Agen bola Piala Dunia

Silakan Hubungi Cs kami untuk informasi lebih lanjut.

SELAMAT DATANG DI BLOG PREDIKSI CERIA4D

Blog Prediksi Resmi dari BO CERIA4D

Lomba Tebak 3D -2Line Bersama CERIA4D

bagi yang ingin mengikuti Silakan bergabung di Group Facebook kami "DONATAN4D Agent Togel Terpercaya"

Link WAP Donatan4D

Kini Hadir Versi Handphone Untuk memudahkan Para Member melakukan Betting dimana saja dan kapan saja.

Donatan4D bandar Togel Online Terpercaya

Silakan Hubungi Kami melalui Kontak di Atas

Wednesday, September 7, 2022

Erupsi Tambora Memerahkan Mentari, Pelukis Eropa Menjadi Saksinya

“Sebuah informasi penting dari fenomena alam yang menarik perhatian para pelukis sohor,” ungkap Christos S. Zerefos, “meskipun tampaknya sebagian besar dari mereka tidak tahu-menahu soal kejadian yang mereka amati.”

Zerefos merupakan seorang peneliti dari National Observatory of Athens, yang merangkap sebagai guru besar Academy of Athens di Yunani. Dia telah dikenal masyarakat ilmiah lewat berbagai studinya pada variabilitas lapisan ozon, stratosfer dan sinyal geofisika terkait dalam perspektif global.

Bersama beberapa peneliti negeri para dewa itu, Zerefos menghubungkan antara lukisan para pelukis sohor dan suasana atmosfer akibat erupsi gunung api. Hasil penelitian mereka yang berjudul "Atmospheric effects of volcanic eruptions as seen by famous artists and depicted in their paintings" terbit dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics pada 2007.


“Lukisan hasil karya para seniman sohor,” ungkap Zerefos, “memberikan informasi tentang kedalaman pengelihatan pada aerosol yang menyusul letusan gunung berapi besar.” Dunia ilmu pengetahuan merujuk aerosol sebagai sistem tersebarnya partikel halus zat padat atau cair dalam gas atau udara—seperti asap dan kabut.
Dalam seni rupa, terdapat tiga warna primer: merah, hijau, dan biru. Dia mengukur derajat warna merah terhadap warna primer lainnya secara digital. Sampelnya, sejumlah 554 lukisan pemandangan karya 181 seniman dari abad ke-16 hingga akhir abad ke-19 yang menampilkan matahari terbenam. Sebagai dasar pijakan, dia membaginya menjadi dua: lukisan ketika ada kejadian erupsi dan lukisan ketika tidak ada kejadian erupsi.

Penelitian ini bertujuan memberikan pandangan baru terhadap kedalaman pengelihatan pada aerosol (Aerosol Optical Depth) selama dan setelah proses erupsi lewat studi pewarnaan dalam atmosfer, demikian menurut Zerefos.    

Sampel lukisan dipadukan dengan peristiwa erupsi gunung berapi semasa. Beberapa catatan kegungungapian dalam periode pengamatan 400 tahun:  Awu (Indonesia-1641), Katla (Eslandia-1660), Tongkoko & Krakatau (Indonesia-1680), Laki (Eslandia-1783), Tambora (Indonesia-1815), Babuyan (Filipina-1831), Coseguina (Nicaragua-1835), dan Krakatau (Indonesia-1883).


“Ada hubungan menakjubkan,” ungkap Zerefos ketika memaparkan derajat warna merah dalam lukisan yang dibuat di tahun-tahun terjadinya erupsi gunung api. 
Lukisan yang dibuat dalam periode singkat setelah masa erupsi Tambora menunjukkan warna matahari terbenam yang lebih kuning, lebih merah atau lebih oranye. Warna tersebut disebabkan kandungan debu yang tebal dalam atmosfer. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa peristiwa yang sama juga direkam oleh para pelukis Eropa tatkala Krakatau bererupsi pada 1883.

“Bagaimanapun,” ungkap Zerefos, “kami yakin bahwa penelitian ini akan membentuk dasar
penelitian lebih lanjut untuk menghimpun informasi lingkungan lewat seni lukis.” Melalui mata pelukis dan seniman lainnya,  dia berharap dapat memperoleh informasi tentang fenomena alam masa silam yang hingga kini luput dari perhatian para ilmuwan.

Gunung Tambora pernah memuntahkan material erupsi 55 juta ton berupa gas sulfur-dioksida sejauh 43 kilometer ke angkasa pada awal April 1815. Kemurkaannya melahirkan bencana gunung api terburuk sepanjang ingatan manusia—lebih mengerikan ketimbang letusan Vesuvius yang mengubur Kota Pompeii di Italia pada abad pertama. Erupsi dahsyat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa inilah menjadi biangnya.

Dampak letusan Tambora sungguh mahadahsyat dan mengglobal. Setahun setelah erupsi, Eropa dan juga Amerika bagian timur dilanda musim dingin yang berkepanjangan, dengan suhu dingin yang jauh lebih rendah ketimbang biasanya.

Zerefos mengakhiri paparannya dalam jurnal tersebut dengan mengutip pendapat salah satu pelukis sohor asal Inggris yang menggandrungi romantisme pemandangan, Joseph Mallord William Turner. “Saya tidak melukis sesuatu supaya bisa dimengerti, tetapi saya berharap dapat menunjukkan seperti apa suasana saat itu.”


"The Lake, Petworth: Sunset, Fighting Bucks" karya  J.M.W. Turner pada 1828. Ini merupakan karya yang melukiskan terbenamnya matahari di luar peristiwa erupsi besar gunung berapi. Bandingkan warna matahari dalam karya bertema latar sama pada 1816-1817.

Kepingan Es Berputar Seukuran UFO Muncul Tiba-tiba di Sungai


 Pola lingkaran berputar yang memiliki ukuran seperti UFO, muncul secara tiba-tiba di sungai Presumpscot, Maine, AS.

Namun, itu bukanlah hal aneh. Fenomena alam langka tersebut memang kerap muncul di wilayah-wilayah yang dingin.

Foto yang beredar menunjukkan lingkaran es dalam skala besar, ukurannya sangat mencolok dibanding bangunan maupun lahan parkir yang ada di dekatnya.

Media lokal melaporkan, kepingan es itu kira-kira memiliki lebar 100 meter–dan kemungkinan bisa bertambah luas seiring berjalannya waktu.

Rob Mitchell, yang memiliki bangunan di sekitar sungai, mengatakan, lingkaran es juga menjadi 'rumah' bagi satwa liar yang ada di sana. "Bebek-bebek duduk di atasnya," ujar Mitchell kepada Press Herald.

Ketika pemerintah setempat mengunggah gambar kepingan es di Facebook, beberapa orang berkomentar bahwa itu berasal dari luar angkasa.

"Mungkin alien mendarat di sana," ujar salah satu pengguna Facebook.

Faktanya, kepingan es tersebut adalah hasil dari serangkaian efek fisik aneh yang membuat lingkaran terbentuk dengan sendirinya. Biasanya, itu terjadi di sungai yang jauh dari kota dan tidak sebesar seperti yang ditemukan di sungai Maine.

Para ilmuwan mengatakan, fenomena ini berkaitan dengan pusaran air yang membeku. Mereka terbentuk ketika pusaran air mulai meninggalkan wilayah yang bebas es, tapi kemudian terjebak dan membeku. Menangkap lebih banyak es dan menebal seiring berjalannya waktu, dengan lingkaran sempurna seperti pusaran air pada umumnya.

Kepingan es seperti itu diketahui dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama, berputar-putar hingga beberapa bulan.

Tuesday, September 6, 2022

Thamugadi, Kota Romawi yang Tersembunyi di Bawah Hamparan Pasir Sahara

Kekaisaran Romawi menjadi salah satu kekaisaran terhebat dalam sejarah. Wilayahnya membentang dari Eropa, Asia hingga Afrika. Sebagian sisa-sisa kota Romawi masih bisa kita nikmati saat ini. Namun ada satu kota yang lenyap terkubur dan terlupakan selama seribu tahun setelah mengalami masa keemasan. Terletak di benua Afrika, Thamugadi merupakan kota Romawi yang tersembunyi di bawah hamparan pasir Sahara.

Didirikan oleh Kaisar Trajan sekitar tahun 100 Masehi, Thamugadi ini juga dikenal sebagai Timgad atau Tamugas. Kota ini terletak di provinsi Mumidia, Afrika Utara.

Rumah bagi para veteran Legiun Augustan Ketiga, Thamugadi berkembang selama ratusan tahun. “Dengan cepat, kota ini makin makmur sehingga menjadi target yang menarik bagi para perampok,” tutur RubĆ©n Montoya di laman National Geographic.

Setelah invasi Vandal pada tahun 430, serangan berulang kali melemahkan pos terdepan Romawi di Afrika. Kota yang sempat jaya itu tidak dapat pulih seperti sedia kala dan ditinggalkan selama tahun 700-an.

Pasir gurun menyapu dan mengubur Thamugadi. Seribu tahun berlalu Thamugaldi ditemukan tim penjelajah Skotlandia pada tahun 1700-an.

Konsul yang memiliki rasa ingin tahu tinggi

Bangsawan Skotlandia James Bruce menjabat sebagai konsul Inggris di kota pesisir Aljir (sekarang ibu kota Aljazair) pada tahun 1763. Ia dikenal karena karena penemuannya tentang sumber Nil Biru di Ethiopia.

Bruce memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Sebelum kedatangannya di Aljazair, ia menghabiskan beberapa bulan di Italia untuk mempelajari sejarah kawasan Afrika. Termasuk peranan Afrika di zaman kuno.

Sayangnya, ia bersilang pendapat dengan atasannya. Bentrokan tidak dapat dihindari sehingga ia pun dipecat. Setelah kehilangan jabatannya pada 1765, alih-alih kembali ke tanah air, ia melanjutkan petualangannya melintasi Afrika. Bersama seniman Luigi Balugani, keduanya membuat catatan dan membuat ilustrasi yang menggambarkan tempat dan orang yang dijumpai.

Pencarian jejak peradaban kuno

Di awal pengembaraan, mereka melakukan perjalanan ke selatan menuju gurun Aljazair untuk mencari jejak peradaban kuno. Bruce dan Balugani menemukan beberapa reruntuhan Romawi saat menjelajahi bagian-bagian yang lebih terpencil di wilayah itu.

Pada 12 Desember 1765, mereka mencapai wilayah yang disebut Thamugadi. Banyak yang percaya bahwa kedua penjelajah ini merupakan orang Eropa pertama dalam berabad-abad yang mengunjungi situs tersebut. Situs Thamugadi berada di lereng utara pegunungan Aurs.

“Ini adalah kota kecil, tetapi penuh dengan bangunan yang elegan,” tulis Bruce dalam buku hariannya. Dia yakin bahwa reruntuhan ini adalah sisa-sisa kota yang didirikan oleh Trajan lebih dari satu milenium sebelumnya.

Pada hari pertama, Bruce merekam dan Balugani menggambar “lengkungan kemenangan” Trajan. Mereka kembali keesokan harinya untuk melanjutkan penjelajahan dan mengidentifikasi sebuah amfiteater.

Bruce membersihkan pasir dan menemukan patung kaisar Romawi Antoninus Pius, dan istrinya, Faustina. Baginya, karya seni itu memiliki keindahan yang luar biasa.

Bruce mengubur kembali patung-patung itu di pasir dan melanjutkan perjalanan. Ia mendokumentasikan lebih banyak situs di seluruh Afrika Utara dan Ethiopia, bahkan mengeklaim penemuan sumber Nil Biru.

Sepeninggal Balugani pada tahun 1770, Bruce kembali ke London pada tahun 1774. Ketika melaporkan temuannya, banyak yang skeptis dan tidak percaya. Tidak percaya dengan reaksi ini, Bruce pensiun dan kembali Skotlandia.

Pada 1780, ia mulai menulis memoar tentang waktunya di Afrika. Karyanya yang terdiri dari lima jilid ini dikenal sebagai “Travels to Discover the Source of the Nile”. Buku itu diterbitkan pada tahun 1790. Ketika Bruce meninggal empat tahun kemudian, sebagian besar masyarakat Inggris masih menolak untuk mengakui prestasinya.

Kemegahan Romawi di Afrika

Setelah kunjungan Bruce, Thamugadi terlupakan di gurun pasir. Baru pada tahun 1875, situs ini dikunjungi oleh Robert Lambert Playfair, konsul Inggris di Aljir. Dalam bukunya tahun 1877, Travels in the Footsteps of Bruce in Algeria and Tunis, Playfair memberi penghormatan kepada pendahulu konsulernya. Ia mengunjungi beberapa situs yang telah direkam Bruce.

Deskripsi Playfair tentang Thamugadi menawarkan lebih banyak detail dibandingkan dengan catatan yang dibuat Bruce. “Pengamatannya mengungkapkan fungsi penting kota yang dibangun di persimpangan enam jalan Romawi,” Montoya menambahkan.


Menurut pendapat Playfair, arsitekturnya lebih cemerlang dari kota tetangga Romawi, Lambaesis, ibu kota militer Nubia. Ia menyimpulkan bahwa Thamugadi adalah pusat kegiatan komersial dan pertanian.

Sama seperti Bruce dan Balugani, Playfair pun dibuat kagum akan keindahan Lengkungan Kemenangan Trajan. Di bawahnya, masih terlihat bekas roda lalu lintas yang melewati kota di sepanjang jalan raya kekaisaran yang sibuk.

Prancis mengambil alih situs tersebut pada tahun 1881 dan mempertahankan keberadaannya di sana hingga tahun 1960. Selama periode tersebut, situs tersebut digali secara sistematis. Setelah terkubur selama berabad-abad di bawah pasir, Thamugadi digali secara keseluruhan.

Krisis yang menyebabkan kejatuhan Thamugadi

Penelitian yang dilakukan oleh Playfair dan sarjana Prancis memungkinkan sejarawan untuk mengumpulkan sejarah kota. Kota ini awalnya bernama Colonia Marciana Trajana Thamurga, untuk menghormati saudara perempuan Kaisar Trajan.

Pada pertengahan abad ketiga Masehi, populasi kota mencapai 15.000. Penduduknya menikmati bangunan umum yang bagus, termasuk perpustakaan yang megah dan total 14 pemandian. Kenyamanan fasilitas Thamugadi dan keberadaan mosaik membuat para sejarawan membandingkan kota ini dengan Pompeii. Thamugadi menjadi manifestasi dari kekuatan Romawi di perbatasan selatan kekaisaran.

Lokasi kota adalah kunci untuk melindungi perbatasan selatan Kekaisaran Romawi. Afrika Utara adalah pusat produksi biji-bijian. Legiun Augustan Ketiga Romawi ditempatkan di Thamugadi untuk melindungi biji-bijian dan pengangkutannya ke Roma.

Beberapa ratus orang akan diberhentikan dari legiun setiap dua tahun dan mereka menetap di Thamugadi. Ini semacam penghargaan atas pelayanan mereka. Kehadiran mantan legiun itu dapat menahan para penyerang.

Namun masa keemasannya tidak bertahan lama. Krisis di perbatasan Romawi memengaruhi Thamugadi.

Setelah dijarah oleh Vandal selama abad kelima, kota mulai tenggelam ke dalam kehancuran. Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi barat, Thamugadi menikmati kebangkitan singkat sebagai pusat Kristen. “Sebuah benteng dibangun di luar kota pada tahun 539,” imbuh Montoya. Namun akhirnya kota ini ditinggalkan saat invasi Arab pada tahun 700-an.

Sejak saat itu, Sahara secara bertahap menutupi Thamugadi dan menyembunyikannya selama seribu tahun. Sampai akhirnya, James Bruce dan yang lainnya menemukan kembali pos Romawi yang terkubur itu. Thamugadi ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1982.

Unik, Kerangka dari Abad Pertengahan Ditemukan Memakai Sepatu Bot


Di lumpur sungai Thames, London, kerangka aneh yang tersembunyi selama 500 tahun akhirnya mendapatkan cahaya matahari. Wajahnya menghadap ke bawah, satu tangan terangkat, dan yang paling unik: ia memakai sepasang sepatu bot kulit hitam setinggi lutut.

Sepatu bot inilah yang membuat para arkeolog bingung. Sebab, jarang sekali bisa menemukan alas kaki seperti itu. Apalagi, di dalam sungai.

"Sangat langka untuk menemukan sepatu bot dari abad ke-15," ujar Beth Richardson, dari Museum of London Archaeology (MOLA).

"Dan jarang juga bisa menemukan sepatu bot yang masih ada di pemakainya. Sebagian besar alas kaki dari abad pertengahan yang ditemukan di London, pada awalnya dibuang ke tumpukan sampah dan bertahan di sana," paparnya.

Kerangka ini ditemukan sebagai bagian dari penggalian untuk Thames Tideway Tunnel, sebuah proyek untuk mengalihkan limbah dari sungai Thames agar terhindar dari pencemaran.

Fakta bahwa kerangka tersebut masih menggunakan sepatu bot--juga dari lokasi dan kondisi penemuannya--memungkinkan para arkeolog untuk membuat beberapa dugaan terkait kematian dan kehidupan ia sebelumnya.
Sepatu bot-nya dibuat dengan baik, dijahit dengan benang rami, solnya diperkuat dan diisi dengan jenis tanaman yang tidak diketahui--kemungkinan agar sepatu tersebut lebih pas di kaki.

Ukuran sepatu yang panjang hampir selutut, menunjukkan bahwa kerangka ini dulunya mungkin bekerja di sungai sebagai nelayan atau pelaut sehingga butuh bot untuk melindungi kakinya.

Gaya hidup ini sesuai dengan model sepatu bot. Di abad ke-14 dan 15, bot bukan penanda majunya fashion, melainkan kerap dipakai sehari-hari oleh kelas pekerja.

Menurut pata arkeolog, kerangka ini mati secara tragis, entah karena kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan disengaja. Pasalnya, jika memang ia sengaja dikuburkan dengan layak, pasti keluarga mencopot sepatu botnya terlebih dahulu.

Namun, bagaimana pun juga, karena tulangnya tidak menunjukkan tanda trauma, peneliti belum tahu apakah ia didorong, tak sengaja terjatuh, atau melompat ke sungai.

Penemuan kerangka dengan sepatu bot ini diharapkan dapat mengungkap lebih banyak tentang realitas di masa itu. Apa yang orang-orang abad pertengahan pakai, bagaimana mereka mengenakannya, hingga hubungan kehidupan mereka dengan sungai Thames yang tersohor.

Monday, September 5, 2022

Inilah Target Tempat Pendaratan Astronaut di Bulan Misi Artemis NASA

Saat itu tahun 1972 ketika manusia terakhir mendarat di Bulan. Program Apollo dihentikan setelahnya. Akan tetapi minat di Bulan telah dihidupkan kembali. Dengan Tiongkok yang telah mendaratkan robot
dan mengibarkan benderanya—di sisi jauh Bulan pada tahun 2020. NASA juga merencanakan program Artemis untuk mendarat di wilayah kutub selatan bulan, mungkin antara tahun 2025 dan 2028. Astronaut kemudian akan memusatkan eksplorasi mereka di area ini.

Apa yang membuat wilayah kutub selatan begitu menarik adalah karena Matahari melayang di dekat cakrawala. Ini dikarenakan kemiringan sumbu Bulan. Lantai kawah tumbukan yang cekung tidak pernah melihat sinar matahari dan berada dalam bayangan abadi.

Akibatnya, daerah yang dibayangi ini sangat dingin—bahkan lebih dingin daripada permukaan Pluto, dengan suhu sekitar -170
°
C hingga -240°C dan mendekati nol mutlak. Pada suhu yang lebih tinggi, es akan menyublim dan dengan sangat cepat berubah menjadi gas di ruang hampa. Namun dalam cuaca dingin yang ekstrem ini, uap air dan zat mudah menguap lainnya dapat terperangkap atau membeku di dalam atau bahkan di tanah bulan.

Potensi kehadiran es ini membuat lantai kawah yang gelap itu menarik untuk dijelajahi. Tidak hanya pelabuhan es yang bisa menjadi petunjuk tentang bagaimana air diintegrasikan ke dalam sistem Bumi-Bulan. Itu juga bisa menjadi sumber daya penting untuk digunakan oleh astronaut masa depan untuk konsumsi, perisai radiasi, atau sebagai propelan roket.

Kita sangat tidak tahu tentang wilayah kutub selatan Bulan. Tapi sekarang tim peneliti internasional telah berhasil menjelaskan dengan mengembangkan metode untuk lebih memahami wilayah ini.

Karya mereka telah dimuat dalam edisi terbaru jurnal Geophysical Research Letters pada 26 Agustus. Makalah mereka diberi judul "Cryogeomorphic Characterization of Shadowed Regions in the Artemis Exploration Zone." Penulis utama adalah Valentin Bickel, seorang peneliti pascadockoral di Ketua Glasiologi dan sebelumnya di Ketua Geologi Teknik di ETH Zurich.


Tim menggunakan gambar yang diambil oleh Lunar Reconnaissance Orbiter Camera, yang telah mendokumentasikan permukaan Bulan selama lebih dari satu dekade. Kamera ini menangkap foton yang dipantulkan ke daerah bayangan dari pegunungan dan dinding kawah yang berdekatan.

Sekarang, dengan bantuan kecerdasan buatan, tim telah berhasil menggunakan data ini secara efisien sehingga area yang sebelumnya gelap menjadi terlihat. Setelah menganalisis gambar mereka, tim telah menentukan bahwa tidak ada air es yang terlihat di area gelap Bulan ini—meskipun keberadaannya telah dibuktikan oleh instrumen lain.

"Tidak ada bukti es permukaan murni di dalam area yang dibayangi, menyiratkan bahwa es apa pun harus bercampur dengan tanah bulan atau terletak di bawah permukaan," Tutur Bickel.

Hasil yang dipublikasikan dalam makalah baru ini merupakan bagian dari penyelidikan komprehensif tentang lokasi pendaratan Artemis yang potensial dan opsi eksplorasi di permukaan bulan yang dilakukan oleh LPI-JSC Center for Lunar and Science and Exploration. Sejauh ini, tim telah memeriksa lebih dari setengah lusin lokasi pendaratan potensial untuk misi Artemis.

Temuan studi ini bisa memiliki implikasi langsung untuk misi masa depan, termasuk Misi Mesin Intuitif 2, yang akan dilakukan secara komersial oleh start-up. Misi robotik pada musim semi 2023 ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis sampel tanah pertama dari daerah bayangan kutub selatan Bulan, sebelum para astronaut mencapai Bulan.

"Kami telah menemukan sejumlah kawah bayangan yang sebelumnya tidak diketahui dan fitur permukaan lainnya yang mungkin penting untuk lokasi di mana pendarat hopper mendarat," kata Bickel.

Temuan penelitian baru ini akan memungkinkan perencanaan rute yang tepat ke dan melalui daerah yang dibayangi secara permanen. Sehingga akan sangat mengurangi risiko yang dihadapi astronaut Artemis dan penjelajah robot. Berkat gambar baru, astronaut dapat menargetkan lokasi tertentu untuk mengambil sampel dan menilai distribusi es.

Sunday, September 4, 2022

Para Ilmuwan Temukan ‘Peternakan’ Gurita Terbesar di Laut Dalam

Di perairan lepas pantai California, ilmuwan kelautan menemukan dunia keajaiban cephalopoda – dengan sejumlah besar gurita berkerumun di atas telur-telur mereka di sisa gunung berapi bawah laut yang telah punah.

Ada sekitar seribu gurita yang ditemukan. Dengan ini, wilayah Davidson Seamount dikonfirmasi sebagai area pembibitan gurita terbesar di laut dalam.

“Belum pernah ditemukan gurita sebanyak ini di Pantai Barat AS, tidak juga di cagar alam kami,” ujar Chad King, pemimpin eksplorasi Nautilus.

Saat memindahkan kendaraan bawah laut di kedalaman 2 mil, para ilmuwan menemukan kumpulan gurita Muusoctopus robustus yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sekitar 99% dari mereka terlihat meringkuk terbalik untuk melindungi telur yang diletakkan di celah batu karang.

“Kami menuruni sisi timur dan boom, saat itulah kami melihat gurita di mana-mana,” kata King.

Penemuan tersebut termasuk langka karena gurita selama ini dikenal sebagai hewan penyendiri. Sulit melihat mereka berkelompok di satu tempat.

Para ilmuwan mengatakan, di Davidson Seamount, air tampak ‘berkilau’ di sekitar gurita. Ini mengindikasikan bahwa air yang lebih hangat merembes keluar dari gunung berapi. Kemungkinan gurita sengaja mencari air hangat untuk menetaskan telur mereka.

Meski begitu, sempat ada perdebatan di antara peneliti. Mengingat gunung berapi bawah laut Davidson telah punah, bisa jadi ia tidak memancarkan panas

Misteri ini akan terpecahkan jika peneliti dapat mengonfirmasi apakah ‘air berkilau’ itu benar-benar menunjukkan kehangatan. Untuk memastikannya, mereka akan mengirim kembali ROV ke dasar laut.

Dahsyatnya Kecepatan Isap Lubang Hitam Terhadap Materi di Luar Angkasa


 Hingga saat ini, lubang hitam masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan, sedikit demi sedikit misteri dan teka-teki ini pun perlahan terungkap.

Seorang ilmuan dari University of Leicester menemukan bahwa lubang hitam dapat menarik objek atau materi lainnya dengan kecepatan sepertiga kecepatan cahaya.

Penelitian yang dilansir dari Monthly of the Royal Astronomical Society, pada awal September lalu, mengungkapkan pengalaman tim ilmuan dalam menyaksikan bagaimana massa jatuh langsung ke lubang hitam pada kecepatan tersebut.

"Kami melihat semuanya, dan kami mampu mengukur jumlah materi yang jatuh dengan ukuran sekitar massa Bumi," ucap Ken Pounds, peneliti di University of Leicester.

Pounds mengamati momen tersebut dengan menggunakan metode astronomi X-ray, yang menggunakan sinar X untuk mengamati dan mendeteksi objek di ruang angkasa.

Hampir di setiap galaksi memiliki lubang hitam supermasif di pusatnya, termasuk galaksi Bima Sakti.

Dengan menggunakan observatorium sinar-X XM-Newton Badan Antariksa Eropa, tim bisa melihat lubang hitam yang sangat besar, yang memiliki ukuran 40 juta kali massa Matahari. Lubang hitam ini terletak di pusat galaksi PG211+143 yang berjarak sekitar 1 miliar tahun cahaya.

Saat materi tersedot ke lubang hitam, materi akan mengorbit pada lubang hitam hingga akhirnya perlahan-lahan terisap masuk ke lubang hitam.

Materi yang terisap lubang hitam akan semakin panas karena kecepatannya, sehingga menjadi lebih bercahaya juga. Dengan inilah cara peneliti mendeteksi massa yang terisap.

"Ketika materi mendekati lubang hitam, materi akan memanas ke suhu di mana cahaya utama yang berasal dari materi itu adalah sinar-x. Materi tersebut amat panas, sekitar 10 juta atau 20 juta derajat. Ini mengapa pengamatan harus dilakukan menggunakan observatorium sinar-x," ucap Pounds.

Astronom yang melakukan pengamatan menemukan jika materi yang tersedot ke lubang hitam jatuh dengan kecepatan 30 persen kecepatan cahaya atau sekitar 100.000 kilometer/detik sebelum akhirnya akan tertelan oleh lubang hitam.

Saturday, September 3, 2022

Dunia Hewan: Lumba-lumba Punya Jaring Aliansi Terbesar di Luar Manusia


 Lumba-lumba hidung botol jantan membentuk jaringan aliansi multi-level terbesar yang diketahui di luar manusia. Demikian yang ditunjukkan oleh tim internasional yang dipimpin oleh para peneliti dunia hewan di University of Bristol. Hubungan kerja sama antarkelompok ini meningkatkan akses lumba-lumba jantan ke sumber daya yang diperebutkan.

Para ilmuwan, dengan rekan-rekan dari University of Zurich dan University of Massachusetts, menganalisis data asosiasi dan pasangan lumba-lumba. Ini untuk memodelkan struktur aliansi antara 121 lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik jantan dewasa di Shark Bay di Australia Barat.

Temuan mereka telah diterbitkan di jurnal PNAS pada 29 Agustus dengan judul "Strategic intergroup alliances increase access to a contested resource in male bottlenose dolphins."

Lumba-lumba jantan di Shark Bay membentuk aliansi orde pertama dari dua-tiga pejantan untuk secara kooperatif mengejar pasangan dengan betina individu. Aliansi orde kedua dari empat sampai empat belas pejantan yang tidak berhubungan bersaing dengan aliansi lain untuk mendapatkan akses ke lumba-lumba betina. Sedangkan aliansi orde ketiga terjadi antara aliansi orde kedua yang bekerja sama.


"Kerja sama antara sekutu tersebar luas dalam masyarakat manusia dan salah satu keunggulan kesuksesan kita. Kapasitas kita untuk membangun hubungan strategis dan kooperatif di berbagai tingkat sosial. Seperti perdagangan atau aliansi militer baik secara nasional maupun internasional, pernah dianggap unik untuk spesies kita,” kata rekan penulis Dr. Stephanie King, Lektor Kepala dari Bristol's School of BiologicalSciences.

"Kami tidak hanya menunjukkan bahwa lumba-lumba hidung botol jantan membentuk jaringan aliansi bertingkat terbesar yang diketahui di luar manusia. Namun hubungan kerja sama antarkelompok, bukan sekadar ukuran aliansi, memungkinkan pejantan menghabiskan lebih banyak waktu dengan betina. Sehingga meningkatkan keberhasilan reproduksi mereka," tambahnya.

Dr. Simon Allen, Dosen Senior di Bristol's School of Biological Sciences, yang berkontribusi dalam penelitian ini, mengatakan, "Kami menunjukkan bahwa durasi di mana tim lumba-lumba jantan ini berhubungan dengan betina bergantung pada hubungan yang baik dengan sekutu tingkat ketiga. Yaitu, ikatan sosial antara aliansi mengarah pada manfaat jangka panjang bagi para jantan ini."

Kerja sama antarkelompok pada manusia dianggap unik dan bergantung pada dua fitur lain yang membedakan manusia dari nenek moyang kita yang sama dengan simpanse. Di mana evolusi ikatan pasangan dan pengasuhan oleh pejantan. "Namun, hasil kami menunjukkan bahwa aliansi antarkelompok dapat muncul tanpa fitur ini, dari sistem sosial dan perkawinan yang lebih mirip simpanse," kata Richard Connor, Profesor Emeritus di University of Massachusetts dan sekarang berafiliasi dengan Florida International University, yang ikut memimpin studi dengan Dr. King.


Publikasi pentingnya aliansi tingkat ketiga atau antarkelompok pada lumba-lumba pada tahun 2022 memiliki arti khusus. Sebab, tim tersebut merayakan peringatan 40 tahun dimulainya penelitian lumba-lumba Shark Bay pada tahun 1982 dan peringatan 30 tahun publikasi pada tahun 1992 dari penemuan dua tingkat mereka. Pembentukan aliansi pejantan, juga diterbitkan dalam jurnal PNAS.

"Penelitian non-primata jarang dilakukan dari departemen antropologi, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa wawasan penting tentang evolusi karakteristik yang sebelumnya dianggap sebagai manusia unik dapat diperoleh dengan memeriksa taksa berotak besar lainnya yang sangat sosial," Kata Profesor Dr. Michael Krützen, seorang penulis studi dan Kepala Institut Antropologi di Universitas Zurich.

Dr. King menyimpulkan: "Pekerjaan kami menyoroti bahwa masyarakat lumba-lumba, serta primata bukan manusia, adalah sistem model yang berharga untuk memahami evolusi sosial dan kognitif manusia."

Friday, September 2, 2022

Bumi Dapat Hilang Ketika Dua Gelombang Gravitasi Saling Bertabrakan

Mencari cara untuk menghancurkan bumi? Para ilmuwan mungkin telah menemukan caranya, dengan memanfaatkan benda-benda kosmis yang jauh bahkan mungkin di luar jangkauan planet. Para peneliti meyakini hal tersebut dapat menghancurkan bumi.

Lantas bagaimanakah cara kerjanya?

Peneliti menjelaskan bahwa bumi dapat hancur karena lubang hitam. Lubang hitam dapat terbentuk dengan melibatkan gelombang gravitasi yang bertabrakan.

Gelombang gravitasi adalah riak di ruang angkasa yang dihasilkan oleh gangguan atau gerakan benda-benda kosmik besar. Gelombang gravitasi biasanya berbentuk bulat dan bergerak ke luar. Namun, gelombang gravitasi juga dapat digerakkan oleh pesawat, sehingga dapat bergerak maju seperti gelombang pasang. Jenis gelombang gravitasi ini dihasilkan ketika benda atau partikel bergerak dengan kecepatan cahaya.

Ketika dua gelombang gravitasi yang digerakkan pesawat saling bertabrakan, maka akan terbentuk singularitas. Singularitas tersebut diketahui mirip seperti yang ditemukan pada inti lubang hitam.

Memang terdengar tidak menyenangkan, namun hal tersebut bukanlah sebuah masalah karena singularitas biasanya menghilang dengan cepat.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bagaimana tabrakan gelombang gravitasi bisa menimbulkan malapetaka bagi planet ini. Fisikawan Frans Pretorius dan William E. East menghitung efek tabrakan antara satu titik dari gelombang gravitasi bulat dan gelombang gravitasi yang digerakkan oleh pesawat.

Peneliti kemudian menyimpulkan, jika memiliki cukup energi, maka ruang-waktu bisa menyelimuti singularitas dan menciptakan lubang hitam di sekitarnya. Pada akhirnya, energi yang kuat dari gelombang ini pun akan terserap.

Tidak ada satupun benda dan cara yang dapat menghasilkan cukup energi yang diperlukan untuk membentuk lubang hitam dari gelombang gravitasi. Namun, jika hal tersebut terjadi dan cukup dekat dengan Bumi, maka kehancuran pasti akan terjadi.

Gelombang gravitasi yang cukup kuat untuk menciptakan lubang hitam pasti akan melenyapkan semua jejak kehidupan yanf berada di dekatnya.

"Anda tidak ingin berada di dekatnya, dan jika itu akan meregangkan Bumi sejauh ribuan kilometer dan semuanya akan hancur," kata Vitor Cardoso, astrofisikawan dari University of Lisbon.

Gajah Terlindung dari Kanker Karena Gen Zombie Dalam Tubuhnya


Manusia dan gajah sama-sama memiliki rentang hidup sekitar 70 tahun. Menariknya, gajah memiliki sekitar 100 sel kanker lebih banyak daripada manusia. Meskipun demikian, hanya 5 persen dari gajah di dunia yang diprediksi mati karena kanker. Sedangkan manusia memiliki angka yang lebih besar. Diperkirakan 17 persen manusia di dunia meninggal karena kanker.

Mencoba mengungkapkan fenomena tersebut, peneliti dari University of Chicago melakukan penelitian yang hasilnya dimuat dalam jurnal Cell Reports. 

Peneliti menjelaskan bahwa manusia dan hewan sama-sama memiliki satu salinan gen p53 yang bekerja sebagai penekan tumor. Gen ini memungkinkan tubuh untuk mengenali DNA yang rusak dan tidak diperbaiki. 

Namun, tak diduga, mereka menemukan bahwa gajah ternyata memiliki 20 salinan p53. Hal tersebut membuat sel gajah secara signifikan lebih sensitif terhadap DNA yang rusak.

"Gen-gen tersebut menduplikasi sepanjang waktu, meskipun terkadang mereka membuat kesalahan dengan menghasilkan versi non-fungsional yang dikenal sebagai pseudogen, kita sering menyebut ini sebagai gen yang mati," kata Vincent Lynch, Ph.D., dari University of Chicago.

Saat mempelajari gen p53 pada gajah, peneliti menemukan bahwa pseudogene yang disebut leukemia inhibitory factor 6 (LIF6) justru berevolusi. Seperti bangkit dari kematian, LIF6 berubah menjadi gen kerja yang berharga. 

Gajah memiliki delapan gen LIF, tetapi hanya LIF6 yang diketahui berfungsi. LIF6 yang diaktifkan oleh p53 bekerja untuk merespon DNA yang rusak dengan membunuh sel. Gen LIF6 membuat protein yang berjalan ke mitokondria - sumber energi utama sel. Protein itu menusuk lubang di mitokondria sehingga menyebabkan sel mati.

"Seperti zombie, gen yang sudah mati kembali hidup, ketika gen tersebut dihidupkan oleh DNA yang rusak, ia membunuh sel itu dengan cepat, ini menguntungkan, karena dapat merespons terhadap kesalahan genetika, kesalahan yang dibuat ketika DNA sedang diperbaiki, dengan membunuh sel dapat mencegah kanker yang datang," kata Lynch.

"Kita dapat menggunakan trik evolusi untuk mencoba mencari tahu kapan gen yang mati ini menjadi berfungsi kembali," kata Lynch. 

Peneliti menjelaskan bahwa hewan yang berukuran besar cenderung berumur panjang. Badan yang besar juga berarti memiliki sel yang lebih banyak pula. Hewan seperti gajah memiliki pegembangan mekanisme yang kuat untuk menekan atau menghilangkan sel-sel kanker.

Penemuan tersebut diyakini oleh peneliti memainkan peran penting dalam pengembangan dunia medis pada manusia. Penelitian lebih lanjut akan mencari tahu lebih dalam mengenai p53 dan LIF6, sehingga dapat membuka jalan untuk mengembangkan obat. Cara kerjanya adalah dengan meniru fungsi dari dua gen yang secara alami ditemukan pada gajah.

Namun, menurut peneliti, pengembangan dari penemuan tersebut diprediksi akan memakan waktu yangcukup lama. "Mengembangkan pengobatan terbaru adalah proses yang sangat rumit dan butuh beberapa dekade," ucap Lynch.