Kami tidak dapat mengatakan dengan pasti jenis unggas air raksasa seperti apa burung ini, tapi kami pikir kemungkinan besar adalah angsa, itulah sebabnya kami menyebutnya angsa Bannockburn."

Morfologi dan ukurannya menunjukkan bahwa takson ini mewakili angsa awal daripada angsa modern saat ini. Anserine yang masih ada dibagi menjadi klad Belahan Bumi Utara dan Selatan.

Fauna St Bathans diketahui memiliki anserin tertua di belahan bumi selatan, cereopsines yang tidak disebutkan namanya mungkin nenek moyang spesies Cnemiornis (angsa Selandia Baru).

Anserin merupakan spesies angsa yang memiliki ukuran tubuh cukup besar. Ukuran populasi yang dimiliki unggas ini pun sangat besar.

Genus anserine termasuk angsa abu-abu dan angsa putih. Itu termasuk dalam subfamili angsa berleher pendek dan angsa sejati. Genus ini memiliki distribusi Holarctic, dengan setidaknya satu spesies berkembang biak di habitat terbuka dan basah di subarctic dan daerah beriklim sejuk di Belahan Bumi Utara di musim panas.


Seperti angsa hari ini, ia akan mencari makan di dalam air, tetapi juga mungkin menghabiskan sebagian waktunya untuk merumput di darat.

"Saat ini, satu-satunya angsa asli di belahan bumi selatan adalah angsa hitam Australasia (Cygnus atratus) dan angsa Coscoroba (Coscoroba coscoroba) dari Amerika Selatan, kerabat terdekat angsa Bannockburn yang masih hidup," kata Worthy.

"Burung-burung ini terpisah dari angsa Belahan Bumi Utara."

Menurut peneliti, ini adalah takson langka dan anatid kedelapan diwakili dalam fauna dan merupakan anseriform terbesar yang diketahui dari Oligo-Miosen Australasia.

Kurator Senior Sejarah Alam Museum Canterbury Dr Paul Scofield mengatakan penemuan angsa Bannockburn memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana unggas air berevolusi.

"Angsa ini dan angsa leher pendek mirip angsa lainnya yang kami temukan di St Bathans adalah anggota tertua dari keluarga Anserinae, yang terdiri dari angsa dan angsa berleher pendek, yang ditemukan di belahan bumi selatan," katanya.

"Mereka menunjukkan sejarah panjang kelompok di belahan selatan dunia. Ini adalah contoh lain dari penemuan dari St Bathans yang membantu kita memahami evolusi burung."

Monday, October 3, 2022

Analisis Baru Mengubah Gagasan Bahwa Dinosaurus Menyukai Iklim Hangat


Banyak dari kita tahu teori konvensional tentang bagaimana dinosaurus mati 66 juta tahun yang lalu, ketika meteor menghantam Bumi, dan menyebabkan atmosfer tertutup kabut hingga menyebabkan musim dingin global. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa ada kepunahan sebelumnya, jauh lebih misterius dan jarang dibahas, yaitu 202 juta tahun lalu.

Ketika itu, peristiwa kepunahan membunuh reptil besar yang menguasai Bumi ketika itu dan tampaknya membuka jalan bagi dinosaurus untuk mengambil alih. Kepunahan itu disebut Kepunahan Trias-Jurassic, yang menimbulkan pertanyaan mengapa dinosaurus berkembang pesat ketika makhluk lain mati?

Kita tahu bahwa dunia panas dan lebih lembab selama Periode Trias, yang mendahului kepunahan, dan selama Jurassic berikutnya, yang memulai zaman dinosaurus. Namun, studi baru mengubah gagasan tentang dinosaurus yang menyukai iklim hangat itu.

Laporan studi ini telah dipublikasikan di jurnal akses terbuka Science Advances dengan judul "Arctic ice and the ecological rise of the dinosaurs" baru-baru ini.

Analisis baru itu menyajikan bukti fisik pertama bahwa spesies dinosaurus Trias, kemudian kelompok kecil yang sebagian besar terdegradasi ke daerah kutub, secara teratur mengalami kondisi beku saat itu. Indikator-indikatornya adalah jejak kaki dinosaurus bersama dengan pecahan batu aneh yang hanya bisa diendapkan oleh es.

Penulis penelitian mengatakan bahwa selama kepunahan, serangan dingin yang sudah terjadi di kutub menyebar ke garis lintang yang lebih rendah, membunuh reptil berdarah dingin. Dinosaurus, yang sudah beradaptasi, selamat dari kemacetan evolusi, menyebar dan setelah seperti sejarah yang kita ketahui.

"Dinosaurus ada di sana selama Trias di bawah radar sepanjang waktu," kata Paul Olsen, ahli geologi di Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University, dan penulis utama studi tersebut dalam rilis media.

"Kunci dominasi mereka pada akhirnya sangat sederhana. Mereka pada dasarnya adalah hewan yang beradaptasi dengan dingin. Ketika cuaca dingin di mana-mana, mereka siap, dan hewan lain tidak."


Seperti diketahui, dinosaurus diperkirakan pertama kali muncul selama Periode Trias di lintang selatan beriklim sedang sekitar 231 juta tahun yang lalu, ketika sebagian besar daratan planet ini bergabung bersama dalam satu benua raksasa yang disebut oleh para ahli geologi Pangaea.

Mereka berhasil mencapai ujung utara sekitar 214 juta tahun yang lalu. Hingga kepunahan massal pada 202 juta tahun, wilayah tropis dan subtropis yang lebih luas di antaranya didominasi oleh reptil termasuk kerabat buaya dan makhluk menakutkan lainnya.

Selama Trias, dan untuk sebagian besar Jurassic, konsentrasi atmosfer karbon dioksida berkisar pada atau di atas 2000 bagian per juta (lima kali tingkat saat ini) jadi suhu pasti sangat tinggi. Saat itu tidak ada bukti adanya lapisan es di kutub, dan penggalian menunjukkan bahwa hutan gugur tumbuh di daerah kutub.

Namun, beberapa model iklim menunjukkan bahwa garis lintang tinggi terkadang dingin, bahkan dengan semua karbondioksida itu, mereka akan menerima sedikit sinar matahari sepanjang tahun, dan suhu akan menurun setidaknya secara musiman. Namun hingga saat ini, belum ada yang menunjukkan bukti fisik bahwa mereka membeku.

Pada akhir Trias, periode geologis singkat mungkin satu juta tahun melihat kepunahan lebih dari tiga perempat dari semua spesies darat dan laut di planet ini. Beberapa hewan yang hidup di liang, seperti kura-kura, berhasil melewatinya, seperti yang dilakukan beberapa mamalia awal.

Tidak jelas persis apa yang terjadi, tetapi banyak ilmuwan menghubungkannya dengan serangkaian letusan gunung berapi besar yang bisa berlangsung ratusan tahun berturut-turut. Pada saat ini, Pangaea mulai terbelah, membuka apa yang sekarang menjadi Samudra Atlantik, dan memisahkan apa yang sekarang menjadi Amerika dari Eropa, Afrika, dan Asia.


Sementara letusan akan menyebabkan karbon dioksida atmosfer meroket melampaui tingkat yang sudah tinggi, menyebabkan lonjakan suhu yang mematikan di darat, dan mengubah air laut terlalu asam bagi banyak makhluk untuk bertahan hidup.

Para peneliti mengutip faktor ketiga, selama fase letusan paling ganas, mereka akan menyemburkan aerosol belerang yang membelokkan begitu banyak sinar matahari dan menyebabkan musim dingin vulkanik global berulang yang mengalahkan tingkat gas rumah kaca yang tinggi. Musim dingin mungkin telah berlangsung selama satu dekade atau lebih, membunuh reptil yang tidak memiliki penghangat, tetapi dinosaurus yang beradaptasi dengan dingin dan dapat bertahan.

Para peneliti menemukan bukti batu pasir berbutir halus dari sedimen formasi di dasar danau purba yang dangkal di Cekungan Junggar. Sedimen terbentuk 206 juta tahun yang lalu selama Trias akhir, melalui kepunahan massal dan seterusnya

Bukti dinosaurus dapat beradaptasi telah diketahui sejak tahun 1990-an bahwa banyak jika tidak semua dinosaurus non-unggas termasuk tyrannosaurus memiliki bulu primitif. Jika bukan untuk penerbangan, beberapa penutup bisa digunakan untuk tujuan tampilan kawin, tetapi para peneliti mengatakan tujuan utama mereka adalah sebagai penghangat.

Ada juga bukti bagus bahwa, tidak seperti reptil berdarah dingin, banyak dinosaurus memiliki sistem metabolisme tinggi dan berdarah panas. Kedua kualitas akan membantu dinosaurus dalam kondisi dingin.

Olsen mengatakan, langkah selanjutnya untuk lebih memahami periode ini adalah lebih banyak peneliti mencari fosil di bekas daerah kutub seperti Cekungan Junggar.

Sunday, October 2, 2022

Vespasianus, Kaisar Romawi nan Jenaka yang Menarik Pajak Urine


 Vespasianus, kaisar keenam Romawi, terkenal akan kejenakaannya. Bahkan di saat sedang sekarat pun, ia berkelakar: “Sialan, aku takut berubah jadi dewa!” Ini mengacu pada Julius Caesar yang diberi gelar divus Iulius atau Julius sang Allah setelah meninggal. Sebagai anak pemungut cukai, ia piawai dalam menghasilkan uang. Vespasianus, kaisar Romawi nan jenaka ini menarik pajak urine selama ia memimpin.

Vespasianus juga memulihkan ketertiban Romawi. “Ia mengembalikan stabilitas ke kekaisaran yang sempat ‘berantakan’ selama kepemimpinan pendahulunya, Nero,” tulis Peter Preskar di History of Yesterday.

Vespasianus memiliki karir politik yang sangat terkenal. Bukan berasal dari keluarga penting, ia pernah menjabat sebagai jenderal dan administrator di seluruh kekaisaran. Ini termasuk wilayah Kekaisaran Romawi di Inggris Raya, Yunani, Afrika Utara, Roma, dan Yudea.

Setelah Kaisar Nero bunuh diri pada tahun 68 Masehi, Vespasianus memenangkan perang saudara pada tahun 69. “Ini adalah tahun yang dikenal juga sebagai Tahun Empat Kaisar,” Preskar menambahkan. Antara bulan Juni 68 hingga Desember 69 ada 3 kaisar yang menjabat, sampai akhirnya kekuasaan itu jatuh ke tangan Vespasianus.

Bagi seseorang yang tidak memiliki ambisi politik, bisa menjadi seorang kaisar merupakan pencapaian yang luar biasa. Konon, sang Ibulah yang memaksanya untuk melamar jabatan publik dan akhirnya terjun ke dunia politik.

Selain mengembalikan stabilitas di kekaisaran, Vespasianus meninggalkan warisan yang masih dinikmati masyarakat modern: Colosseum.

Karier politik yang mencengangkan

Vespasianus tidak tertarik pada karier politik. Namun ia terpaksa melakukannya karena sang Ibu mendorongnya untuk melamar berbagai posisi administratif atau militer.

Lain halnya dengan kakak laki-lakinya, Titus Flavius Sabinus. Kebalikan dari Vespasianus, ia adalah seseorang yang ambisius dan sukses. Titus memegang banyak jabatan penting, mulai dari konsul dan prefek kota hingga menjadi gubernur provinsi dan utusan militer.

“Hampir selama hidupnya, ia berada di dalam bayang-bayang kakak laki-lakinya itu,” ungkap Preskar.

Ia pun berusaha tampil beda dengan sang Kakak. Vespasianus menjadi komandan Legio II Augusta selama invasi Inggris pada 43 Masehi. Sayangnya, ia melakukan kesalahan bodoh yang menyabotase karier politiknya.

Kaisar Nero, yang menganggap dirinya seorang seniman ulung, memulai tur ke Yunani. Di sana ia menghibur penonton dengan memainkan kecapi dan bernyanyi.

Dalam salah satu pertunjukan Nero, Vespasianus tertidur. Kecerobohannya itu diketahui Nero dan hampir membuatnya dieksekusi. Vespasianus meninggalkan istana Nero dan bersembunyi di kampung halamannya, menjalankan bisnis perdagangan.

Pada tahun 66 Masehi, orang-orang Yahudi di Yudea memberontak. Sejak Nero memenggal jenderalnya yang paling kompeten, Corbulo, dia sangat membutuhkan penggantinya.

Vespasianus memiliki reputasi militer yang baik dan sudah berusia lima puluh tujuh tahun saat itu. Di usianya yang tidak muda lagi, Nero tidak menganggapnya sebagai ancaman bagi pemerintahan. Vespasianus dan pasukan pun dikirim untuk menekan pemberontakan.

Vespasianus dan putranya Titus menekan pemberontakan Yahudi menggunakan kekerasan dan keunggulan teknologi tentara Romawi. Pengepungan Masada adalah salah satu contoh luar biasa di mana orang Romawi menghancurkan oposisi mereka.

Bahkan sebelum Yerusalem direbut kembali, perang saudara, yang dikenal sebagai Tahun Empat Kaisar, pecah. Nero terpaksa bunuh diri pada tahun 68.

Melewati serangkaian peristiwa penting dan atas desakan putranya Titus dan kawan-kawan, Vespasianus menduduki takhta. Pria yang awalnya tidak memiliki ambisi politik akhirnya menjadi kaisar Romawi pada tahun 69 Masehi.

Kaisar nan jenaka

Vespasianus dikenal sebagai pria dengan selera humor yang tinggi. Begitu dia menyadari bahwa ia sedang sekarat, sang Kaisar berkata: "Sialan, aku takut jika aku berubah menjadi dewa."

Lelucon dilontarkan pada berbagai kesempatan. Seperti ketika ia kembali setelah tinggal di timur selama setahun setelah perang saudara. Saat itu, Domitian putra bungsunya mengurus pengangkatan orang untuk mengisi posisi penting pemerintahan.


Untuk itu, Vespasianus menulis surat kepadanya: “Aku berterima kasih, Nak, karena diizinkan untuk tetap memegang jabatan. Dan engkau tidak mencopot jabatanku.”

Pada suatu kesempatan, seorang wanita datang ke Vespasianus dan mengaku sangat mencintainya. Setelah menghabiskan malam bersamanya, Vespasianus memberinya 4.000 koin emas. Ketika akuntannya bertanya kepadanya, bagaimana dia harus melacak pengeluarannya, Vespasianus menjawab: “Tulis saja untuk memenuhi gairah Vespasianus”.

Untuk mengisi kembali perbendaharaan yang kosong, Vespasianus menarik pajak untuk semua hal termasuk urine. Titus, putra dan pewarisnya, mengeluh tentang bagaimana sang Ayah bisa begitu rendah memungut pajak bahkan urine.

Sebagai tanggapan, Vespasianus mengambil salah satu koin dan memintanya untuk mengendus aromanya. Ketika Titus menjawab tidak berbau sama sekali, Vespasianus berkata kepada putranya: “Namun, itu berasal dari urine.”

Percakapan ini akhirnya berkembang menjadi frasa “pecunia non olet”, yang dalam bahasa Latin berarti uang tidak berbau.

Kaisar Romawi yang sukses

Vespasianus menjadi kaisar pada usia enam puluh. Ia memerintah selama sepuluh tahun sampai kematiannya pada tahun 79 M.

Vespasianus berhasil memulihkan ketertiban di kekaisaran dan mengisi perbendaharaan kekaisaran. Sebagai anak seorang pemungut cukai, ia memiliki bakat untuk mendapatkan uang. Pajak urine yang terkenal adalah bukti dari keahliannya dalam menghasilkan uang.

Dengan penjarahan dari Yudea, Vespasianus memulai proyek pembangunan ambisius, termasuk Colosseum, amfiteater terbesar di dunia.

Selama ini, putranya, Titus, memainkan peran penting. Mula-mula sebagai seorang jenderal yang menghabisi orang-orang Yahudi di Yudea. Lalu kemudian sebagai prefek Praetorian, komandan Pengawal Praetorian yang terkenal kejam.

Sebagai prefek Praetorian, Titus melakukan semua pekerjaan kotor. “Misalnya membunuh lawan Vespasianus, sedangkan citra Vespasianus tetap bersih,” Preskar menuturkan.

Pada tanggal 28 Juni 79, Vespasianus mengalami serangan diare besar-besaran. Dia meminta pengawalnya untuk membantunya berdiri, mengatakan seorang kaisar harus mati berdiri. Dia meninggal saat mencoba bangun.

Sangat jarang seorang kaisar Romawi meninggal karena sebab alami. Serangan militer bertubi-tubi atau persaingan ketat biasanya menjadi penyebab kematian kaisar Romawi. Oleh karena itu, penyebab kematian Vespasianus adalah bukti lain dari pemerintahan yang sukses. Ia meninggal karena sebab alami yaitu sakit.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Romawi, seorang kaisar Romawi digantikan oleh putra kandungnya sendiri. Putra tertua Vespasianus, Titus, menjadi seorang kaisar.

Setelah pemerintahannya yang singkat namun sukses (79-81 Masehi), adik Titus, Domitianus, mengambil alih. Pemerintahan Domitianus (81-96 Masehi) penuh dengan kekurangan dan berakhir dengan pembunuhannya.

Tampaknya individu yang tidak haus kekuasaan pun bisa jadi penguasa terbaik. Tentu saja, kita bisa melihat contoh dari Vespasianus.

Sayangnya, Vespasianus tidak mendapatkan pujian yang cukup untuk menetapkan dasar-dasar zaman keemasan kekaisaran Romawi.
 

Ilmuwan Pelajari Sejarah Black Death, Pandemi Purba Terbesar di Eropa

Black Death, pandemi terbesar dalam sejarah umat manusia yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan berlangsung di Eropa antara tahun 1346 dan 1353.

Terlepas dari dampak demografi dan sosial pandemi yang sangat besar, asal-usulnya telah lama sulit dipahami. Namun kini, tim ilmuwan termasuk peneliti dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Universitas Tübingen di Jerman, dan Universitas Stirling di Inggris, telah memperoleh dan mempelajari genom Y. pestis kuno yang melacak asal-usul pandemi ke Asia Tengah.

Pada tahun 1347, wabah pertama kali memasuki Mediterania melalui kapal dagang yang mengangkut barang dari wilayah Golden Horde di Laut Hitam. Penyakit ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa, Timur Tengah dan Afrika utara yang merenggut hingga 60 persen populasi dalam wabah skala besar yang dikenal sebagai Black Death. Gelombang pertama ini semakin meluas menjadi pandemi selama 500 tahun, yang disebut Pandemi Wabah Kedua, yang berlangsung hingga awal abad ke-19.

Asal-usul Pandemi Wabah Kedua telah lama diperdebatkan. Salah satu teori yang paling populer telah mendukung sumbernya di Asia Timur, khususnya di Cina. Sebaliknya, satu-satunya temuan arkeologi yang sejauh ini tersedia berasal dari Asia Tengah, dekat Danau Issyk Kul, di tempat yang sekarang disebut Kirgistan.

Temuan ini menunjukkan bahwa epidemi menghancurkan komunitas perdagangan lokal pada tahun 1338 dan 1339. Secara khusus, penggalian yang terjadi hampir 140 tahun yang lalu mengungkapkan batu nisan yang menunjukkan bahwa individu meninggal pada tahun-tahun epidemi yang tidak diketahui atau "wabah". Sejak penemuan pertama mereka, batu nisan bertuliskan bahasa Syriac, telah menjadi landasan kontroversi di antara para sarjana mengenai relevansinya dengan Black Death di Eropa.

Dalam studi ini, tim peneliti internasional menganalisis DNA purba dari sisa-sisa manusia serta data historis dan arkeologis dari dua situs yang ditemukan mengandung prasasti "sampar". Hasil pertama tim sangat menggembirakan, karena DNA dari bakteri pes, Yersinia pestis, diidentifikasi pada individu dengan tahun 1338 tertulis di batu nisan mereka.

"Kami akhirnya dapat menunjukkan bahwa epidemi yang disebutkan di batu nisan itu memang disebabkan oleh wabah," kata Phil Slavin, salah satu penulis senior studi dan sejarawan di University of Sterling, Inggris. Hasil kajiannya telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 15 Juni 2022 dengan judul The source of the Black Death in fourteenth-century central Eurasia.

Tapi mungkinkah ini asal mula Black Death? Para peneliti sebelumnya telah mengaitkan inisiasi Black Death dengan diversifikasi besar-besaran strain wabah, yang disebut peristiwa Big Bang Keragaman Wabah. Tetapi tanggal pasti dari peristiwa ini tidak dapat diperkirakan secara tepat, dan diperkirakan terjadi antara abad ke-10 dan ke-14.

Tim peneliti saat ini sedang mengumpulkan genom wabah purba lengkap dari situs di Kirgistan dan menyelidiki bagaimana mereka mungkin berhubungan dengan peristiwa Big Bang ini.

"Kami menemukan bahwa galur purba dari Kirgistan diposisikan tepat di simpul peristiwa diversifikasi besar-besaran ini. Dengan kata lain, kami menemukan galur sumber Black Death dan kami bahkan tahu tanggal pastinya [berarti tahun 1338]," kata Maria Spyrou , penulis utama dan peneliti di Universitas Tübingen.

Tapi dari mana ketegangan ini berasal? Apakah itu berkembang secara lokal atau menyebar di wilayah ini dari tempat lain? Wabah bukanlah penyakit manusia; bakteri bertahan dalam populasi hewan pengerat liar di seluruh dunia, yang disebut reservoir wabah. Oleh karena itu, strain Asia Tengah kuno yang menyebabkan epidemi 1338-1339 di sekitar Danau Issyk Kul pasti berasal dari salah satu reservoir tersebut.

"Kami menemukan bahwa galur modern yang paling dekat hubungannya dengan galur purba saat ini ditemukan di reservoir wabah di sekitar pegunungan Tian Shan, sangat dekat dengan tempat galur purba ditemukan. Ini menunjuk pada asal mula nenek moyang Black Death di Asia Tengah," jelas Johannes Krause, penulis senior studi dan direktur di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusioner.

Studi ini menunjukkan bagaimana penyelidikan konteks arkeologi yang terdefinisi dengan baik, dan kolaborasi erat antara sejarawan, arkeolog, dan ahli genetika dapat memecahkan misteri besar masa lalu kita, seperti asal-usul Black Death yang terkenal, dengan ketepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saturday, October 1, 2022

Apakah Suku Pejuang Wanita Amazon nan Ganas Benar-benar Nyata?

Sejak lama, pejuang wanita dari suku Amazon dianggap murni sebagai mitos. Namun apakah ada legenda di balik mitos tersebut?

Siapakah wanita terkenal yang diduga memotong payudara, hidup tanpa pria, dan bertempur dengan ganas?

Amazon selalu diselimuti mitos dan misteri. “Interpretasi modern menempatkan mereka di garis depan budaya populer dengan film-film seperti Wonder Woman dari DC Comic,” ungkap Danielle Mackay dilansir dari laman The Collector. Tetapi apakah para wanita pejuang Amazon kuno seperti interpretasi modern ini? Atau apakah mereka hanya suku wanita Scythian, seperti yang diungkapkan oleh Herodotus?

Pejuang wanita dari suku Amazon kuno, legenda atau sebuah kenyataan di dunia nyata?

Selama berabad-abad, para peneliti percaya bahwa suku Amazon hanya legenda dan mitologi belaka. Namun, orang Yunani Kuno percaya bahwa ras wanita pejuang ini ada di suatu negeri yang jauh.

Mackay menuturkan, ”Bagi orang Yunani, mereka adalah wanita menakutkan yang membenci atau bahkan membunuh pria.”

Keyakinan ini dibuktikan dalam berbagai nama yang diberikan kepada wanita pejuang Amazon oleh sumber-sumber kuno. Di antara nama-nama ini adalah Androktones (pembunuh manusia) dan Androleteirai (penghancur manusia), atau Styganor (mereka yang membenci semua manusia).

Namun nama 'Amazon' juga bisa berasal dari bahasa Yunani (tanpa payudara). Diperkirakan bahwa penggunaan nama itu mengarah pada mitos suku Amazon di mana para pejuang wanitanya memotong payudara. Ini dilakukan agar mereka dapat menggunakan busur dengan baik.

Dalam mitologi Yunani, suku pejuang kejam dan pembunuh sadis ini dipercaya sebagai putri Ares, dewa perang. Amazonomachy, pertempuran mitologi antara orang Yunani dan Amazon, mengisahkan pahlawan Yunani ditugaskan untuk mengalahkan ratu dan prajurit Amazon.

Suku Amazon versi Herodotus

Legenda menggambarkan suku Amazon sebagai ras menakutkan yang membunuh pria, namun apakah deskripsi ini didasarkan pada bukti sejarah?

“Dari Herodotus, kita menemukan bukti sastra kuno yang paling meyakinkan tentang keberadaan suku wanita pejuang,” Mackay mengungkapkan.

Menurut sejarawan itu, setelah Yunani berhasil mengalahkan suku Amazon dalam pertempuran, para wanita ditawan dan ditempatkan di tiga kapal. Para tawanan tersebut mampu mengalahkan awak kapal ini dan berhasil menguasai kapal.

Namun kapal kandas di danau Maiotian karena para wanita yang tinggal di darat itu tidak memiliki keahlian soal kapal. Dari sana, wanita Amazon berkelana ke pedalaman dan menemukan kawanan kuda yang dengan cepat mereka jinakkan. Menunggangi kuda, para pejuang wanita itu menyerang dan menjarah penduduk Scythian.

Prajurit wanita Scythian

Scythian sendiri adalah suku nomaden yang berlatih perang berkuda. Pada awalnya, mereka tidak dapat memahami bahasa perampok dan mengira penyerangnya adalah laki-laki. Hanya setelah pertempuran mereka menemukan bahwa perampok Amazon itu adalah laki-laki.

Memutuskan untuk menghentikan pertumpahan darah antara dua suku, Scythian memutuskan untuk mengintegrasikan para wanita ke dalam suku mereka. Mereka mengirim satu detasemen pemuda untuk mendirikan kamp di dekat permukiman suku Amazon.

Ketika orang-orang Amazon menyadari bahwa perkemahan para pemuda tidak membahayakan, mereka membiarkannya. Tidak menunggu lama, pria dari suku Scythian pun menikahi wanita Amazon. Karena para pria tidak dapat memahami bahasa Amazon, para pejuang wanita segera mempelajari bahasa Scythian.

“Para pria mendesak Amazon untuk bergabung dengan mereka dengan Scythian lainnya, tetapi para wanita menolak,” tambah Mackay. Suku Amazon tidak mempelajari pekerjaan wanita melainkan menunggang kuda dan menembakkan busur.

Hal ini, kata mereka, tidak memungkinkan mereka untuk hidup rukun dengan wanita lain dari suku tersebut. Jadi orang Amazon meminta dari suami baru mereka agar mereka kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang mereka. Bersama-sama, orang-orang Amazon dan Scythian muda berangkat untuk membentuk suku nomaden baru, terpisah dari Scythian. Menurut Herodotus, orang-orang Sauromatae adalah keturunan pria Scythian dan Amazon.

Apakah ada bukti arkeologi yang tertinggal dari suku Amazon?

Meskipun Herodotus meninggalkan kisah tentang asal-usul Amazon, kita membutuhkan bukti fisik. Banyak ahli setuju bahwa akun Herodotus berbatasan dengan fiktif karena ia sering melaporkan cerita meragukan yang didengar selama perjalanannya. Baru setelah ditemukannya bukti arkeologis, kebenaran apa pun dapat dikaitkan dengan narasi Herodotus.

Pada tahun 1940-an, penggalian permakaman Scythian di wilayah Kaukasus menemukan sisa-sisa manusia purba. Para arkeolog pertama-tama percaya bahwa sisa-sisa ini milik laki-laki. “Tetapi DNA membuktikan bahwa sisa-sisa dari 300 kerangka itu, pada kenyataannya, adalah perempuan,” tambah Mackay.

Para wanita prajurit Scythian ini dikuburkan dengan kuda, anak panah, busur, kapak, dan tombak mereka. Selanjutnya, sepertiga wanita Scythian yang ditemukan di situs permakaman hingga saat ini dikuburkan dengan persenjataan mereka.

Sejak penemuan bukti pejuang wanita Scythian pada tahun 1940-an, para arkeolog telah berhasil menemukan situs permakaman di seluruh wilayah Kaukasus. Pada 2019, gundukan pemakaman berisi sisa-sisa empat wanita Scythian ditemukan di Rusia Barat. Usia para wanita berkisar antara 13 tahun hingga akhir 40-an. Sisa-sisa itu sendiri berumur sekitar 2.300 tahun.

Masing-masing wanita ini dikuburkan bersama dengan senjata mereka dan bukti menunjukkan bahwa mereka menerima penguburan yang sama dengan pria. Kerangka wanita Scythian tertua sepenuhnya utuh dengan kepalanya masih dihiasi dengan hiasan kepala seremonial atau calathos.

Kesalahpahaman tentang suku Amazon yang diciptakan oleh bangsa Yunani kuno

Arkeologi telah berhasil membuktikan bahwa wanita pejuang Scythian memang ada di daerah yang dijelaskan oleh Herodotus. Di sisi lain, arkeologi juga memberikan bukti untuk menyangkal banyak kesalahpahaman tentang Amazon.

Mitos yang beredar tentang suku Amazon adalah bahwa mereka adalah pembunuh manusia. Keyakinan ini berasal dari inti masyarakat Yunani kuno. Bagi orang Yunani, wanita-wanita ini liar. Ketakutan akan hal yang tidak diketahui dan wanita yang tidak dapat dikendalikan menyebabkan suku Amazon menjadi objek fantasi orang Yunani kuno.

Mitologi Yunani menempatkan pejuang wanita Amazon ke dalam narasi di mana mereka dikalahkan dan ‘dijinakkan’ oleh seorang pahlawan Yunani.

Gagasan bahwa wanita Amazon memotong salah satu payudara mereka untuk menggunakan busur mereka dengan lebih baik juga telah dibantah. Arkeologi menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan seperti itu yang terjadi. Lagi-lagi mitos ini disebarkan oleh orang Yunani kuno.

Dengan memotong salah satu payudara, wanita Amazon secara fisik akan menghapus peluang mereka untuk menjadi seorang ibu. Gagasan bahwa wanita pejuang Amazon melepaskan peran sebagai ibu demi menjadi pejuang adalah kesalahan lain. Arkeologi telah memberikan bukti bahwa banyak pejuang wanita Scythian dikuburkan dengan bayi atau anak-anak dan senjata.

Pejuang wanita dari suku Amazon memikat imajinasi orang selama ribuan tahun. Bahkan di zaman modern, suku ini semakin terkenal berkat film Wonder Woman.

Dalam mitos, mereka melambangkan kesetaraan wanita dengan pejuang pria, ini mewakili gaya hidup di luar ekspektasi masyarakat. Bukti arkeologis yang mendukung keberadaan pejuang wanita Scythian mengungkapkan bahwa bagian penting dari apa yang dulu kita anggap sebagai mitos bisa menjadi kenyataan.