Agen bola Piala Dunia

Silakan Hubungi Cs kami untuk informasi lebih lanjut.

SELAMAT DATANG DI BLOG PREDIKSI CERIA4D

Blog Prediksi Resmi dari BO CERIA4D

Lomba Tebak 3D -2Line Bersama CERIA4D

bagi yang ingin mengikuti Silakan bergabung di Group Facebook kami "DONATAN4D Agent Togel Terpercaya"

Link WAP Donatan4D

Kini Hadir Versi Handphone Untuk memudahkan Para Member melakukan Betting dimana saja dan kapan saja.

Donatan4D bandar Togel Online Terpercaya

Silakan Hubungi Kami melalui Kontak di Atas

Monday, September 12, 2022

Asteroid yang Jatuh ke Laut Dapat Membentuk Kehidupan di Bumi dan Mars


Para ilmuwan mengatakan, asteroid kuno yang jatuh ke lautan kemungkinan dapat membantu menciptakan kehidupan.

Dengan menembakkan bahan berbeda menggunakan propelan, para peneliti menemukan bahwa asam amino dapat terbentuk ketika meteorit menabrak perairan.

Itu bisa membantu membawa molekul yang membentuk kehidupan di Bumi—begitu pula di Mars, ungkap mereka.

Ilmuwan telah mengajukan dua penjelasan mengenai kedatangan blok-blok pembangun kehidupan di Bumi: baik karena dibawa oleh meteorit atau memang terbentuk di planet ini.

Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan dari beberapa institusi di Jepang, lebih merujuk pada poin yang pertama.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan simulasi reaksi yang akan terjadi ketika meteorit menabrak lautan. Mereka melakukannya dengan menembakkan karbon dioksida, nitrogen, air, dan besi secara bersamaan, menggunakan senjata propelan di laboratorium.

Mereka menemukan asam amino seperti glisin dan alanin. Asam amino semacam itu merupakan unsur utama protein, yang pada gilirannya akan mengkatalisasi jenis reaksi biologis yang membentuk kehidupan.


Sementara itu, para ilmuwan menduga hal serupa juga pernah terjadi di Mars. Mengingat Planet Merah tersebut dulu memiliki lautan sendiri.

“Atmosfer Mars memiliki gas yang sama—karbon dioksida dan nitrogen—seperti Bumi purba. Oleh sebab itu, proses yang sama bisa saja terjadi,” tulis mereka.


Dinosaurus Pterosaurus Mengajarkan Sistem Penerbangan yang Baik


Manusia telah belajar banyak dari burung, kelelawar, dan serangga ketika akan merancang mesin terbang sendiri. Namun sebenarnya, manusia lalai mengambil pelajaran dari burung yang telah punah. Burung tersebut bernama Pterosaurus, merupakan hewan terbesar yang pernah terbang di langit, membuat aerodinamika mereka lebih relevan daripada binatang yang relatif kecil saat ini.

Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan lewat EurekAlert
, Liz Martin-Silverstone dari University of Bristol, mengatakan bahwa ada banyak hal yang sangat keren dalam catatan fosil yang tidak dijelajahi. Para insinyur penerbangan umumnya tidak melihat ke paleontologi ketika berpikir tentang inspirasi penerbangan.

“Jika kita hanya mencari inspirasi hewan modern, kita benar-benar kehilangan sebagian besar morfologi di luar sana dan mengabaikan banyak pilihan yang saya pikir bisa berguna," sebut Liz.

Banyak spesies yang punah hanya diketahui dari segelintir tulang, membatasi pengetahuan kita tentang pergerakan tubuh mereka. Namun Liz menunjukkan bahwa ini tidak selalu terjadi. Ada dua atau tiga fosil pterosaurus yang benar-benar luar biasa terawetkan yang memungkinkan untuk melihat lapisan berbeda di dalam membran sayapnya, memberikan wawasan tentang komponen berseratnya. Juga beberapa fosil cukup terlestarikan untuk menunjukkan perlekatan sayap di bawah pinggul.

Tidak mungkin pterosaurus dapat bersaing kecepatan dengan kebanyakan burung modern, tetapi mereka mungkin merupakan burung yang berkecepatan rendah yang efisien dan adaptasi untuk lokasi yang ketat, relevan untuk kendaraan yang dirancang untuk penggunaan perkotaan seperti mendarat di atap bangunan bertingkat tinggi.

Dalam Trends in Ecology & Evolution , para peneliti memperluas penelitian di luar pterosaurus, memberikan tinjauan luas tentang mode penerbangan yang berbeda secara substansial dari hewan hidup. Contoh dari asal-usul burung dinosaurus Yi qi, yang menggabungkan bulu-bulu dengan membran seperti kelelawar, dan mikroraptor, yang meskipun bukan penerbang sejati, ia menggunakan membran pada bagian depan dan belakang untuk gerak meluncur yang sangat terkontrol.

Ada pula dinosaurus Changyuraptor , yang memiliki ekor dan bulu belakang lebih lama daripada burung-burung modern, yang dianggap memungkinkan mereka untuk mengontrol kecepatan mereka saat mendarat.


Untuk hewan yang lebih besar, peluncuran bisa menjadi tantangan yang sama besarnya dengan tetap mengudara. Beberapa burung besar membutuhkan permulaan berlari, seperti halnya pesawat terbang harus meningkatkan kecepatannya sebelum lepas landas.

Namun, meskipun beberapa pterosaurus dengan berat hampir 300 kilogram, Mike Habib dari Museum Sejarah Nasional Los Angeles County berpendapat kekuatan membran sayap dan perlekatan otot mereka memungkinkan mereka melompat ke udara dengan sekali kepakan.

Pterosaurus juga diperkirakan mengembangkan mekanisme stabilisasi untuk menghindari risiko terombang-ambing oleh hembusan angin, mengingat area luas yang disajikan oleh selaput sayap mereka. Belum tahu pasti bagaimana mereka melakukannya.

Mungkin reptil terbang dari era dinosaurus telah diabaikan untuk dijadikan ke desain pesawat karena mereka dipandang sebagai ‘kegagalan’. Jika demikian, ini akan menjadi kesalahan. Pterosaurus bertahan selama 160 juta tahun, lebih lama dari burung modern, dan disesuaikan dengan indah untuk kondisi yang mereka hadapi.

Para Peneliti Temukan Planet-Planet Kerdil di Luar Orbit Neptunus

Umumnya kita mengenal ada delapan planet di tata surya. Di luar itu, kita mengenalnya sebagai planet-planet minor di kawasan awan Oort. Nah, baru-baru ini, para astronom menemukan planet-planet berukuran kecil di luar orbit Neptunus yang memperkaya khazanah kita mengenai tata surya.

Mereka menemukan 300 benda yang disebut trans-Neptunian objects (TNO), menggunakan data Dark Energy Survey (DES)  yang berada sangat jauh dari pusat tata surya. 

Meskipun awalnya DES dirancang untuk mempelajari galaksi dan supernova, tapi para peneliti berhasil mengembangkan cara baru untuk melacak pergerakan di langit.

Survei TNO dilakukan dengan pengukuran lebih teliti pada pergerakan objek-objek di luar Neptunus selama satu hingga dua jam.

“Jumlah TNO yang dapat ditemukan tergantung pada seberapa banyak kawasan langit yang dilihat, dan hal terkecil apa yang dapat Anda temukan,” kata Gary Bernstein, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini. 

Dengan memandang langit menggunakan DES, para ilmuwan menemukan 400 kandidat objek untuk kemudian diverifikasi sebagai penemuan baru.

“Kami memiliki daftar kandidat-kandidat objek ini, dan harus kami pastikan bahwa kandidat-kandidat ini benar-benar nyata,” kata Pedro Bernardinelli, pemimpin utama penelitian ini.

Dari 400, para peneliti menemukan 316 TNO dengan 139 objek baru yang belum pernah dipublikasikan. Beberapa dari mereka memiliki orbit lebih jauh yang melampaui Pluto--TNO sebelumnya yang sempat menjadi planet ke-9 di tata surya.

Setelah berhasil menggunakan DES untuk menemukan beberapa objek di luar orbit Neptunus, para ilmuwan menyampaikan bahwa tidak menutup kemungkinan untuk mengungkap TNO baru lainnya. Diketahui ada sekitar 500 TNO yang masih belum teridentifikasi dan akan diteliti dalam waktu dekat.

Para peneliti juga berencana menyusun katalog TNO yang berguna untuk menjadi referensi penelitian tata surya. 

“Ada banyak gagasan mengenai planet-planet raksasa yang dulu ada di tata surya dan tidak ada lagi, atau planet-planet yang jauh dan masif tetapi terlalu samar untuk kita ketahui,” kata Bernstein.

Sunday, September 11, 2022

Misteri di Balik Karya Seni Berusia 1.300 Tahun Dipecahkan oleh Sains

Sebuah karya seni patung kuda penari Tiongkok di museum Seni Cincinnati terlihat begitu realistis. Sehingga kuda yang tampak berapi-api itu seolah-olah siap untuk menerjang dari alasnya. Namun kurator seni Asia Timur Hou-mei Sung telah mempertanyakan keaslian hiasan rumbai di dahi kuda terakota tersebut yang menyerupai sebuah tanduk makhluk mitologi unicorn. Sebab, itu terlihat ganjil menurutnya.

Pihak museum pun akhirnya menghubungi asisten profesor kimia UC College of Arts and Sciences Pietro Strobbia untuk membantu menentukan apakah rumbai itu asli dari karya tersebut atau menjadi bagian yang ditambahkan pada waktu dekat.

"Banyak museum memiliki konservator tetapi belum tentu fasilitas ilmiah diperlukan untuk melakukan pemeriksaan semacam ini," kata Strobbia. "Jumbai dahi terlihat asli, tetapi museum meminta kami untuk menentukan dari bahan apa itu dibuat."

Strobbia dan kolaboratornya menulis tentang proyek tersebut untuk makalah yang diterbitkan dalam jurnal Heritage Science pada 9 Agustus dengan judul "Scientific investigation to look into the conservation history of a Tang Dynasty terracotta Dancing Horse."

Sung telah melihat banyak contoh patung kuno yang memberi penghormatan kepada kuda-kuda yang menari yang dilakukan untuk kaisar sejauh 202 SM. Namun tidak ada yang memiliki jumbai dahi, katanya. Apakah mungkin ditambahkan di kemudian hari?

"Saya percaya itu adalah kesalahan. Rumbai itu tidak pada posisi yang benar," katanya. "Potongan-potongan ini sangat tua. Mereka sering mengalami banyak perbaikan."

Patung ini disumbangkan ke museum Cincinnati oleh seorang kolektor pada tahun 1997. Kuda penari itu berasal dari dinasti Tang ketika patung-patung tersebut ditugaskan untuk tujuan mengubur mereka dengan royalti setelah kematian mereka, kata Sung.

Kuda-kuda penari dilatih untuk bergerak dalam waktu dengan tabuhan gendang. Sung berkata Kaisar Xuanzong dari abad kedelapan sangat menyukai kuda sehingga ia memiliki lebih dari 40.000 kandang kuda. Untuk satu perayaan ulang tahun, ia mengundang rombongan 400 kuda penari untuk membawakan "Song of the Upturned Cup."

"Selama akhir yang dramatis, seekor kuda akan menekuk lututnya dan mengatupkan cangkir di mulutnya dan menawarkan anggur kepada penguasa untuk mendoakannya panjang umur," kata Sung. "Ini menjadi sebuah ritual."

Untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar tentang karya tersebut, museum setuju dan mengizinkan Strobbia dari UC serta kolaborator seperti Claudia Conti di Institut Ilmu Warisan Italia mengambil 11 sampel kecil untuk dianalisis.

"Pembuatan patung itu indah. Kuda-kuda ini terkenal," kata Kelly Rectenwald, salah satu penulis makalah dan konservator objek asosiasi di Museum Seni Cincinnati. "Kami menilai risikonya sepadan dengan hadiahnya untuk menjawab pertanyaan itu.”

Para peneliti mengerahkan serangkaian uji molekuler, kimia, dan mineralogi dari mahakarya dan fitur-fiturnya tersebut. Mereka juga menggunakan teknik mutakhir seperti difraksi serbuk sinar-X, kromatografi ionik, dan spektroskopi Raman.

Strobbia selalu tertarik pada seni, dikelilingi oleh karya Raphael, Michelangelo, dan Bernini di Italia. "Saya pikir saya tumbuh sedikit manja datang dari Roma," katanya.

Dia dan rekan penelitinya menemukan bahwa memang, rumbai dahi patung itu terbuat dari plester, bukan terakota. Fitur itu ditambahkan ke patung menggunakan lem binatang.

Akhirnya, museum memutuskan untuk melepas rumbai sesuai dengan apa yang mereka ketahui tentang karya seni asli, kata Rectenwald. Di bawah rumbai, Rectenwald menemukan permukaan halus tanpa tanda-tanda yang mungkin terlihat di bawah hiasan pahatan. Ini memberikan lebih banyak bukti bahwa rumbai adalah tambahan berikutnya. Pada akhirnya, mereka pun memecahkan misteri yang telah dibuat selama 1.300 tahun.

Para peneliti juga menemukan bahwa dua jumbai lainnya diperbaiki pada waktu yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa patung itu adalah subjek dari berbagai upaya restorasi selama berabad-abad, kata Rectenwald. "Itu dipulihkan setidaknya dua kali dalam hidupnya," ujarnya. "Menemukan sesuatu yang baru tentang sebuah karya seni benar-benar menarik."

Mengapa Belum Ada Lagi Manusia yang Mengunjungi Bulan Sejak 1972?

Mendaratkan 12 orang di Bulan menjadi salah satu pencapaian terbaik NASA.

Para astronaut mengumpulkan bebatuan, mengambil foto, melaksanakan eksperimen, serta memasang bendera di Bulan, sebelum akhirnya kembali ke Bumi.

Namun, tinggalnya para astronaut di Bulan selama menjalankan program Apollo tersebut, tidak menciptakan keberadaan manusia yang abadi di sana.

Lebih dari 45 tahun setelah pendaratan di Bulan–melalui misi Apollo 17 pada Desember 1972 – ada banyak alasan mengapa belum ada manusia yang bisa kembali dan tinggal di satelit raksasa Bumi itu.

Para peneliti dan pengusaha berpikir, adanya ‘pangkalan’ astronaut di Bulan bisa berevolusi menjadi depot bahan bakar untuk semua misi ruang angkasa. Ini akan mengarahkan pada penciptaan teleskop yang belum pernah ada sebelumnya, memudahkan studi kehidupan di Mars, serta memecahkan misteri ilmiah tentang alam semesta. Pangkalan Bulan ini bahkan bisa memengaruhi ekonomi dunia melalui pengembangan wisata luar angkasa.

“Membangun pangkalan penelitian yang permanen di Bulan adalah langkah yang masuk akal. Kita bisa menuju ke sana dalam waktu tiga hari dari Bumi,” kata mantan astronaut Chris Hadfield kepada Bussiness Insider.

Meski begitu, para astronaut dan ahli mengatakan, ada hambatan yang besar dalam melaksanakan misi Bulan sehingga belum ada lagi yang ke sana selama lebih dari empat dekade. Apa saja kah faktor yang menghalanginya?

Rendahnya anggaran yang diberikan

Rintangan yang pasti dihadapi oleh setiap program luar angkasa adalah biaya yang tinggi.

Dalam sebuah undang-undang yang ditangani Maret 2017, Presiden Donald Trump memberikan anggaran tahunan kepada NASA sebesar 19,5 miliar dollar AS. Jumlah ini kemungkinan akan meningkat menjadi 19,9 miliar dollar AS pada 2019.

Biaya tersebut tampaknya sangat besar, tetapi perlu diingat bahwa angka itu sudah termasuk beberapa proyek ambisius NASA, seperti teleskop luar angkasa James Webb, proyek roket raksasa Space Launch System, dan beberapa misi jauh ke Jupiter, Mars, sabuk asteroid, dan luar tata surya.

Anggaran NASA ini relatif kecil dibanding masa lalu. “Porsi NASA dari anggaran negara bisa mencapai 4% pada 1965. Namun kini, di bawah 1%--selama 15 tahun terakhir bahkan hanya 0.4%,” kata Walter Cunningham, astronaut Apollo 7, dalam sebuah kongres di 2015.

Pemerintahan Trump meminta agar anggaran tersebut digunakan untuk misi kembali ke Bulan dan mengunjungi Mars. Namun, mengingat adanya biaya pembengkakan terkait roket SLS NASA, maka dananya tidak cukup untuk mencapai dua misi tersebut.

Laporan NASA yang dipublikasikan pada 2005, memperkirakan bahwa kembali ke Bulan memerlukan biaya sekitar 104 miliar dollar AS selama 13 tahun. Misi Apollo sendiri menghabiskan biaya 120 miliar dollar AS jika dihitung dengan harga saat ini.

“Ekplorasi luar angkasa dengan membawa awak adalah usaha yang paling mahal. Juga yang paling sulit untuk mendapat dukungan politik,” kata Cunnigham.

“Jika negara memutuskan untuk memberi lebih banyak uang, maka kita bisa bicara lebih lanjut,” imbuhnya.

Campur tangan presiden

Tujuan utama pemerintahan Trump adalah untuk mengirim lagi astronaut ke Bulan pada 2023. Itu adalah masa-masa terakhir Trump berkuasa jika dia kembali terpilih. Masalah lain dari hal tersebut adalah: campur tangan politik.

Dari perspektif astronaut, semua adalah tentang misi. Proses merancang, membuat, dan menguji pesawat luar angkasa agar bisa membawa manusia keluar dari Bumi, bisa memerlukan waktu lebih dari dua masa kepemimpinan presiden.

Namun, dari pola yang berlangsung selama ini, presiden dan anggota parlemen baru biasanya akan menggagalkan prioritas misi luar angkasa dari pemerintahan sebelumnya.

Pada 2004 contohnya, pemerintahan Bush memerintahkan NASA untuk mengganti pesawat luar angkasa yang akan segera pensiun, dan melaksanakan misi ke Bulan. Agensi tersebut lalu membuat program bernama Constellation untuk mendaratkan astronaut di Bulan–berencana menggunakan roket Ares dan pesawat luar angkasa Orion.

NASA menghabiskan dana 9 juta miliar AS selama lebih dari lima tahun untuk merancang, membuat, dan menguji perangkat kerasnya. Namun, setelah Obama terpilih sebagai presiden, Government Accountability Office merilis laporan yang menyatakan ketidakmampuan NASA untuk melanjutkan program Constellation.

Obama mendorong NASA untuk membatalkan program dan menandatangani perintah peluncuran roket luar angkasa SLS sebagai gantinya..

Trump memang belum membatalkan proyek roket SLS, tapi dia mengubah prioritas Obama dengan memerintahkan misi pengiriman astronaut ke Bulan dan Mars.

Pembatalan demi pembatalan tersebut membuat NASA mengalami kerugian sebesar 20 miliar dollar AS. Mereka juga kehilangan waktu dan momentum.

Kurangnya dukungan publik

Kekuatan nyata yang bisa membuat misi ke Bulan tetap berjalan adalah kehendak rakyat Amerika untuk memilih politisi yang mampu melanjutkan prioritas kebijakan tersebut. Namun, minat publik terhadap eksplorasi bulan agak kabur.

Bahkan, pada misi Apollo oun–ketika Neil Amstrong dan Buzz Aldrin berhasil menginjakkan kaki di Bulan–hanya 53% persen warga AS yang merasa bahwa dana yang sudah dikeluarkan negara sebanding dengan hasilnya.

Berdasarkan polling dari Pew Research Center, saat ini, ada 55% rakyat AS yang mendukung NASA untuk kembali ke Bulan. Namun, sisanya menganggap bahwa misi itu tidak perlu dilakukan lagi.

Dukungan untuk mengeksplor Mars justru lebih besar. Sebanyak 63% orang menyatakan bahwa hal itu seharusnya menjadi prioritas NASA–bukan Bulan.

Selain itu, 91% warga meminta agar NASA memindai langit dan mencegah asteroid pemusnah jatuh ke Bumi.

Kondisi Bulan

Selain anggaran, campur tangan politik, dan dukungan warga AS, ada hal lain yang menghambat misi ke Bulan.

Perlu diingat bahwa Bulan merupakan perangkap kematian manusia berusia 4,5 miliar tahun. Permukaan Bulan dipenuhi dengan kawah dan batu yang mengancam pendaratan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh meremehkannya.

Kembali ke pendaratan pertama pada 1969, pemerintah AS menghabiskan biaya miliaran dollar untuk mengembangkan, meluncurkan, dan mengirim satelit ke Bulan, hanya untuk memetakan permukaannya sehingga astronaut bisa sampai dengan selamat.

Namun, ketika sudah mendarat dengan aman pun, masalah tidak berakhir. Kekhawatiran yang lebih besar adalah pecahan halus–regolith atau debu Bulan--yang berada di permukaannya.

Madhu Thangavelu, insinyur aeronautika dari University of Southern California, menulis bahwa Bulan diselimuti oleh “debu halus dengan ketebalan beberapa inci yang bersifat elektrostatis akibat interaksi dengan angin Matahari. Ia bisa menempel dan merusak pakaian dan sistem kendaraan luar angkasa dengan sangat cepat”.

Peggy Whitson, astronaut yang tingal di luar angkasa selama 665 hari, baru-baru ini mengatakan kepada Business Insider bahwa misi Apollo memiliki banyak masalah dengan debu.

“Jika berencana menghabiskan waktu yang lama dan membangun habitat di Bulan, kita harus mengetahui bagaimana cara mengatasi debu bulan tersebut,” katanya.

Selain itu, ada juga masalah terkait cahaya Matahari. Selama 14,75 hari sekaligus, permukaan Bulan akan sangat mendidih karena terpapar langsung oleh sinar Matahari (Bulan tidak memiliki atmosfer pelindung). Dan 14,75 hari selanjutnya, Bulan akan mengalami kegelapan total yang membuatnya permukannya menjadi tempat paling dingin di alam semesta.

“Tidak ada tempat paling sulit untuk hidup selain Bulan. Meski begitu, karena lokasinya sangat dekat dengan Bumi, Bulan bisa menjadi tempat terbaik untuk mempelajari kehidupan di dunia lain,” tulis Thangavelu.

NASA telah mendesain pakaian serta rover yang tahan debu dan paparan sinar Matahari. Namun, masih belum jelas apakah keduanya bisa segera digunakan karena itu merupakan bagian dari program Constellation yang sudah dibatalkan

Ilmuwan Jepang Menciptakan Kecoa Siborg yang Menggunakan Sel Surya


Tim ilmuwan gabungan di Jepang mengumumkan telah menciptakan kecoba siborg yang menggunakan modul sel surya organik ultra lembut. Modul tersebut terpasang dan tidak mengganggu kemampuan gerak dasar serangga.

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari RIKEN, Waseda University, Fukui University of Technology dan Nanyang Technological University. Laporan tersebut diterbitkan di jurnal Nature npj Flexible Electronics.

"Siborg, yang merupakan integrasi mesin dan organisme, dapat digunakan tidak hanya untuk menggantikan bagian tubuh organisme yang rusak, tetapi juga untuk mewujudkan fungsi yang melebihi kemampuan normal organisme tersebut," kata peneliti RIKEN Kenjiro Fukuda dan rekan seperti dilansir Sci-News.

"Kemajuan dalam elektronik telah menghasilkan peningkatan integrasi organisme dan mesin. Miniaturisasi dan fabrikasi cip semikonduktor konsumsi daya rendah melalui mikro/fabrikasi nano telah menghasilkan siborg organisme kecil."

Fukuda mengatakan, secara khusus, serangga siborg dengan sirkuit terpadu kecil untuk mengontrol perilaku mereka telah diusulkan untuk digunakan seperti pencarian dan penyelamatan perkotaan, pemantauan lingkungan, dan inspeksi area berbahaya.

"Perangkat pemanen energi yang dipasang di tubuh sangat penting untuk memperluas jangkauan aktivitas dan fungsionalitas serangga siborg," kata mereka.

"Namun, keluaran daya mereka terbatas pada kurang dari 1 mW, yang jauh lebih rendah daripada yang diperlukan untuk kontrol penggerak nirkabel."

"Solusi terbaik adalah memasukkan sel surya on-board yang dapat terus memastikan bahwa baterai tetap terisi daya."

Dalam penelitiannya, penulis bereksperimen dengan kecoak Madagaskar yang mendesis (Gromphadorhina portentosa). Mereka memasang modul kontrol kaki nirkabel dan baterai polimer lithium ke bagian atas serangga di dada menggunakan ransel yang dirancang khusus.

Ransel itu dicetak 3D dengan polimer elastis dan disesuaikan dengan sempurna dengan permukaan melengkung kecoa. Ransel itu memungkinkan perangkat elektronik kaku untuk dipasang secara stabil di dada selama lebih dari sebulan.

Modul sel surya organik ultra tipis dengan tebal 0,004 mm dipasang di sisi punggung perut serangga. "Modul sel surya organik ultra tipis yang dipasang di tubuh mencapai keluaran daya 17,2 mW, yang lebih dari 50 kali lebih besar daripada output daya perangkat pemanen energi mutakhir saat ini pada serangga hidup," kata Fukuda.

Sel surya organik yang sangat tipis dan fleksibel, dan bagaimana sel itu melekat pada serangga, terbukti diperlukan untuk memastikan kebebasan bergerak. Setelah dengan cermat memeriksa gerakan kecoa alami, para peneliti menyadari bahwa perut berubah bentuk dan bagian dari kerangka luar saling tumpang tindih.

Untuk mengakomodasi hal ini, mereka menyisipkan bagian perekat dan non-perekat ke film tipis, yang memungkinkan mereka menekuk tetapi juga tetap menempel.

Ketika film sel surya yang lebih tebal diuji, atau ketika film dipasang secara seragam, kecoak membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk berlari pada jarak yang sama, dan mengalami kesulitan untuk meluruskan diri saat telentang.

Setelah komponen ini diintegrasikan ke dalam kecoak, bersama dengan kabel yang merangsang segmen kaki, serangga siborg diuji. Baterai diisi dengan sinar daya matahari selama 30 menit, dan hewan disuruh belok kiri dan kanan menggunakan kedali jarak jauh nirkabel.

Menurut Fukuda, mengingat deformasi dada dan perut pada penggerak dasar, sistem elektronik hibrida dari elemen kaku dan fleksibel di dada dan perangkat ultra lembut di perut tampaknya menjadi desain yang efektif untuk kecoak siborg.

"Selain itu, karena deformasi perut tidak hanya terjadi pada kecoak, strategi kami dapat disesuaikan dengan serangga lain seperti kumbang, atau mungkin bahkan serangga terbang seperti jangkrik di masa depan," kata Fukuda.

 

Saturday, September 10, 2022

Terungkap Cara NASA Menjaga Batuan dari Bulan Agar Tidak Dicuri dan Dijual di Pasar Gelap


 Setelah misi Apollo 11 selesai, para ilmuwan khawatir sampel batuan dari Bulan akan dicuri dan dijual ke pasar gelap.

Kekhawatiran ini kemudian membuat NASA meminta agar debu dan batuan yang diambil dari permukaan Bulan tersebut disimpan dalam wadah terkunci rapat saat mereka bertolak ke Inggris. 

Diketahui bahwa setelah sampel Bulan dari misi Apollo 11 dibawa kembali ke Bumi, NASA kemudian mengirimkannya ke beberapa negara di dunia untuk diteliti lebih lanjut. Juga untuk menguatkan hubungan diplomatik antarnegara. 

Dr Grenville Turner, sempat menerima 16 spesimen Bulan tersebut ketika ia bergabung dengan kelompok peneliti Inggris. Menurut keterangan wanita berusia 82 tahun ini, NASA bersikeras menggunakan brankas untuk menyimpan pecahan-pecahan bulan. Mereka juga mengirim petugas keamanan saat kunjungan ke Inggris untuk memastikan sampel ditangani dengan tepat. Ini dilakukan karena NASA khawatir batuan Bulan tersebut akan diperdagangkan secara ilegal.

"Mereka takut dengan pasar gelap yang menjual batuan Bulan. Oleh sebab itu, NASA memiliki aturan ketat soal fasilitas penyimpanan. Mereka juga menyiapkan kontrak legal yang menyatakan bahwa kami tidak boleh menjualnya," papar Turner. 

"Selain itu, NASA mengirim petugas keamanan untuk memeriksa bagaimana kami merawatnya dan banyak sampel saya harus disimpan dalam gelas kaca. Kami juga harus memiliki brankas beserta sistem alarmnya. NASA sebenarnya tidak sulit, mereka hanya ingin meyakinkan bahwa sampel Bulan ini tidak akan dijual di pasar gelap," ungkap Turner. 


Dr Turner berusia 30-an ketika ia meneliti batu yang diambil dari bulan oleh astronot Neil Armstrong dan Buzz Aldrin selama misi Apollo 11 pada Juli 1969.

"Batuan basal yang berasal dari daerah mare, kira-kira berusia antara 3,2 miliar hingga 3,8 miliar. Itu adalah periode tinggi aktivitas vulkanik di Bulan, sebelum jumlahnya menurun," katanya. 

Setelah menyimpan sampel batuan Bulan selama beberapa tahun, Dr Turner pun harus mengembalikannya ke NASA.

"Saya senang pernah terlibat dalam proyek tersebut," kata Turner sambil memperingati 50 tahun misi Apollo.

Friday, September 9, 2022

Intip Maalula, Desa yang Masih Gunakan Bahasa Kuno Masa Yesus Kristus di Suriah


 "Kami adalah segelintir massyarakat di dunia yang mendapat kehormatan untuk menguasai bahasa kuno ini," kata Elias Thaalab kepala desa Maalula yang berpopulasi 2.700 jiwa itu.

Maalula, yang berarti "Pintu Masuk" dalam bahasa Aram, merupakan satu dari tiga desa di seluruh Damaskus yang masih mempertahankan bahasa itu.

Karena semakin menyusutnya jumlah warga yang fasih berbahasa Aram, bahasa itu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dan diajarkan setiap hari.

Antoinette Mokh, seorang guru setempat mengungkapkan, Aram merupakan bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Diwariskan dari ayah ke anak. "Namun anak-anak ini lahir di luar Maalula ketika terjadi perang," ujar guru 64 tahun yang sudah mengajar selama 25 tahun..

Duduk di depan buku tebal, George Zaarour menggunakan kaca pembesar untuk membaca huruf Aram, salah satu bahasa kuno saat era Yesus Kristus. Zaarour merupakan salah satu warga Maalula, desa di Suriah yang masih menggunakan bahasa berusia 2.000 tahun itu, dan merupakan salah satu permukiman Kristen tertua dunia. Desa yang dibangun di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut itu, bahasa Aram memang masih dipergunakan. Namun kini hanya sedikit yang fasih.

Bahasa Aram saat ini berada dalam bahaya. Jika dibiarkan, bahasa ini bakal punah antara lima hingga 10 tahun mendatang," kata Zaarour dilansir AFP Selasa (28/5/2019). Zaarour mengumpulkan berbagai buku maupun ensiklopedi Aram di tokonya.

Di toko itu, dia juga menjual salib, ikon keagamaan, hingga produk rumah tangga. Sehari-hari, dia bakal duduk dan berusaha menerjemahkan bahasa Semitik kuno itu yang menyebar di Timur Tengah di awal Kekristenan di mana bahasa itu mulai muncul abad 10 Sebelum Masehi.

Pria berusia 62 tahun itu menjelaskan, kini 80 persen penduduk Maalula tidak bisa berbahasa Aram. Sedangkan sisanya berusia 60 tahun atau lebih. Dibangun di atas bukit dengan penuh gereja serta biara, Maalula dianggap sebagai simbol hadirnya Kristen di wilayah Suriah, utamanya Damaskus.

Para peziarah dari seantero dunia pernah berdatangan tak hanya untuk melihat bangunan bersejarahnya. Namun mendengar orang-orang berbicara bahasa Aram di jalanan. Namun perang sipil Suriah yang terjadi 2011 mengubah segalanya. Serangan kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda di akhir 2013 memaksa warga Maalula mengungsi.

Pasukan pemerintah memang merebut desa itu pada April 2014 atau tujuh bulan setelah serangan. Namun para pengungsi Maalula masih kembali ke tempatnya. Zaarour menuturkan, banyak pengungsi Maalula yang tinggal di sekitar Damaskus dengan radius sekitar 55 kilometer atau lebih, di mana mereka belajar bahasa Arab dahulu.

Kepala desa Elias Thaalab mengatakan, mempertahankan bahasa Aram merupakan prioritas utama mereka. "Selama lebih dari 2,000 tahun, kami mempertahankan bahasa Yesus ini di hati kami," ujarnya. (Ardi Priyatno Utomo)

 

Adakah yang Mampu Menyingkap Teka Teki Raden Ayu Kartini Ini?


Kotak kayu jati nan elok ini begitu misterius. Museum R.A. Kartini di Rembang, Jawa Tengah, memajangnya di tengah ruang pameran utama. Sejauh ini publik mengetahuinya sebagai kotak jahit yang dibingkiskan oleh sang adik sebagai hadiah pernikahan Kartini.

Kotak itu berukir wayang di setiap sisinya, namun ciri-ciri tokohnya tidak begitu jelas sehingga multitafsir dan ambigu. Ukiran sisi muka pada tutup atasnya diduga menampilkan sosok Kangsadewa dan Kakrasana, sementara sisi dalamnya mungkin Srikandi dan Sembadra. Sisi dalamnya berbalut kain satin yang ditata dengan elegan.

Apakah benar bahwa kotak itu berfungsi untuk menyimpan peralatan jahit milik Raden Ayu Kartini (1879-1904)? Rumah Kartini, sebuah komunitas sosial yang meneliti dan mengumpulkan arsip sejarah dan seni di Japara, berupaya menyingkap kembali teka-teki riwayat sejati kotak kayu ini.

Muhammad Afif Isyarobbi, pendiri Rumah Kartini, mengungkapkan bahwa surat-surat Kartini menyajikan banyak sekali informasi yang memperkuat riwayat kotak dan seni ukir di kotanya. Setiap sisi kotak menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang berbalut ragam hias. Kain satin yang melapisi sisi dalam kotak itu menunjukkan fungsinya sebagai penyimpan peranti berharga, alih-alih penyimpan alat jahit-menjahit.

Afif menambahkan kendati terdapat unsur akulturasi, ragam hias Jepara tampak lebih dominan—daun beserta relung yang berirama diukir secara detail dan halus. Unsur ragam hias awan yang membingkai dua tokoh wayang pada kotak itu merupakan bagian ragam hias budaya Cina. “Dari beberapa surat yang saya baca,” demikian ungkap Afif terkait ukiran ragam hias, “Mbah Kartini terinspirasi dari Gong Senen, rumah-rumah tua di Japara saat itu, dan Masjid Mantingan.”

Lewat penelusuran surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada Nyonya Rosa Manuel Abendanon-Mandri (1857-1944) pada periode September 1901 hingga Maret 1902, Afif dan timnya menyingkap bahwa sejatinya kotak itu merupakan “kotak perhiasan”, alih-alih “kotak jahit”. Perancangnya pun bukan adik Kartini, melainkan Kartini sendiri. Lalu, untuk apa Kartini merancangnya?


Daniel Frits Maurits Tangkilisan, peneliti pada komunitas Rumah Kartini, mengungkapkan bahwa Kartini-lah yang menawarkan gagasan untuk membuat kotak perhiasan itu. Kartini pula yang membingkiskannya untuk “Ma-Ri”—nama yang tertulis dalam aksara Jawa pada tutup atas kotak.

Daniel menemukan setidaknya terdapat empat pucuk surat, yang berkisah seputar kotak perhiasan yang dirancang Kartini untuk “Ma-Ri”. Siapakah “Ma-Ri” yang dimaksud Kartini?

“Ma-Ri” yang dimaksud sejatinya adalah Marie Fortuyn Drooglever, calon menantu Abendanon-Mandri. Jadi, Kartini mengirimkan kotak perhiasan ini kepada sang nyonya itu sebagai bingkisan pernikahan Marie dan Geldolph Adriaan Abendanon.

Kelak, perempuan penerima bingkisan kotak perhiasan itu dikenal sebagai Marie Abendanon, yang wafat dalam usia 90 tahun pada 1971. Lewat surat-menyurat, tampaknya hubungan emosional keluarga Abendanon dan keluarga Kartini begitu dekat. Dia memandang Nyonya Abendanon sebagai sahabat, sekaligus sosok ibu baginya dan bagi adik-adiknya. Perempuan itu merupakan istri dari Jacques Henri Abendanon, seorang Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan di Hindia Belanda.

Pada 21 September 1901, Kartini menulis kepada Nyonya Abendanon. Berikut ini kutipan bagian paragraf pertamanya, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:


“Kami memastikan bahwa kotak perhiasan untuk calon menantu perempuan Anda—putri pertama Anda—akan segera rampung! Kita akan memiliki kotak perhiasan yang diukir dengan beberapa tokoh wayang—sebuah cerita wayang di bagian tutup dan setiap sisi layaknya kotak bagi sang Ratu. Menarik bukan? Bukankah akan lebih elok apabila berukirkan 'Marie' yang ditulis dalam aksara Jawa? Selain kian bergaya, nama calon putri Anda pun kelak akan kekal.”

Percakapan berlanjut pada surat yang ditulisnya pada 10 Januari 1902, “Saya pikir sangat membanggakan apabila Anda menyukai kotaknya. Saya mengerjakannya dengan cinta dan, sejujurnya, juga dengan sedikit rasa sedih karena membayangkan perempuan yang kelak memiliki kotak cantik ini dan pasangannya yang berbahagia, sementara saya tetap duduk sembari bekerja beralaskan tikar.”

Bulan berikutnya ia mengirimkan surat lagi. “Saat ini apakah kotak itu tengah dalam perjalanan ke calon menantu Anda, Marie; siapakah dia, Anda belum menceritakannya? Maukah Anda menceritakannya pada kesempatan mendatang? Saya hanya berharap dia akan terpesona oleh bingkisan dari calon mertuanya,” tulis Kartini pada 18 Februari 1902.

Wednesday, September 7, 2022

Dimakan Manusia, Penyebab Kepunahan Kungkang Raksasa di Zaman Es


Menuju akhir Zaman Es, antara 35-90% hewan bertubuh besar di luar Afrika, menghilang. Perburuan yang dilakukan manusia diduga menjadi penyebab utamanya. Namun, bukti pasti bahwa leluhur kita memakan hewan-hewan tersebut, belum ditemukan.

Dengan tidak adanya bukti langsung bahwa sebagaian besar spesies hewan besar dibunuh oleh manusia, waktu kepunahan pun ikut menjadi perdebatan.

Meski begitu, pertanyaan mengenai kepunahan spesies hewan di Amerika Utara dan Selatan, bisa sedikit terjawab. Pasalnya, manusia tiba di benua tersebut ketika Zaman Es mulai berakhir.

Situs Campo Laborde, di Argentina, menyimpan banyak tulang megafauna yang sudah musnah, termasuk kungkang raksasa yang berkeliaran di Amerika Selatan selama jutaan tahun. Selain kerangka hewan, pada situs tersebut juga ditemukan beberapa alat batu yang diduga digunakan manusia purba.

Dr Gustavo Politis, peneliti dari National University of Central Buenos Aires, bahkan menemukan tanda potongan di salah satu tulang rusuk kungkang. 

Lebih lanjut, dalam studi yang dipublikasikannya pada jurnal Science Advances, lokasi alat batu dan kerangka kungkang sangat berdekatan sehingga aneh jika dikatakan sebagai kebetulan. 

Menurut Politis, alat tersebut kemungkinan digunakan untuk membunuh kungkang dan menguliti bangkainya. Menguatkan teori yang mengatakan bahwa kungkang punah akibat dimakan manusia. 

Melihat hal tersebut, selanjutnya Politis berusaha meneliti usia tulangnya. 


Beberapa studi sebelumnya yang pernah mempelajari kungkang, menyatakan bahwa hewan tersebut berasal dari zaman Holosen, periode yang lebih hangat setelah Zaman Es. Namun, menurut Politis dan rekannya, hasil ini tidak benar.

Menggunakan metode penanggalan alternatif, mereka menyimpulkan bahwa kungkang malang tersebut meninggal di akhir zaman Es–bukan pada dunia yang lebih hangat.

Ini sejalan dengan penelitian lain di Pampas, Amerika Selatan, yang menyatakan bahwa kungkang raksasa punah sebelum Holosen, yakni sekitar 2.000 tahun sejak kedatangan manusia. Semakin menunjukkan bahwa mereka musnah karena faktor manusia.