Agen bola Piala Dunia

Silakan Hubungi Cs kami untuk informasi lebih lanjut.

SELAMAT DATANG DI BLOG PREDIKSI CERIA4D

Blog Prediksi Resmi dari BO CERIA4D

Lomba Tebak 3D -2Line Bersama CERIA4D

bagi yang ingin mengikuti Silakan bergabung di Group Facebook kami "DONATAN4D Agent Togel Terpercaya"

Link WAP Donatan4D

Kini Hadir Versi Handphone Untuk memudahkan Para Member melakukan Betting dimana saja dan kapan saja.

Donatan4D bandar Togel Online Terpercaya

Silakan Hubungi Kami melalui Kontak di Atas

Friday, October 14, 2022

Hewan Laut Berjatuhan dari Langit Tiongkok, Mengapa Itu Bisa Terjadi?

Minggu lalu, kota pesisir Qingdao di Tiongkok Timur mengalami badai besar. Fenomena tersebut dilengkapi dengan jatuhnya beberapa hewan laut dari langit -- bersamaan dengan angin dan hujan lebat.

Penduduk Tiongkok mengabadikan peristiwa ‘hujan hewan laut’ itu melalui foto, lalu mengunggahnya di media sosial. Di antara makhluk laut yang berjatuhan, terdapat udang hingga bintang laut. Dari foto-foto yang beredar, mereka terlihat melayang di udara sebelum menghantam jendela mobil penduduk.

Meskipun bukan pertama kalinya, namun jatuhnya hewan-hewan dari langit, merupakan fenomena langka. Ilmuwan pun belum memiliki bukti langsung terkait penyebabnya. Namun, ada beberapa hipotesis yang bisa menjelaskan hal tersebut.

Sederhananya, hujan terjadi ketika air menguap dari permukaan Bumi, lalu mendingin dan mengembun di atmosfer hingga akhirnya turun kembali. Namun, hewan apa pun terlalu berat untuk diangkat ke langit jika mengikuti proses tersebut.

Oleh karena itu, peneliti mengutarakan penyebab yang lebih ekstrem seperti tornado. Selain itu, hujan hewan laut ini juga diduga melibatkan puting beliung – angin berputar dengan kecepatan lebih dari 63 kilometer/jam.

“Sama seperti tornado, puting beliung dewasa terdiri dari pusaran bertekanan rendah yang dikelilingi oleh corong berputar dan arus naik. Pusat pusaran dari badai ini cukup kuat untuk menghisap udara, air, hingga benda-benda di sekitarnya,” jelas sebuah tulisan di US Library of Congress.

Meskipun cukup masuk akal secara ilmiah, namun belum ada bukti langsungnya. Beberapa peneliti bahkan mengatakan kita tidak memerlukan puting beliung, cukup hembusan angin yang kuat untuk mengangkat hewan laut kecil lalu menerbangkannya bersama badai.

Terkait hujan hewan laut di Qingdao, ada spekulasi bahwa fenomena itu terjadi akibat angin kencang yang menyapu pasar ikan, lalu membuatnya tersebar di jalanan.

Qingdao sendiri memang dihantam badai minggu lalu, menyebabkan banjir dan merusak beberapa infrastruktur di kota tersebut. The Qingdao National Meteorological Station menyatakan, angin bertiup 34,8 meter per detik dengan badai berkekuatan 12 sesuai skala Beaufort. 


 

Thursday, October 13, 2022

Bagaimana Transformasi Perbudakan setelah Jatuhnya Kekaisaran Romawi?


Antara abad ke-3 dan ke-6, otoritas politik Kekaisaran Romawi di Barat mulai melemah dan akhirnya jatuh. Setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat, muncul kerajaan-kerajaan kecil di bekas wilayah taklukan Romawi yang dikuasai oleh suku barbar. Seperti yang sudah diketahui, perbudakan memegang peranan penting di kekaisaran. Lalu apa yang terjadi dengan perbudakan setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi?

Transformasi budak

Jika di zaman Romawi budak dimanfaatkan untuk pertanian, maka setelah kejatuhan Romawi, semuanya pun berubah. Pertanian Romawi bertranformasi menjadi permukiman khas Abad Pertengahan.

Sebagian tanah pertanian tetap dipertahankan untuk menghasilkan produk. Hasil pertanian tersebut kemudian diangkut dan dijual ke pasar. Budak tetap mengelola tanah pertanian. Jika di zaman Romawi hak budak dirampas, lain halnya di Abad Pertengahan. “Secara bertahap mereka memperoleh beberapa hal namun terbatas,” tutur Andrei Tapalaga di laman Medium.

Budak pun dibedakan menjadi dua macam. Budak rumah tangga yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Jumlah mereka lebih sedikit. Budak ini tinggal di tempat yang lebih baik dan menerima makanan yang lebih baik. Mereka terkadang bisa bepergian dengan keluarga majikan. Dalam banyak kasus, sistem kelas dikembangkan dalam komunitas budak.

Lalu ada budak yang dimiliki. Sebagian besar dari mereka bekerja di perkebunan dan pertanian. Seperti di zaman Romawi, budak ini tidak memiliki kebebasan atau hak apa pun. Satu-satunya hal yang akan mereka terima adalah satu kali makan sehari dan air.

Fenomena baru terbentuk

Untuk mendukung produksi, dalam periode penurunan drastis populasi, terjadi fenomena baru: penjajahan. Perkebunan besar tua dipecah menjadi perkebunan-perkebunan kecil yang dikerjakan oleh orang bebas. Mereka dipaksa untuk membayar pajak.

Uskup Spanyol Isidore dari Seville pada abad ketujuh menulis, “para pemukim (budak) dikumpulkan bahkan dari daerah yang jauh. Mereka harus membayar sebagian buah kepada pemiliknya. Namun, mereka dapat pergi dan menetap di tanah lain, untuk mencari kondisi yang lebih baik.”

Agama memainkan peranan penting

Fenomena ini sering terjadi pada masa kepausan Gregorius I. Ia mengizinkan para budak bekerja di tanah gereja yang luas dengan kondisi yang sangat menguntungkan. Karena kondisi ini, gereja tidak menyebut mereka sebagai budak tetapi sebagai petani. “Pasalnya, gereja tidak mengakui perbudakan,” tambah Tapalaga.

Paus Gregorius I pun memaksa pemungut cukai untuk tidak menyentuh produk yang diperoleh petani di kebun mereka sendiri. Hasil pertanian itu dicadangkan untuk kelangsungan hidup atau perdagangan kecil yang menguntungkan petani

Selain itu, seperti yang dapat dilihat dari surat Paus, gereja mengambil pajak untuk diinvestasikan dalam amal, rumah sakit, dan pinjaman kecil. Tindakan ini bukan awal kebebasan individu. Namun menegaskan bahwa seseorang tidak dapat menjadi milik seseorang. Tetapi, meskipun dikutuk oleh gereja, perdagangan budak berlangsung lama dan sangat menguntungkan

Selain itu, Paus Gregorius I pernah memperingatkan beberapa orang Yahudi yang memiliki tanah yang dikerjakan oleh budak Kristen. Dia mengundang pemilik untuk membebaskan budak. Namun mengharuskan budak untuk tetap melayani tuan lama dan membayar pajak mereka sesuai dengan hukum.

Paradoks budak

Paradoksnya, ketika hasil pertanian buruk atau serangan barbar melanda suatu wilayah, para budak, bebas atau tidak, lari untuk mencari perlindungan dari pemilik tanah besar. Mereka dipaksa untuk bersumpah setia kepada tuan tanah agar dapat bertahan hidup. Oleh karena itu, kebebasan tidak selalu dijamin. Karena pada akhirnya, jika ada bencana, para budak itu akan mencari perlindungan. Budak kadang-kadang akan menemukan keamanan dengan pemiliknya, bahkan jika orang-orang ini mencuri hak dan kebebasan mereka.

Seiring perubahan zaman, pada awal abad ke-7, budak lebih dipandang sebagai petani yang diberi kebebasan untuk berkeluarga. Mereka dapat melakukan apa pun yang diinginkan selama bisa membayar pajak dan sewa kepada para pemilik tanah.

Kejatuhan Romawi, yang dipandang sebagai tragedi, membawa perubahan ke banyak hal. Termasuk transformasi perbudakan yang pernah menjadi faktor penting dalam kekaisaran.

Wednesday, October 12, 2022

Benarkah Hantaman Pada Mars Ciptakan Adanya Phobos dan Deimos?


elama ini kita tahu Mars memiliki dua bulan yang disebut Phobos dan Deimos. 
Asal usul dua bulan ini adalah misteri di kalangan ilmuwan selama beberapa dekade.

Teori sebelumnya menjelaskan bahwa Phobos dan Deimos adalah asteroid kecil yang terperangkap gravitasi Mars. Kini, sebuah penelitian baru yang terbit di jurnal Science Advances, Rabu (18/4/2018), menawarkan cerita lebih dramatis.

Peneliti menyebut Phobos dan Deimos muncul setelah benda luar angkasa besar menabrak planet merah ini. Dalam tabrakan itu meninggalkan puing-puing yang kemudian berkumpul membentuk dua bulan kecil yang mengorbit dekat permukaan Mars.

"Temuan kami adalah pertama yang konsisten mengidentifikasi kejadian hingga melahirkan dua bulan kecil di Mars," kata pemimpin penelitian Dr Robin Canup, astrofisikawan dari Southwest Research Institute, dilansir dari kompas.com

Sebagai catatan, ukuran Phobos dan Deimos sangat kecil jika dibandingkan bulan bumi. Masing-masing berukuran 7,5 mil dan 14 mil.

Dari ukuran dua bulan itu, tim mulai mempelajari jenis objek langit yang menyerang planet merah.

"Temuan penting kami adalah ukuran penabrak Mars. Kami memperkirakan, objek langit yang dulu menabrak Mars berukuran besar. Ukurannya sama seperti asteroid terbesar, Vesta dan Ceres," kata Canup.

Ia berkata, saat benda berukuran 300 sampai 600 mil menabrak Mars maka akan meninggalkan puing-puing yang akhirnya mengorbit di badan planet.

Puing-puing yang berada di bagian luar kemudian berkumpul membentuk Phobos dan Deimos, sementara puing-puing yang berada dekat dengan Mars berputar dan melebur ke dalam planet.

Model komputer canggih yang digunakan para ilmuwan untuk mensimulasikan pembentukan bulan Mars juga memungkinkan tim untuk menyimpulkan seperti apa dua bulan itu.

"Model ini memprediksi bahwa dua bulan Mars berasal dari material yang berasal di Mars, sehingga komposisi massal sebagian besar elemen mirip dengan Mars," ujarnya.

"Namun, pemanasan ejecta (partikel yang terlempar) dan kecepatan lepas yang rendah dari Mars menunjukkan bahwa uap air hilang. Ini menyiratkan bulan tersebut kering," imbuhnya.

Canup dan timnya yakin temuan mereka dapat dimanfaatkan untuk eskpedisi antariksa masa depan yang bertujuan menyelidiki Mars dan bulannya, misalnya misi Eksplorasi Bulan Mars Badan Antariksa Jepang (MMX).

Rencananya, misi MMX akan diluncurkan pada 2024. Mereka berencana mendarat di Phobos dan Deimos untuk mengumpulkan sampel sebelum dibawa pulang ke bumi lima tahun kemudian.


Tabrakan Dua Galaksi Ini Berhasil Tertangkap Oleh Teleskop NASA


Meski antariksa adalah tempat yang riuh, tapi biasanya kita tidak akan bisa melihat "kembang api" terbesar di jagad raya, yaitu tabrakan antar- galaksi.

Beruntungnya, beberapa waktu lalu, teleskop luar angkasa Hubble milik badan antariksa milik Amerika Serikat ( NASA) berhasil mengabadikannya. Ya, teleskop Hubble berhasil memotret pemandangan dari dua galaksi yang berdekatan kemudian bertabrakan untuk bergabung menjadi satu galaksi.

Adegan ini terjadi di sebuah rasi yang disebut Cetus atau Monster Laut yang berjarak sekitar 350 juta tahun cahaya. Penamaan rasi ini dikarenakan, dari gambar yang diperoleh dari teleskop Hubble terlihat mirip seperti monster laut.

Namun, meski tembakannya dramatis, tabrakannya baru akan dimulai dan mungkin memakan waktu jutaan tahun sebelum kedua galaksi tersebut benar-benar bergabung. Kedua galaksi ini begitu dekat satu sama lain.

Selain itu, masing-masing berisi begitu banyak bintang masif. Galaksi bagian atas juga menampilkan fitur yang disebut dengan ekor pasang surut. Karena hal inilah aliran bintang yang berantakan diciptakan oleh gravitasi satu galaksi yang saling tarik-menarik.

Inilah yang menjadi alasan mengapa kedua galaksi tersebut telah berbagi nama Arp 256, meski belum sepenuhnya bersatu. Para astronom juga mengklasifikasikan sistem seperti ini sebagai "galaksi yang aneh" karena beberapa jenis interaksinya memang menyebabkan sifat (galaksi) aneh, seperti debu tambahan atau berbentuk unik.

Galaksi aneh ini kemudian menarik perhatian para peneliti untuk mempelajarinya. Mereka bisa mengajari kita (manusia) bagaimana galaksi berevolusi selama miliaran tahun.

Arp 256 sendiri pertama kali dikatalogkan oleh Halton Arp, seorang astronom Amerika pada 1966. Galaksi ini menjadi salah satu di antara 338 galaksi yang dinamai di Atlas of Peculiar Galaxies.

Tujuan dari katalog ini adalah menggambarkan struktur aneh dan indah yang ditemukan di antara galaksi terdekat.Galaksi-galaksi aneh itu seperti eksperimen alami yang dimainkan dengan skala kosmis.

Dulu ketika alam semesta kita berkembang jauh lebih kecil interaksi dan penggabungan antar-galaksi lebih sering terjadi.

Inilah yang mendorong evolusi galaksi hingga hari ini. Galaksi dalam sistem Arp 256 ini kini masih melanjutkan "tarian" gravitasi mereka hingga jutaaan tahun yang akan datang.

Nantinya, mereka akan berubah menjadi sebuah galaksi tunggal. Lalu apakah galaksi Bima Sakti tempat tinggal kita juga nantinya akan bertabrakan? Menurut para astronom, galaksi Bima Sakti pun tidak terlepas dari tabrakan astronomis ini.

Mereka meramalkan bahwa Bima Sakti nantinya akan bertabrakan dengan Andromeda. Namun tak perlu khawatir, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Peristiwa ini akan terjadi sekitar empat miliar tahun lagi.

Monday, October 10, 2022

Rantai Besar Konstantinopel, Penghalau Musuh Kekaisaran Romawi Timur


Setiap wilayah dalam sejarah kuno dan modern memiliki caranya sendiri untuk bertahan dari serangan musuh. Termasuk ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, Konstantinopel. Kota yang dikenal sebagai Istanbul kini, Konstantinopel pernah menjadi salah satu kota terkaya di dunia. Kota ini juga menjadi tempat lahir peradaban Barat. Sebagai ibu kota kekaisaran selama hampir 16 abad, Konstantinopel adalah pusat dari banyak peristiwa besar dalam sejarah. Begitu kaya dan penting, bagaimana Konstantinopel dijaga dari serangan musuh yang mengancam? Rantai besar Konstantinopel menjaga Kekaisaran Romawi Timur dari serangan musuh selama berabad-abad. Bagaimana bisa?

Tanduk Emas Konstantinopel, titik penting Konstantinopel

Di dunia kuno, angkatan laut yang kuat sering kali menjadi faktor penting dari ketahanan sebuah kerajaan atau kekaisaran. Memiliki kekuatan angkatan laut yang kuat berarti sebuah kota atau kekaisaran dapat melakukan pengepungan dan blokade laut. “Termasuk melancarkan perang jarak jauh,” ungkap Aleksa Vučković di laman Ancient Origins. Namun dalam kasus Konstantinopel, serangan laut dari musuh dapat menimbulkan malapetaka bagi ibu kota maupun Kekaisaran Romawi Timur. Ini sebagian besar karena kerentanan Tanduk Emas dan posisinya dekat dengan kota.

Tanduk Emas, yang dikenal oleh orang Yunani kuno sebagai Chrysókeras (Ī§ĻĻ…ĻƒĻŒĪŗĪµĻĪ±Ļ‚) adalah muara dari dua sungai besar dan sebuah pintu masuk di selat Bosphorus yang lebih besar. Panjangnya sekitar 7,5 kilometer dengan lebar 750 meter pada titik terlebarnya. Kedalaman maksimum sekitar 35 meter.


Tanduk Emas memiliki sejarah yang kaya dan bersemangat, bahkan sebelum munculnya Bizantium dan kemudian Konstantinopel. Berdasarkan penelitian arkeologi, Tanduk Emas adalah jalur air yang sibuk sejak 6700 Sebelu Masehi. Ini diketahui dari banyaknya permukiman kuno ditemukan di sekitarnya.

Namun fungsi pentingnya berkembang drastis sejak sekitar abad ke-7 Sebelum Masehi. Tanduk Emas menjadi jalur air vital yang sangat penting untuk perdagangan di dunia kuno. Muara itu mendapat julukan "Emas" karena membawa kekayaan besar bagi kota berkat posisinya.

Rantai besar Konstantinopel, penghalang besi yang menghalau musuh

Menurut sejarah, jalur air Konstantinopel tidak digunakan secara eksklusif untuk perdagangan. Meski menghasilkan kekayaan, muara ini juga menjadi posisi terlemah kota. “Ketika musuh menyerang, saluran masuk seperti itu menjadi peluang besar bagi penyerang yang lihai,” ungkap Vučković.

Bagi Konstantinopel, jalur air Tanduk Emas bisa membawa malapetaka pada waktu tertentu. Jika tidak dilawan, armada musuh dapat memasuki perairan dan melewati pelabuhan pelindung berbentuk tanduk. Tentu saja itu secara efektif akan menyerang posisi belakang kota yang rentan.

Untuk mencegahnya, Bizantium menggunakan metode pertahanan laut yang terpercaya yaitu rantai besar. Juga dikenal sebagai boom, rantai ini dapat digantung dan dikencangkan pada saat yang genting, mencegah masuknya kapal musuh ke saluran masuk.

Rantai besar Konstantinopel ditempatkan di pintu masuk yang tepat ke jalur air Tanduk Emas. Pintu ini memanjang dari Menara Eugenius di tembok luar kota ke MegÔlos Pýrgos, Menara Besar di sisi lain jalur air.

Pembuatan rantai yang begitu besar dan kuat tentu saja merupakan tugas yang menakjubkan. Ini menjadi pencapaian arsitektur dan teknik yang besar. Rantai besar Konstantinopel terbuat dari ratusan mata rantai besi tempa yang berat. Ketika diperpanjang sepenuhnya, panjangnya mencapai 750 meter.

Ada banyak perdebatan tentang berat dan dimensi sebenarnya dari setiap tautan. Bagian rantai besar yang masih ada memiliki mata rantai yang beratnya antara 12 dan 15 kilogram. Setiap tautan memiliki panjang 50 sentimeter dan tebal 5 sentimeter. Beberapa cendekiawan mengeklaim bahwa rantai berasal dari periode Bizantium.


Sumber sejarah menekankan bobot dan dimensi rantai yang besar. Penulis sejarah Bizantium George Sphrantzes, seorang saksi Kejatuhan Konstantinopel, menyebutkan:

“Rantai itu sangat berat. Kaisar memerintahkan agar rantai besi yang sangat berat ini ditempatkan di mulut pelabuhan”.

Di dua menara, rantai dioperasikan oleh sistem roda, katrol, dan penyeimbang menara air yang kompleks.

Upaya bangsa Arab menerobos rantai besar Konstantinopel

Berabad-abad sebelum kejatuhan Konstantinopel, rantai besar terbukti menjadi salah satu keuntungan strategis pertahanan terpenting di Mediterania. Pada 717 dan 718 Masehi, orang-orang Arab Muslim dari Kekhalifahan Umayyah melancarkan serangan yang menghancurkan terhadap Konstantinopel. Armada mereka yang kuat dan unggul menjadi keuntungan besar.

Bizantium – dipimpin oleh Kaisar Leo III dari Isaurian – menghadapi kemungkinan kekalahan yang sangat besar. Namun sang kaisar memiliki rencana cerdik untuk mengalahkan armada penyerang. Tentu saja rantai besar Konstantinopel memainkan peran penting dalam rencana itu.

Sekitar 3 September 717, armada Arab memulai serangan dan memasuki pintu masuk Tanduk Emas tanpa hambatan. Saat itu, tidak ada rantai yang menghalangi jalan. Ini semua adalah bagian dari strategi brilian Leo III.

Saat armada Arab masuk lebih dalam ke jalur air, angin dan arus secara bertahap membawa kapal lebih dekat ke tembok kota. Pada saat genting ini, Leo memerintahkan rantai besar untuk diangkat. Di saat yang sama, para pembela Konstantinopel memulai serangan yang menghancurkan dengan Api Yunani yang sangat mudah terbakar. Api Yunani adalah senyawa yang mudah terbakar yang dipancarkan oleh senjata pelempar api. Beberapa sejarawan percaya api menyala saat kontak dengan air berkat campuran nafta dan kapur.

Terkejut dan tidak dapat melarikan diri, orang-orang Arab tidak memiliki peluang. Pelaut mereka terbakar hidup-hidup dan mengotori permukaan air Tanduk Emas, saat kapal mereka yang terbakar tenggelam. Kapal-kapal yang menghindari kehancuran api berusaha mundur kembali ke arah mereka datang. Tetapi rantai besar Tanduk Emas berdiri kokoh dan tidak dapat dipatahkan dan menghalangi jalan. Kapal-kapal itu pun harus menghadapi kematian di perairan yang berapi-api.

Mungkinkah sebuah kapal bisa berhasil melewati rantai besar Konstantinopel?

Bagi musuh Kekaisaran Bizantium atau Kekaisaran Romawi Timur, rantai besar Konstantinopel merupakan hambatan besar. Para penyerang harus menemukan strategi alternatif untuk menyiasati rantai tersebut.

Suatu saat selama tahun 940-an, pangeran Rus, Igor dari Kyiv, melancarkan serangan besar-besaran terhadap Konstantinopel. Yang menarik, Igor tidak memimpin armadanya melintasi laut dan masuk ke jalur rantai. Sebagai gantinya, armadanya diangkut melintasi daratan.

Portaging adalah praktik yang digunakan terus-menerus oleh Rus. Mereka membawa kapal perang di atas kayu besar melintasi daratan, sering kali melewati rute berbahaya. Dalam serangan ke Konstantinopel, portaging merupakan keuntungan besar bagi Igor. Kapalnya kemudian memasuki perairan di ujung Tanduk Emas. Dengan cara itu, mereka berhasil melewati rantai besar yang terkenal kejam.

Selama kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453 Masehi, rantai besar itu sangat efektif. Saat itu, armada Ottoman yang kuat di bawah komando Sultan Mehmed II menyerang kota dengan kekuatan penuh. Tetapi kapal perang mereka dihentikan oleh rantai besar Konstantinopel.

Menyadari hal itu, sultan memilih rute penyerang lain dan berjalan di sekitar rantai. Armada yang lebih kecil yang terdiri dari 70 perahu perang Ottoman diangkut melintasi daratan dan dimasukkan kembali ke dalam air di sisi lain rantai tersebut. Armada Ottoman akhirnya berhasil dan Konstantinopel jatuh pada tanggal 29 Mei 1453 Masehi.

Konstantinopel adalah permata Peradaban Barat dan salah satu kota terbesar di dunia kuno. Mempertahankannya dari gerombolan musuh yang rakus tentu bukan tugas yang mudah.

Komandan dan para ahli harus menemukan cara baru dan cerdik untuk mempertahankan ibu kota mereka. Rantai besar Konstantinopel melintasi Tanduk Emas adalah salah satu inovasi yang terbukti menjadi penghalang pertahanan utama selama berabad-abad.

Sayangnya ketika menghadapi invasi dari semua sisi, rantai besar besar saja tidak cukup untuk melindungi kota. Setelah melindungi Kekaisaran Romawi Timur selama berabad-abad, rantai besar Konstantinopel akhirnya berhasil ditembus musuh.

Fosil Berusia 580 Juta Tahun Ungkap Petunjuk Evolusi Cacing


Lebih dari 500 juta tahun silam, di wilayah yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Kootenay, British Columbia, longsoran lumpur bawah laut yang bergerak cepat telah membunuh dan memerangkap seekor cacing kecil.

Itulah teori yang dikemukakan Karma Nanglu, peneliti di University of Toronto. Baru baru ini, ia menemukan fosil yang disebutnya secara mengejutkan berada dalam kondisi yang sangat baik.

Fossil tersebut adalah spesies baru dari cacing bristle, yang secara ilmiah dikenal sebagai Kootenayscolex barbarensis, dan dideskripsikan di
dalam jurnal Current Biology.

Ukurannya kecil, dengan panjang hanya sekitar dua sentimeter,dan kanan- kiri tubuhnya dipenuhi ratusan bulu seukuran rambut kecil yang disebut
chaetae.

Di kepalanya, cacing ini memiliki fitur mirip pipa yang disebut palp. Nanglu mengatakan bahwa fitur tersebut kemungkinan digunakan untuk merasakan tanah di depannya.

Selama era Prakambrium, yakni saat cacing itu hidup, hewan tersebut mungkin merayap di sepanjang dasar lautan untuk memangsa material organik dan mengembalikannya ke rantai makanan saat ia dimangsa oleh spesies lain. Ini adalah fungsi yang membuatnya mirip dengan lintah dan cacing tanah, spesies yang akhirnya menjadi hasil evolusinya.

Sulit ditemukan

Kootenayscolex barbarensis adalah bagian dari kelompok binatang yang disebut annelida (atau \'cacing cincin\'). Ia memiliki sepasang struktur sensorik panjang yang disebut palp di kepalanya, dengan antena medial kecil di antara keduanya (kanan). Tubuhnya tertutup oleh pelengkap berdaging yang disebut parapodia yang mengandung bulu yang disebut chaetae. (Jean-Bernard Caron/Royal Ontario Museum)
Cacing bristle sangat sulit ditemukan. Jaringan lunak yang membentuk tubuhnya sangat mudah terurai. Kondisinya yang terawetkan dengan baik membantu para peneliti memahami bagaimana pemimpin filum annelida, atau cacing bersegmen ini berevolusi.

Beberapa studi sebelumnya yang berdasarkan pada fosil annelida dari Greenland menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kepala yang sulit dibedakan dari tubuhnya. Fosil-fosil tersebut, kata Nanglu, tidak ada yang terawetkan sebaik fosil yang baru ditemukan di Kanada ini. Sebagian besar tubuhnya dapat dilihat lebih jelas, lanjutnya.

"Kami menemukan, tidak seperti teori sebelumnya, di awal evolusi mereka, kepala [annelida] benar-benar terlihat seperti kepala," katanya. "Ini adalah hasil dari perkembangan biologi yang unik," tambahnya.

Situs penemuan

Ratusan juta tahun lalu, para peneliti memperkirakan bahwa wilayah tempat fosil ditemukan penuh oleh cacing berbulu kecil ini.

Periset memfokuskan penggalian mereka pada satu bagian taman yang disebut Marble Canyon, sebuah situs kecil yang termasuk dalam deposit fosil terkenal bernama Burgess Shale. Sejak situs tersebut pertama kali ditemukan pada 2012, sekitar 500 fosil cacing purba telah ditemukan.

Nanglu mengungkapkan, langkah selanjutnya ialah mengamati apa peran yan dimainkan oleh cacing bristle di komunitas besar Prakambium. Selama masa hidupnya, cacing ini kemungkinan hidup bersama spesies artropoda kuno, filum yang saat ini meliputi hewan seperti kepiting, laba-laba, hingga serangga.

Dari bentuk kehidupan awal inilah semua hewan akhirnya berevolusi. Nanglu berharap, meningkatkan pemahaman terhadap ciri-ciri mereka dapat membantu para ilmuwan menyatukan kepingan teka-teki evolusioner.

"Kita punya lebih banyak gambar yang lebih jelas," ujar Nanglu merujuk pada temuan fosil cacing; meski demikian, "kisahnya belum selesai".



 

Ilmuwan Temukan Lubang Hitam Raksasa Paling Jauh dari Bumi

Baru-baru ini, para astronom kembali menemukan sebuah lubang hitam. Temuan kali ini benar-benar raksasa. Pasalnya, massa lubang hitam tersebut 800 juta kali massa Matahari.

Jaraknya pun terbilang sangat jauh dari Bumi, yaitu 13 miliar tahun cahaya. Oleh karena itu, lubang hitam ini menjadi paling jauh yang pernah terdeteksi sejak saat alam semesta hanya 5 persen dari yang sekarang atau sekitar 690 juta tahun setelah Big Bang.

"Mengumpulkan semua massa ini dalam waktu kurang dari 690 juta tahun merupakan tantangan besar bagi teori pertumbuhan lubang hitam supermasif," kata Eduardo Banados, pemimpin penelitian ini dikutip dari Science Alert, Rabu (6/12/2017).

Lubang hitam bernama J1342+0928 tersebut berada di tengah cakram super terang dan mengorbit di tengah galaksi, serta membentuk obyek bernama kuasar.

Ia ditemukan dalam data dari tiga survei besar: data z-band dari DECam Legacy Survey di Cerro Tololo Inter-American Observatory, dan data inframerah dari Wide-field Infrared Survey Explorer milik NASA dan UKIRT Infrared Deep Sky Survey.

Lubang hitam sendiri memang tidak memancarkan cahaya, tetapi gesekan debu dan gas yang berputar di sekitarnya karena ditarik oleh kekuatan gravitasi menimbulkan cahaya.

Selain itu, kuasar yang terbentuk merupakan benda paling terang di semesta. Obyek ini memancarkan cahaya ribuan kali lebih kuat daripda galaksi besar.

Meski demikian, seluruh kuasar yang pernah ditemukan sampai saat ini begitu jauh sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Dengan kata lain, kuasar hanya dapat dilihat menggunakan teleskop.

Para peneliti juga mendapati bahwa J1342+0928 sangat tua sehingga dapat membantu kita mengenali titik penting dalam sejarah alam semesta yang disebut dengan Epoch of Reionisation.

Tepat setelah Big Bang, alam semesta adalah semacam "sup purba" yang gelap dan panas dalam skala kosmik, serta berkembang dengan cepat.

Saat meluas, semesta kemudian mendingin dan menyebabkan proton dan neutron mulai bergabung menjadi atom hidrogen terionisasi. Sekitar 240.000-300.000 tahun setelah Big Bang, atom hidrogen ini menarik elektron hingga menjadi hidrogen netral.

Pada titik ini, cahaya bisa berjalan bebas melalui alam semesta karena tak ada lagi elektron bebas.

Tapi hal tersebut tidak akan terjadi sampai gaya antara bintang pertama dan galaksi dalam ruang kosong yang penuh hidrogen. Saat itu, cahaya dari bintang ini muncul. Tak lama sesudahnya, berdasar teori modern, hidrogen netral akan tertarik ke wilayah gravitasi dari bintang baru tersebut atau galaksi baru, quasar atau juga bisa kombinasi ketiganya.

Proses reionisasi hidrogen netral, yakni membelahnya menjadi proton dan elektron, terjadi di  Semesta ini. Sekitar 1 miliar tahun setelah Big Bang, proses reionisasi tersebut selesai.

Meski demikian, tepat ketika Epoch of Reionisation dimulai, mekanisme terperinci itu sulit dipastikan.

"Reionisasi adalah transisi besar terakhir Semesta, dan ini adalah salah satu batas arus dalam astrofisika," kata BaƱados.

Di sinilah J1342 + 0928 masuk. Analisis cahaya menunjukkan bahwa proporsi yang signifikan dari ruang di sekitar itu masih hidrogen netral hingga 690.000 tahun setelah Big Bang.

Hal ini berarti reionisasi mungkin terjadi agak lambat dalam masa kehidupan Semesta.

Dalam ilustrasi di atas, kita dapat melihat gambaran skematis dari apa yang dapat kita pelajari dari hasil kuasar baru ini: pengamatan menggunakan salah satu teleskop Magellan (kiri bawah) memungkinkan kita untuk merekonstruksi informasi tentang Zaman Reionisasi ("gelembung" setengah kanan) yang mengikuti Big Bang (kanan atas).

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini merupakan bagian jangka panjang untuk menemukan kuasar awal dari alam semesta. Tim peneliti memperkirakan bahwa ada 20 hingga 100 benda yang seterang dan sejauh J1342+0928 yang dapat ditemukan di seluruh langit.

Dengan menemukan lebih banyak, para astronom akan dapat mengumpulkan data statistik tentang alam semesta awal dan Epoch Reionisation. Harapan para astronom yaitu mampu menemukan model evolusi galaksi.

"Ini penemuan yang sangat mengasyikan, ditemukan dengan menjelajahi generasi baru survei luas dan sensitif yang dilakukan para astronom dengan menggunakan survei jarak jauh inframerah NASA di orbit dan teleskom berbasis darat di Chile dan Hawaii," kata Daniel Stern dari NASA\'s Jet Propulsion Laboratory.

"Dengan beberapa fasilitas termutakhir, bahkan lebih sensitif dari alat yang sedang dirakit, kita bisa melihat banyak penemuan menarik di alam semesta pada tahun-tahun mendatang," tutupnya.



 

Sunday, October 9, 2022

NASA Merilis Gambar Luar Biasa Bulan Es Planet Jupiter Europa

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis gambar-gambar luar biasa dari bulan es Planet Jupiter Europa. Gambar tersebut diambil oleh instrumen JunoCam di atas pesawat ruang angkasa NASA Juno.

Pengambilan gambar tersebut selama pendekatan yang dilakukan pada tanggal 29 September 2022 dan diproses oleh ilmuwan warga. Björn Jónsson dan Navaneeth Krishnan adalah ilmuwan warga yang terlibat dalam pemrosesan pemandangan luar biasa tersebut.

Scott Bolton, peneliti utama Juno di Southwest Research Center mengatakan ilmuwan warga Juno sangat berharga dalam memproses banyak gambar yang kami dapatkan dengan Juno. "Dimulai dengan terbang melintasi Bumi kami pada tahun 2013," katan Bolton dalam rilis NASA.

"Selama setiap penerbangan melewati Planet Jupiter, dan sekarang bulan-bulannya, pekerjaan mereka memberikan perspektif yang mengacu pada sains dan seni."

Menurutnya, ilmuwan warga adalah bagian penting dari tim mereka, memimpin dengan menggunakan gambar kami untuk penemuan baru.

"Gambar-gambar terbaru dari Bulan Europa ini menunjukan hal itu, mengarahkan kita ke fitur permukaan yang mengungkapkan detail tentang cara kerja Europa dan apa yang mungkin bersembunyi di atas es dan di bawah."

JunoCam mengambil gambar terdekatnya pada ketinggian 1.521 km atau sekitar 945 mil di atas wilayah bulan Europa yang disebut Annwn Regio. Dalam gambar, medan di samping batas siang-malam terungkap ternyata tidak datar, dengan lubang dan palung.

Banyak pegunungan dan pita terang dan gelap membentang di permukaan yang tidak rata, mengungkapkan tekanan tektonik yang dialami bulan selama ribuan tahun.

Fitur gelap melingkar di kanan bawah adalah kawah Callanish. "Gambar JunoCam seperti itu membantu mengisi celah di peta dari gambar yang diperoleh misi Voyager dan Galileo NASA," catat para ilmuwan Juno.

Sepasang gambar yang dihasilkan menunjukkan bagian Europa yang sama sebelum dan sesudah diproses. Gambar asli (diproses minimal), ditangkap oleh JunoCam selama penerbangan dekat Juno pada 29 September 2022.

Ilmuwan warga Navaneeth Krishnan yang juga memproses ulang gambar untuk menghasilkan gambar-gambar tersebut. Kontras warna yang ditingkatkan menyebabkan fitur permukaan yang lebih besar menjadi lebih menonjol.

Contoh hasil dapat dilihat di atas yang sebelah kanan bawah gambar, di mana lubang dan blok persegi kecil (memantulkan lebih banyak cahaya daripada fitur di sekitarnya) menghasilkan bayangan yang mencolok.

Tekstur permukaan skala kecil pada gambar perlu dipelajari dengan cermat untuk membedakan antara fitur dan artefak dari pemrosesan, tetapi gambar tersebut menyajikan seni dan sains dengan menarik kita lebih dalam ke lanskap alien Europa.


Pada gambar kedua, kontras warna yang ditingkatkan menyebabkan fitur permukaan yang lebih besar lebih menonjol daripada versi gambar yang diproses ringan.

Contoh hasilnya dapat dilihat di kanan bawah gambar yang disempurnakan, di mana lubang dan balok kecil menghasilkan bayangan yang mencolok.

Tekstur permukaan dalam skala kecil pada gambar perlu dipelajari dengan cermat untuk membedakan antara fitur dan artefak dari pemrosesan, tetapi gambar tersebut menarik kita lebih dalam ke lanskap alien Europa.

"Ilmuwan warga Juno adalah bagian dari upaya bersatu global, yang mengarah pada perspektif baru dan wawasan baru," kata rekan penyelidik JunoCam, Candy Hansen, seorang peneliti di Planetary Science Institute.

"Sering kali, ilmuwan warga akan mengabaikan potensi aplikasi ilmiah dari sebuah gambar sepenuhnya, dan fokus pada bagaimana Juno menginspirasi imajinasi atau rasa artistik mereka, dan kami menyambut kreativitas mereka."

Friday, October 7, 2022

Mengapa Ratu Hatshepsut Dihapus dari Sejarah Mesir Kuno? Ini Alasannya

Tidak banyak yang diketahui tentang Ratu Hatshepsut. Ratu yang pernah menjadi wanita paling berkuasa di Mesir ini adalah firaun kelima dari Dinasti ke-18. Meski ia lebih berkuasa dari Cleopatra, sejarawan menganggap masa hidupnya yang singkat tidak ditulis dengan baik. Apa sebabnya? Sebagian sejarawan curiga jika dari waktu ke waktu ada yang mencoba menghapus kisah-kisah sang firaun wanita dari sejarah. Mengapa seseorang bertindak begitu keji sehingga Ratu Hatshepsut dihapus dari sejarah Mesir kuno?

Wanita pertama dalam sejarah dunia kuno yang memiliki begitu banyak kekuatan

Lahir pada 1479 Sebelum Masehi, Hatshepsut dengan cepat memahami cara kerja dan pentingnya Mesir di dunia Kuno. Aturan seperti di negara timur tengah mana pun sangat ketat tetapi penting bagi kemakmuran kekaisaran. Selain menjadi firaun di usia yang sangat muda, ia dianggap sebagai firaun wanita paling kuat.

Ahli sejarah Meski kuno James Henry menyebutkan bahwa Hatshepsut dianggap sebagai wanita pertama dalam sejarah umat manusia yang memiliki banyak kekuatan.

Bagaimana Cleopatra yang terkenal dengan kecerdasan dan kecantikannya itu? Menurut Henry, kekuatan yang dimiliki Cleopatra tidak mencapai seperempat dari kekuatan yang dimiliki Ratu Hatshepsut selama masa pemerintahannya.

Kekuatan bak senjata makan tuan

Banyak sejarawan juga berpendapat bahwa kekuatannya itu justru menjadi senjata makan tuan bagi Hatshepsut. Setelah masa pemerintahannya, para pemimpin di Mesir mencoba menghilangkannya dari sejarah dengan menghapus segala informasi tentangnya.

Mengapa mereka melakukannya? Kemungkinan besar karena dengan berapa banyak yang dicapai dalam waktu yang begitu singkat. Pencapaiannya itu bisa jadi membuat para firaun pria malu dan merasa tersaingi.

Arkeolog menemukan sedikit catatan tentang Hatshepsut

“Namun ternyata catatan dari masa lalu tidak semuanya dihapus,” tutur Andrei Tapalagi di laman History of Yesterday. Dalam beberapa tahun terakhir, arkeolog menemukan beberapa peninggalan yang mewakili informasi dari masa lalu tentang Hatshepsut.

Institut Arkeologi Jerman menemukan sebuah batu besar dengan hieroglif yang menunjukkan berasal dari era yang sama dengan pemerintahan Ratu Hatshepsut. Batu itu ditemukan di Pulau Elephantine di sungai Nil.

Ini masuk akal karena sejarawan menyebutnya sebagai Ratu Sungai Nil. Julukan itu diperoleh berkat rute perdagangan makmur yang diciptakannya selama masa pemerintahannya.

Meskipun hanya hidup selama 21 tahun, Hatshepsut membuat perubahan besar yang positif bagi Mesir kuno dan rakyatnya. Penyebab kematiannya masih belum diketahui. Sejarawan memperkirakan bahwa dia dibunuh oleh seseorang. Semakin sukses dan kuat seorang pemimpin, biasanya musuhnya pun makin banyak.

Musuhnya sangat ingin membuatnya lenyap, bahkan setelah kematian sang ratu

Makamnya ditemukan pada tahun 1920-an, namun sarkofagusnya kosong. Ini adalah tanda-tanda yang sangat jelas dari orang-orang yang ingin menghapusnya dari sejarah.

Seseorang menginginkan Hatshepsut menghilang sehingga bahkan dalam patung yang ditemukan (bertanggal oleh para ahli sejak masa pemerintahannya), namanya dihapus dari patung. Seakan masih belum puas, mereka mengubah tubuh patung wanita menjadi seorang pria. Upaya itu dilakukan untuk menunjukkan pada generasi mendatang bahwa Hatshepsut tidak pernah ada. Dan selama waktu tersebut, seorang firaun pria memerintah Mesir.

Sejarawan berbicara tentang misoginis (orang yang membenci wanita) dalam budaya Mesir Kuno. Di zaman itu, sebagian besar wanita dikendalikan dan di bawah pria. “Bahkan jika memiliki banyak musuh, saya percaya bahwa Thutmose III (anak tirinya) adalah orang yang membunuhnya,” tambah Tapalagi.

Menurut Tapalagi, Thutmose III selalu iri dengan seberapa besar kekuatan yang dimiliki Hatshepsut. Selain itu, pada 1458 Sebelum Masehi, Thutmose III memulai kampanyenya untuk menghancurkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu tirinya, Hatshepsut. Ini termasuk menghancurkan sebagian besar monumen yang mewakilinya.

Kini, sejarawan berusaha mengembalikan kisah-kisah Ratu Hatshepsut yang berusaha dikubur setelah kematiannya.

Thursday, October 6, 2022

Astronom Temukan Planet Hitam Legam Pelahap Cahaya


Planet baru ini merupakan “exoplanet”. Artinya, planet itu mengorbit bintang yang berada di luar Tata Surya kita. Sejauh ini kita telah menemukan lebih dari 3.500 exoplanet dan sebagian exoplanet tersebut benar-benar aneh.

Ada planet yang dicabik-cabik oleh bintang induknya. Ada juga bintang yang dihantam angin berkecepatan ribuan mil per jam. Di planet lain, permukaannya tertutup es yang membara!

Sepertinya planet terlangka di alam semesta justru yang seperti planet tempat tinggal kita: Bumi.

Jadi, kenapa kita senang dengan penemuan planet hitam ini? Karena berhasil mengetahui warna planet itu luar biasa!

Exoplanet sangatlah kecil dan jauh sehingga terlampau sulit bagi kita untuk bisa melihatnya dan mustahil bisa melihat detil-detilnya.

Untungnya, astronom-astronom itu cerdik.

Exoplanet tidak memancarkan cahayanya sendiri, tapi hanya memantulkan cahaya yang berasal dari bintang induknya. Dengan mengukur seberapa banyak cahaya yang dipantulkan, kita bisa mendapatkan detil-detil exoplanet tersebut, termasuk warnanya.

Permukaan seperti salju dan es memantulkan banyak sekali cahaya, sedangkan permukaan yang lebih gelap (misalnya, rumput atau aspal) memantulkan lebih sedikit cahaya.

Exoplanet baru yang diberi nama WASP-12b ini lebih hitam dari aspal dan menyerap sebagian besar cahaya yang mengenainya. Bahkan, 10% saja yang dipantulkan. Sebagai perbandingan, Bulan kita memantulkan dua kali lipatnya.

Warna si exoplanet yang demikian gelap disebabkan oleh temperatur planet, yang mencapai 2.600 derajat Celsius pada waktu siang. Panas ekstrem mempengaruhi astmosfer planet dan menghentikan pembentukan awan, yang mestinya memantulkan lebih banyak cahaya. Jarak yang dekat dengan bintang membuat planet ini berbentuk seperti telur karena gaya tarik bintang yang sangat kuat.