Agen bola Piala Dunia

Silakan Hubungi Cs kami untuk informasi lebih lanjut.

SELAMAT DATANG DI BLOG PREDIKSI CERIA4D

Blog Prediksi Resmi dari BO CERIA4D

Lomba Tebak 3D -2Line Bersama CERIA4D

bagi yang ingin mengikuti Silakan bergabung di Group Facebook kami "DONATAN4D Agent Togel Terpercaya"

Link WAP Donatan4D

Kini Hadir Versi Handphone Untuk memudahkan Para Member melakukan Betting dimana saja dan kapan saja.

Donatan4D bandar Togel Online Terpercaya

Silakan Hubungi Kami melalui Kontak di Atas

Thursday, September 22, 2022

Ditemukannya Neapolis, Kota Kuno Romawi yang Tenggelam karena Tsunami


Reruntuhan Neapolis, kota kuno Romawi yang tenggelam karena tsunami, berhasil ditemukan oleh para arkeolog bawah air. Berdasarkan temuan mereka sejauh ini, para peneliti mengkonfirmasi bahwa tsunami telah melanda daerah itu pada abad ke-4 Masehi.

Penemuan ini adalah buah dari upaya pencarian selama hampir satu dekade. Phys.org melaporkan bahwa reruntuhan kota yang luas itu ditemukan di lepas pantai Nabeul, di timur laut Tunisia.

Kota terendam ini membentang lebih dari 20 hektare. Karena beberapa reruntuhan Neapolis tetap berada di atas permukaan tanah dan ini adalah sebuah petunjuk besar, para arkeolog bawah laut telah mencari wilayah tersebut selama tujuh tahun terakhir dengan harapan menemukan sisa reruntuhan lainnya di bawah laut di dekatnya.

Cuaca yang menguntungkan memungkinkan mereka untuk akhirnya mencapai tujuan itu musim panas 2017 lalu. Berdasarkan hasil penyelidikan bawah laut yang dilakukan di situs tersebut, para peneliti menegaskan Neapolis sebagian tenggelam oleh tsunami pada 21 Juli 365 Masehi.

Tsunami pada tahun itu memang tercatat pernah juga merusak Alexandria di Mesir dan Pulau Kreta Yunani. Temuan kota kuno Neapolis ini sekaligus menegaskan sebuah catatan yang dicatat oleh Ammien Marcellin, tentara sekaligus sejarawan Romawi, atas bencana alam tersebut.

Di kota yang terendam tersebut, para peneliti menemukan monumen, jalan, dan sekitar 100 tangki yang digunakan dalam produksi bumbu ikan fermentasi yang dikenal sebagai garum. Mereka menyimpulkan bahwa Neapolis kemungkinan dulunya memegang monopoli atas makanan fermentasi Romawi tersebut.

"Penemuan ini memungkinkan kami untuk menetapkan dengan pasti bahwa Neapolis adalah pusat utama pembuatan garum dan ikan asin, mungkin pusat terbesar di dunia Romawi. Mungkin para bangsawan Neapolis berhutang kekayaan pada garum tersebut," ujar Mounir Fantar, kepala misi arkeologi Tunisia-Italia yang menyelidiki reruntuhan kota kuno tersebut, sebagaimana dilansir Ancient Origins.

"Saat Romawi berkembang dan menjadi lebih makmur, makanan menjadi lebih beragam. Orang-orang Romawi mengenal makanan dan metode-metode memasak dari provinsi-provinsi," papar Vistor Labate, pemerhati sejarah Romawi.

"Cena (makanan utama dalam budaya Romawi kuno), yang awalnya hanya terdiri dari satu hidangan, berkembang menjadi dua hidangan selama masa Republik: hidangan utama dan hidangan penutup yang disajikan dengan buah atau makanan laut. Pada akhir Republik, makanan itu berkembang menjadi tiga hidangan: hidangan pembuka (gustio), hidangan utama (primae mensae) dan hidangan penutup (secundae mensae)."

Namun Labate menulis bahwa tidak semua orang bisa makan seperti itu. Menurutnya, kelas sosial pasti memainkan peran dalam makanan yang tersedia untuk masing-masing individu.

"Orang-orang Romawi biasa tidak mampu makan daging dan makanan eksotis yang mahal dari provinsi-provinsi tersebut. Mereka sering makan bubur yang terbuat dari emmer, garam, lemak, dan air (puls) dengan roti yang diberi sedikit garam," jelas Labate lagi.

"Orang-orang Romawi yang lebih kaya makan bubur yang sama tetapi menambahkan sayuran cincang, daging, keju, dan berbagai bumbu ke dalamnya. Roti adalah makanan pokok di Romawi kuno yang sering dimakan dengan madu, zaitun, keju atau telur," tuturnya dengan menambahkan bahwa orang-orang Romawi juga mencelupkan roti mereka ke dalam anggur.

Adapun terkait garum yang ditemukan di Neapolis ini, Pompeii Food and Drink pernah menjelasakan bahwa makanan itu dibuat dengan menghancurkan dan memfermentasi isi perut ikan seperti tuna, belut, teri, dan makarel ke dalam air garam.

"Karena produksi garum menimbulkan bau yang tidak sedap, sisa fermentasinya dibuang ke pinggiran kota. Produk jadinya cukup lembut dan halus, dan dicampur dengan anggur, cuka, merica, minyak, atau air untuk meningkatkan cita rasa banyak hidangan," tulis Pompeii Food and Drink.

Yang menarik, garum mirip dengan saus ikan yang digunakan saat ini dalam masakan Thailand dan Vietnam. Dengan semakim banyaknya restauran makanan Thailand dan Vietnam di berbagai negara di dunia, mungkin cita rasa garum ini akan menjadi selera yang akan kembali digemari masyarakat modern juga.

Berkat Anjing, Fosil Ichthyosaurus Berusia 65 Juta Tahun Ditemukan


Baru-baru ini, seorang pejalan kaki terkejut ketika anjingnya menemukan kerangka mamalia laut berusia 65 juta tahun saat berjalan di pantai. Hal ini sontak membuat publik heboh.

Sosok tersebut ialah Jon Gopsill. Awal mulanya, pria berusia 54 tahun itu sedang berjalan-jalan dengan dua anjingnya bernama Poppy dan Sam di sepanjang pantai Stolford, Somerset. Namun tiba-tiba saja ia menemukan sebuah fosil misterius.

Fosil sepanjang sekitar 1,7 meter itu diduga ialah ichthyosaurus. Bentuk hewan ini mirip lumba-lumba prasejarah yang berukuran raksasa dan hidup selama periode Jurassic. Berdasarkan rekaman fosil, kelompok reptil laut ini pertama kali muncul sekitar 245 juta tahun lalu, kemudian punah sekitar 90 juta tahun yang lalu.

“Saya sering pergi ke pantai berjalan-jalan dengan anjing saya dan ketika air laut surut, kami pergi ke bebatuan karena mereka suka bermain di sana,” kata Gopsill, seorang arkeolog amatir.

“Kami berada di pantai ketika saya melihat benda ini dan berpikir 'apa itu?' jadi saya mendekat dan berpikir 'wow'. Saya pikir itu jelas merupakan fosil makhluk laut, mungkin ichthyosaurus,” paparnya.

Setelah mendapati penemuan mengejutkan tersebut, Gopsill, yang juga berprofesi seorang perawat psikiatri itu berusaha menghubungi Somerset Heritage and Natural History Museum, London untuk melaporkan penemuannya itu.


Terkait hal ini, Mike Day, kurator dari Somerset Heritage and Natural History Museum membenarkan bahwa kerangka fosil yang ditemukan Gopsill itu kemungkinan milik ichthyosaurus, meskipun ia tidak dapat menyatakan secara pasti tanpa memeriksanya secara langsung.

Day menjelaskan, “Melihat spesimen ini, berdasarkan jumlah tulang di rusuk dada, ini kemungkinan merupakan sisa-sisa ichthyosaurus. Namun, tidak mungkin untuk mengidentifikasi jenis ichthyosaur yang tepat dari gambar-gambar ini saja.”

Yang lebih mengejutkan lagi, Poppy dan Sam tampaknya telah meniru cinta pada arkeologi pemiliknya, karena hanya satu hari setelah menemukan kerangka prasejarah, salah satu anjing itu mengirimkan fosil lain kepada pemiliknya.

Gopsill mengatakan, “Saya tidak bisa mempercayainya, itu menakjubkan – saya sudah mengajarinya fosil apa, tapi saya tidak berharap dia akan membawakan saya satu fosil lagi. Istri saya mengatakan itu hanya keberuntungan. Saya pikir cuaca badai telah menyapu banyak lumpur sehingga bebatuan sedikit lebih terbuka,” ujarnya. 

Sebagai informasi,  merupakan predator laut yang menguasai perairan di era dinosaurus.  Mereka muncul selama Trias, mencapai puncaknya selama Jurassic, dan menghilang selama periode Cretaceous.


Selain disebut mirip dengan lumba-lumba prasejarah, ichthyosaurus  juga sering salah diidentifikasi sebagai dinosaurus berenang. Padahal reptil ini muncul sebelum dinosaurus pertama muncul. Mereka berevolusi dari reptil darat yang belum teridentifikasi yang pindah kembali ke air.

Para ilmuwan menghitung bahwa satu spesies memiliki kecepatan jelajah 22 mph (36 kmh). Spesies ichthyosaurus terbesar diperkirakan telah tumbuh hingga lebih dari 20 meter (65 kaki) panjangnya.


Fosil ichthyosaurus lengkap terbesar juga pernah ditemukan pada ketinggian 3,5 meter. Bahkan saat didapati memiliki janin masih di dalam rahimnya. Pada Agustus 2017, para ilmuwan mengatakan kondisi hewan tersebut saat ditemukan terdapat embrio yang tidak lengkap dan memiliki panjang kurang dari tujuh sentimeter, terdiri dari tulang belakang yang diawetkan, sirip depan, tulang rusuk, dan beberapa tulang lainnya.

Ada bukti janin masih berkembang di dalam rahim saat meninggal. Temuan itu menambah bukti bahwa ichthyosaurus melahirkan anak, tidak seperti dinosaurus yang bertelur.

Warisan Dunia yang Terancam: Menara Berumur 800 Tahun di Afganistan


Situs menara Jam, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Minaret of  Jam, di Afganistan adalah salah satu situs arkeologi yang berumur lebih dari 800 tahun. Menara yang berdiri setinggi 65 meter ini terletak di sebuah lembah yang bersimpangan dengan sungai Jam. Lokasinya berada sekitar 100 kilometer timur Herat.

Sultan Ghurid Ghiyath al-Din Muhammad bin Sam adalah pendiri Menara yang diperkirakan dibangun antara 1194-1195 dan 1174-1175. Menara ini sendiri dibangun untuk memperingatin penaklukan Ghurid dari Ghazana pada tahun 1173.

Banyak sekali orang yang salah mengira saat melihat menara ini, mereka berpikir kalau ini adalah Menara Qutub Minar yang ada di India karena memang kedua menara ini memang memiliki banyak persama dari segi bangunan.

Minaret of Jam diperkirakan menjadi salah satu dari 60 menara yang dibangun antara abad ke-11 dan ke-13 di berbagai penjuru Afghanistan, Iran, dan Asia Tengah. Menara ini dibangun untuk berbagai tujuan, antara lain untuk memperingati kemenangan Islam, untuk dijadikan warisan budaya, menjadi tengara, ataupun sebagai menara pengawas.

Sejauh yang terlihat selama ini, tampak cukup jelas terlihat dari sisa sisa reruntuhan disekitarnya bahwa menara Jam berdiri di dekat istana, benteng, dan sebuah pemakaman Yahudi. Menurut berbagai sumber, menara tersebut adalah sisa-sisa terakhir dari sebuah kota Gunung Turquoise yang sudah hilang. Namun sekarang ini minaret of jam sudah menjadi bagian dari daftar warisan dunia UNESCO yang dikategorikan dalam bahaya dan berpotesi akan hilang karena kondisi bangunannya yang sudah hampir roboh.

Misteriusnya tidak cukup banyak hal yang diketahui tentang bangunan ini sampai kira-kira dipertengahan abad ke 20. Orang pertama selain warga lokal Afghanistan yang menemukan Menara ini untuk adalah Sir Thomas Holdich yang melaporkan tentang menara itu saat ia sedang berkerja untuk Komisi Perbatasan Afghanistan pada 1886.


Terlepas dari laporannya, tidak ada penanganan lebih lanjut untuk menara ini selama 70 tahun kemudian, sampai dua orang arkeolog asal Prancis yaitu Gaston Wiet dan Andre Maricq menulis tentang menara itu pada 1957.

Beberapa survei juga dilakukan setelah penulisan mereka pada 1970 dan beberapa tahun setelahnya. Meskipun pada 1979 Uni Soviet menutup situs itu untuk orang asing saat mereka menyerang Afghanistan.

“Bangunan ini akan dihapus dari Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya ketika kondisi konservasi yang diinginkan tercapai sesuai dengan Keputusan 31 COM 7A.20,” dikutip dari situs web UNESCO.

Keaslian bangunan  Minaret of Jam dan sisa-sisa bangunan yang mengelilinginya tidak pernah dipertanyakan. Menara ini  selalu diakui sebagai mahakarya arsitektur dan dekorasi asli oleh para ahli dan chef-d'oeuvre artistik oleh para estetika.


Prasasti Kufinya yang monumental memberi kesaksian tentang asal usul pembangunnya yang terpencil dan mulia serta memberikan bukti tentang penanggalan awalnya (1194). Tidak ada rekonstruksi atau pekerjaan restorasi ekstensif yang pernah dilakukan di daerah tersebut.

Sampai saat ini Afganistan masih berupaya meningkatkan pelestarian bangunan ini dengan cara meningkatkan kapasitas staf Kementerian Kebudayaan dan Informasinya. Mereka juga telah mengidentifikasi batas-batas serta zona penyangga dengan jelas, memberika jaminan stabilitas konservasi menara, jaminan keamanan situs, dan bengembangan konservasi jangka panjang.

Proposal untuk perlindungan menara dan sekitarnya sedang dalam diskusi ilmiah. Mereka akan berusaha untuk memantau erosi tepian sungai yang berdekatan dengan situs ini. Intinya pada upaya pemantauan setiap pergerakan tingkat kemiringan, degradasi struktur, program stabilisasi dan tindakan konservasi yang tepat.

Langkah-langkah untuk perlindungan dan pemantauan situs arkeologi saat ini sedang ditinjau. Program penelitian dan peningkatan kesadaran publik yang disetujui kemungkinan akan dilakukan dalam jangka panjang. Namun, dengan situasi politik yang tidak menentu kini, program peyelamatan Situs Warisan Dunia ini tampaknya masih jauh panggang dari api.

Wednesday, September 21, 2022

Wahana Penjelajah Planet Mars Mengumpulkan 12 Sampel Batuan Menarik

 Penjelajah Perseverance NASA memasuki kampanye sains kedua. Ia mengumpulkan sampel inti batuan dari fitur planet Mars yang terkenal. Fitur tersebut merupakan area yang lama dianggap oleh para ilmuwan sebagai prospek teratas untuk menemukan tanda-tanda kehidupan mikroba purba di Planet Merah.

Kini, penjelajah tersebut telah mengumpulkan empat sampel dari delta sungai kuno di Kawah Jezero Mars sejak 7 Juli, sehingga jumlah total sampel batuan yang menarik secara ilmiah menjadi 12.

"Kami memilih Kawah Jezero untuk Perseverance jelajahi, karena kami pikir itu memiliki peluang terbaik untuk memberikan sampel yang sangat baik secara ilmiah—dan sekarang kami tahu kami mengirim rover ke lokasi yang tepat," kata Thomas Zurbuchen, administrator asosiasi NASA untuk sains di Washington. "Dua kampanye sains pertama ini telah menghasilkan keragaman sampel yang luar biasa untuk dibawa kembali ke Bumi melalui kampanye Pengembalian Sampel Mars."

Memiliki lebar 45 kilometer, Kawah Jezero juga memiliki delta. Sebuah fitur kuno berbentuk kipas yang terbentuk sekitar 3,5 miliar tahun lalu di pertemuan sungai Mars dan danau. Perseverance saat ini sedang menyelidiki batuan sedimen delta. Terbentuk ketika partikel dari berbagai ukuran menetap di lingkungan yang dulunya berair. Selama kampanye sains pertamanya, penjelajah menjelajahi lantai kawah, menemukan batuan beku, yang terbentuk jauh di bawah tanah dari magma atau selama aktivitas vulkanik di permukaan.

"Delta, dengan batuan sedimennya yang beragam, sangat kontras dengan batuan beku—terbentuk dari kristalisasi magma—yang ditemukan di dasar kawah," kata ilmuwan proyek Perseverance Ken Farley dari Caltech di Pasadena, California. "Penjajaran ini memberi kami pemahaman yang kaya tentang sejarah geologis setelah kawah terbentuk dan rangkaian sampel yang beragam. Misalnya, kami menemukan batu pasir yang membawa butiran dan fragmen batuan yang dibuat jauh dari Kawah Jezero—dan batu lumpur yang mengandung bahan senyawa organik yang menarik."


"Wildcat Ridge" adalah nama yang diberikan untuk sebuah batu dengan lebar sekitar 1 meter. Batu ini kemungkinan terbentuk miliaran tahun yang lalu sebagai lumpur dan pasir halus yang mengendap di danau air asin yang menguap. Pada 20 Juli, rover itu mengikis sebagian permukaan Wildcat Ridge sehingga bisa menganalisis area tersebut dengan instrumen yang disebut Scanning Habitable Environments with Raman & Luminescence for Organics & Chemicals, atau SHERLOC.

Analisis SHERLOC menunjukkan sampel memiliki kelas molekul organik yang secara spasial berkorelasi dengan mineral sulfat. Mineral sulfat yang ditemukan di lapisan batuan sedimen dapat menghasilkan informasi yang signifikan tentang lingkungan berair tempat mereka terbentuk.

Pada 2013, penjelajah Curiosity Mars NASA menemukan bukti bahan organik dalam sampel bubuk batu. Tempat Perseverance telah mendeteksi bahan organik di Kawah Jezero sebelumnya. Namun tidak seperti penemuan sebelumnya, deteksi terbaru ini dilakukan di daerah tempat, di masa lalu, sedimen dan garam diendapkan ke dalam danau di bawah kondisi tempat kehidupan berpotensi ada. Dalam analisisnya terhadap Wildcat Ridge, instrumen SHERLOC mendaftarkan deteksi organik paling melimpah dalam misi hingga saat ini.

"Di masa lalu, pasir, lumpur, dan garam yang sekarang menjadi sampel Wildcat Ridge diendapkan dalam kondisi kehidupan berpotensi berkembang," kata Farley. "Fakta bahwa bahan organik ditemukan di batuan sedimen seperti itu—yang dikenal karena mengawetkan fosil kehidupan purba di Bumi—adalah penting. Namun, sehebat apapun instrumen kami di atas Perseverance, kesimpulan lebih lanjut mengenai apa yang terkandung dalam sampel Wildcat Ridge harus menunggu sampai dikembalikan ke Bumi untuk studi mendalam sebagai bagian dari kampanye Pengembalian Sampel Mars."

Langkah pertama dalam kampanye Pengembalian Sampel Mars NASA-ESA (Badan Antariksa Eropa) dimulai ketika Perseverance mengambil sampel batuan pertamanya pada September 2021. Bersamaan dengan sampel inti batuannya, rover telah mengumpulkan satu sampel atmosfer dan dua tabung saksi, semuanya disimpan di perut rover.

Keragaman geologi dari sampel yang sudah dibawa dalam rover sangat bagus sehingga tim rover sedang mencari untuk menyimpan tabung terpilih di dekat dasar delta dalam waktu sekitar dua bulan.

"Saya telah mempelajari kelayakhunian dan geologi Mars untuk sebagian besar karir saya dan mengetahui secara langsung nilai ilmiah yang luar biasa dari mengembalikan sekumpulan batuan Mars yang dikumpulkan dengan hati-hati ke Bumi," kata Laurie Leshin, direktur Laboratorium Propulsi Jet NASA di California Selatan. "Bahwa kita berminggu-minggu dari menyebarkan sampel menarik Perseverance dan hanya beberapa tahun dari membawanya ke Bumi sehingga para ilmuwan dapat mempelajarinya dengan sangat detail benar-benar fenomenal. Kita akan belajar banyak."

 

Tuesday, September 20, 2022

Gumpalan di Bawah Mantel Bumi, Benarkah Sisa Terciptanya Bulan?


 Lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu, Bulan kita yang setia menemani langit malam terbentuk. Dia tercipta akibat proto planet yang disebut Theia menghantam Bumi kita saat berkembang.

Sekelompok ilmuwan menyodorkan proposal penelitian Maret lalu di Lunar and Planetary Science Conference. Mereka berhipotesis, sisa-sisa Theia itu kini berada di dua lapisan batuan yang seukuran benua dan terkubur jauh di dalam mantel bumi.

Hipotesis para ilmuwan itu berangkat dari misteri yang diungkap seismolog sebelumnya pada dua gumpalan yang berada di bawah Afrika Barat dan Samudera Pasifik. Gumpalan ini seperti mengolongi inti bumi seperti sepasang headphone.

Qian Yuan, peneliti Ph.D di Arizona State University yang merupakan penulis utama makalah proposal itu menyebut, tinggi gumpalan ini mencapai 1.000 kilometer, dan lebarnya bisa beberapa kali lebih besar.

"Itu adalah benda terbesar di mantel bumi," Yuan berpendapat di konferensi proposal penelitiannya 16 Maret lalu.

Saking besarnya, tiap kali gempa terjadi, gelombang seismik tiba-tiba melambat ketika melewati lapisan ini, yang menunjukkan adanya benda padat yang berbeda secara kimiawi dari batuan mantel di sekitarnya.

Awalnya Yuan berpendapat, deteksi LLSVP atau kecepatan geser rendah tingginya pada suatu kawasan, seperti yang dipaparkan para seismolog, gumpalan itu telah mengkristal dari kedalaman samudra magma saat Bumi masih muda.

Atau bisa jadi, benda itu adalah batuan mantel purba yang tersisa dari tumbukkan besar, yang kemudian membentuk bulan. Tetapi pendapat ini masih berdasarkan bukti dan pemodelan isotop baru.

Sehingga Yuan dan tim percaya bahwa LLSVP sebenarnya menggambarkan materi isi perut bumi, yang muncul dari tabrakan benda asing.

"Ide gila ini, setidaknya adalah yang memungkinkan," tambahnya.

Pemikiran terkait sisa tumbukan yang menjadi peristiwa terbentuknya Bulan ini telah tersebar di beberapa konferensi penelitian, selama bertahun-tahun. 

Penelitian lain terkait LLSVP terkait pembentukan Bulan sebenarnya sudah diteliti pada 2012 lalu di jurnal Earth and Planetary Science Letter. Makalah yang berjudul Heterogeneities from the first 100 million years recorded in deep mantlenoble gases from the Northern Lau Back-arc Basin itu mengungkapnya lewat bukti yang ada di Islandia dan Samoa.

Sujoy Mukhopadhyay, ahli geokimia di University of California dalam konferensi Yuan itu menganggap gagasannya menarik dan masuk akal. Dia, lewat makalahnya tahun 2012 itu memang menunjukkan LLSVP sudah ada sejak lama, pasca pembentukan bulan.

Pencitraan seismik telah melacak gumpalan magma yang ternyata memberi pasokan gunung berapi di Samoa dan Islandia, sampai ke LLSVP.

Selama beberapa dekade Mukhopadhyay dan tim telah menemukan bahwa lava di kedua lokasi mengandung catatan isotop unsur radioaktif yang terbentuk selama 100 juta tahun pertama kelahiran Bumi.

Salah satu rekan penelitian Yuan di makalah ini, ilmuwan astrofisika Arizona State University Steven Desch pernah memaparkan terkait bukti yang harus diteliti dalam makalah terbaru.

Desch bersama rekan-rekannya telah mengkaji batuan bulan yang pernah dibawa Apollo. Dia bersama tim dalam jurnal Geochemistry (Vol. 79, Issue 4, tahun 2019), mengukur rasio hidrogen terhadap deuterium--isotop hidrogen yang lebih berat yang dikandung batuan tersebut.

Hidrogen ringan jauh lebih kaya di beberapa sampel batuan Bulan daripada batuan di Bumi. Lewat temuan itu, Desch dan timnya yakin bahwa ukuran Theia pasti sangat besar.

Lantaran, untuk menangkap dan menahan begitu banyak hidrogen ringan di bulan memerlukan ukuran yang lebih besar dari Bumi. Kemudian hidrogen ini mengering, karena cairan apa pun, yang secara alami yang kaya hidrogen berat, pasti akan meningkatkan deuteriumnya di angkasa bebas.

Theia yang diyakini besar dan kering itu akan terpisah menjadi lapisan dan intinya yang kekurangan zat besi. Tetapi mantelnya justru kaya zat besi dengan sekitar dua hingga 3,5 persen lebih padat dari Bumi kini, Desch menjelaskan.

Dia juga menambahkan, bahwa penelitian kedepannya yang perlu dilakukan adalah mencari sampel batuan dari Bulan yang baru. Sebab sampel yang ditawarkan Apollo tidak satu pun menangkap materi yang serupa dengan mantel bumi yang tidak berubah.

Itu sebabnya, Desch menerangkan, misi NASA dan Tiongkok yang hendak mernecanakan misi robotik ke kutub selatan Bulan dalam dekade ini, akan sangat dinantikan hasilnya.

Jennifer Jenkins, seismolog Durham University di forum yang sama memaparkan, apa bila sisa Theia benar-benar ada di dalam Bumi, penelitian ini akan membuka akses para ahli seisomolog untuk melihat materi yang sangat padat ini di mantel lebih mendalam.

Dan bisa jadi, sisa-sisa ini berasal dari inti yang kaya besi yang tenggelam dari planet kerdil lain yang juga menghantam Bumi kita yang masih muda.

Namun, Yuan, Desch, dan tim harus berhati-hati dalam penelitiannya. Barbara Romanowicz , seisomolog dari University of California, bersama ahli geofisika Paris-Scalya University Anne Davaille, melakukan studi pada September 2020 lalu akan bukti kabur gelombang seismik.

Romanowicz dan Davaille menulis makalah Deflating the LLSVPs: Bundles of Mantle Thermochemical Plumes Rather Than Thick Stagnant “Piles” yang diterbitkan di Tectonics. Alih-alih mencapai 1.000 kilometer, tumbukan lapisan di bawah tanah yang dideteksi bisa jadi naik beberapa ratus kilometer sebelum menjadi pecah dalam bentuk gumpalan yang bercabang.

Sehingga, bukti LLSVP yang mengandalkan gelombang seismik frekuensi rendah, bisa jadi hanyalah sekedar ilusi yang yang diciptakan oleh model interior.

Monday, September 19, 2022

Pengaruh Politik Revolusi Prancis yang Berkelana Hingga Hindia Belanda


 Penyerbuan penjara Bastille pada 14 Juli 1789 adalah puncak kerusuhan oleh rakyat selama revolusi Prancis. Masyarakat tumpah ruah menyerbu benteng yang dikenal sebagai pertahanan terkuat di kerajaan itu.

Ringkasnya, revolusi itu membuat Raja Louis XVI dipenggal di depan khalayak publik pada 21 Januari 1793 dengan guillotine. Peristiwa itu mengakhiri monarki absolut Prancis menuju sistem politik yang baru, dan mempengaruhi sejarah di Eropa hingga seluruh dunia.

Sandy Kurnia Christmas dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, bersama Evi Purwanti dalam Jurnal Pembangungan Hukum Indonesia (Vol.2 No.2 tahun 2020) menulis, monarki absolut yang dianut negara Eropa pada abad ke-18 pemerintahannya dipegang tunggal atas raja.

Di Prancis sendiri raja membuat "L’etat, c’est moi" yang berarti "negara adalah aku", dan pemerintahannya dikenal depotisme, sebuah hukum yang dibuat hukum langsung dibuat raja maupun organ-orang yang diangkat raja.

Selain itu, peran agama juga berhubungan dengan tatanan Prancis pra-revolusi dalam sistem kerajaan. Merupakan hal yang umum sebutan kekuasaan Tuhan, yang kemudian diwakilkan oleh raja.

Maka tuntutan rakyat selama revolusi Perancis adalah untuk menuntut kebebasan, persamaan, dan persaudaraan (Liberte, egalite, et fraternite). 

"Revolusi Perancis diidasari oleh paham liberalisme, demokrasi dan nasionalisme, dimana paham-paham inilah yang kemudian berkembang dalam hukum internasional," tulis Sandy dan Evi.

26 Agustus 1789, lahirlah Dekret Agustus yang bertujuan menghapus seluruh hak istimewa raja. Dekret ini selanjutnya membentuk "La Declaration des Droits de l'homme et du Citoyen" atau Deklarasi HAM dan Warga Negara 1789" yang menyebabkan negara republik.

"Terbentuknya Republik Perancis merupakan negara pertama yang mendeklarasikan negaranya sebagai negara republik di Eropa. Pada bentuk pemerintahan Republik ini, kekuasaan tertinggi bersumber kepada rakyat," lanjut Sandy dan Evi di makalah.

Pemikiran kedaulatan rakyat yang terjadi di Prancis diadopsi dari John Locke, seorang filsuf Inggris. Menurut Locke, hakikatnya kekuasan timbul akibat adanya perjanjian rakyat untuk menyerahkan haknya, dan pemerintah harus mengembalikannya dalam hak dan kewajiban yang diatur dalam hukum.

Secara sistem, Prancis melahirkan kontrak sosial yang melahikran trias politika yang berunsur legislatif, eksekutif, dan yudikatif, seperti yang kita kenal saat ini.

"Revolusi Prancis nyatanya tidak hanya membawa perubahan dalam perkembangan sistem pemerintahan, melainkan kepada penegakan hak asasi manusia juga diperjuangkan," terang mereka.

Paham dari revolusi Prancis kemudian menular oleh negeri Eropa lainnya, terlebih dengan seiringan dengan perang yang dibawa Napoleon Bonaparte, dan hubungan luar negerinya. Pembentukan Republik Prancis juga dapat dianggap sebagai langkah awal penghapusan golongan atau kelas dalam tingkat sosial.

Akibatnya, di Eropa mulai bermunculan paham sekulerisme yang mengharuskan lembaga negara harus terpisah dari unsur agama dan kepercayaan. Penganut sekularisme di Eropa pasca terbentuknya Republik Prancis yakin, penyekatan antara kuasa dan agama dapat menunjang kebebasan manusia.

Pengaruh Prancis pun tiba ke Belanda yang saat itu sedang bangkrut akibat kalah perang dengan Inggris. Sejarawan Simon Schama pada 1977 menulis buku Patriots and Liberators, Revolution in the Netherlands 1780-1813.

Akibat ketidakpuasan rakyat Belanda atas William V, kalangan patriot atau revolusioner Belanda melakukan pembelotan, dan menguasai beberapa provinsi. Aksi itu berujung pada revolusi Batavia sekitar 1794-1795.

Ketika Prancis tiba di Belanda, tulis Schama, kalangan patriot menyambut baik, dan berharap bisa membebaskan Belanda dari tirani. Pihak militer Belanda yang menaruh dukungan pada Prancis, salah satunya adalah Herman Willem Daendels. 


Revolusi itu pun melahirkan Republik Batavia yang berusia sementara, dan dilanjutkan oleh Kerajaan Hollandia yang keduanya dipengaruhi urusan Prancis. Bahkan, Louis Bonaparte yang merupakan adik Napoleon menjadi raja di sana.

"Rakyat Belanda menerima sebagai rajanya, adik laki-laki Napoleon, Louis. Empat tahun masa pemerintahannya merupakan salah satu episode paling aneh dalam sejarah Belanda," tulis sejarawan bidang Eropa Herbert H. Rowen dan Michael J. Wintle di Britannica Encyclopedia.

"Louis Bonaparte adalah orang asing di negeri itu, namun dia memperhatikan kepentingannya, menghindari perintah saudaranya dan memenangkan rasa hormat, jika bukan kasih sayang, dari rakyatnya."

Louis Bonaparte pun mengangkat Herman Willem Daendels sebagai kolonel jenderal pada 1806, dan selanjutnya diutus sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1807. Alasan mengapa Daendels dipilih olehnya, lantaran ingin membersihkan Pulau Jawa dari pengaruh Inggris.


Djoko Marihandono, sejarawan Universitas Indonesia, menulis dalam artikel jurnal Upaya Pemberantasan Korupsi di Hindia Timur terkait peran Daendels. Kehadirannya di Hindia Belanda memodernisasi adminsitrasi koloni.

Secara politik sendiri, Daendels diharapkan Louis dapat menjaga martabat modernisasi yang dilakukan Prancis.

Terbukti, ia pun berhasil menumpas berbagai praktik korupsi yang sudah membudaya di Hindia Belanda sejak zaman VOC. Meski demikian keadilan hukum masih belum begitu tegak di kalangan pejabat lokal, yang nantinya berbuah Perang Dipanegara.

 

Sunday, September 18, 2022

Ngeri, Hippokrates Gunakan Besi Panas untuk Obati Wasir di Yunani Kuno


Lebih dari setengah dari semua orang harus berurusan dengan wasir setidaknya sekali dalam hidup mereka. Meskipun wasir adalah masalah yang tidak diharapkan untuk ditangani, tetapi rasanya Anda perlu bersyukur karena Anda tidak tinggal di Yunani kuno dengan Hippokrates alias Bapak Pengobatan pada saat itu.

Pasalnya, mereka akan mengobati wasir dengan benar-benar membawa alat bedah besi yang dipanaskan ke bokong Anda. Hippokrates terkenal dengan Sumpah Hipokrates, yang saat ini masih digunakan yang diambil oleh dokter modern di seluruh dunia hingga hari ini. Apa yang ironis adalah bahwa sumpah tersebut menyatakan untuk "tidak membahayakan"—tulah sebabnya mungkin mengejutkan untuk mengetahui jika Anda pergi ke dokter Hipokrates di Yunani kuno.

Ketika prosedur selesai, setidaknya ada proses untuk mengobati luka di bagian belakang orang tersebut. Setelah operasi, penenang klasik dioleskan, terbuat dari bahan obat lentil dan buncis, kemudian perban diikatkan ke perut orang tersebut untuk menahannya selama beberapa hari. Setelah perban lentil-buncis dilepas, madu akan dioleskan ke perban baru, dan dimasukkan ke dalam anus orang tersebut.

Lalu bagaimana orang itu buang air besar selama minggu? atau bagaimana mereka bisa melakukannya dengan kebersihan? Mungkin sebaiknya tidak dipikirkan. Terutama ketika Anda mempertimbangkan fakta bahwa orang Yunani kuno cenderung menggunakan pecahan tembikar yang sebenarnya sebagai pengganti kertas toilet. Akan tetapi orang-orang Yunani kuno ini adalah jenis berbeda. Kebiasaan menggunakan pecahan tembikar sebagai alat menyeka ini nampaknya menjadi alasan utama mengapa wasir begitu umum di antara orang Yunani kuno.

Berbeda dengan Yunani kuno, orang Mesir kuno memiliki beberapa resep pasta obat yang dapat dioleskan ke daerah yang terkena. Menariknya, strategi berbeda yang digunakan oleh orang Romawi, India, dan Arab melibatkan ligasi. Ligasi secara harfiah memotong aliran darah ke suatu daerah, digunakan oleh masing-masing budaya ini dan juga muncul dalam beberapa tulisan Hippokrates.

Orang-orang Yunani menulis tentang penggunaan wol atau benang untuk mengikat wasir dengan erat, memotong aliran darah ke sana sehingga seiring waktu, wasir akan benar-benar mengerut dan jatuh dengan sendirinya atau melalui eksisi—memotongnya. Teknik ini sebenarnya telah teruji oleh waktu dan merupakan salah satu dari beberapa metode yang masih digunakan, meskipun sekarang dokter menggunakan karet gelang sebagai pengganti beberapa versi benang untuk mengikat wasir.

Selain Pembakaran Wasir, Hippokrates Membuat Beberapa Kontribusi Positif untuk Perawatan Kesehatan Saat Ini

Dari semua solusi, mungkin pembakaran besi panas Hippokrates benar-benar yang terburuk. Namun, Hippokrates memang memberi dunia cara baru dalam memandang kesehatan dan bahkan istilah-istilah seperti gejala, diagnosis, terapi, trauma, dan sepsis. Dia dinobatkan sebagai orang pertama yang secara akurat mendiagnosis epilepsi dan mengetahui bahwa itu disebabkan oleh masalah di dalam otak, dan oleh karena itu terbukti bahwa otak memang mengendalikan tubuh.

Hippokrates juga menyebutkan sejumlah penyakit yang terus kita sebut dengan istilah yang sama hingga saat ini, seperti kanker, diabetes, radang sendi, koma, dan kelumpuhan. Dia bahkan menemukan cara untuk mendiagnosis dan mengobati infeksi paru-paru yang dikenal sebagai empiema, suatu kondisi yang berpotensi fatal yang memerlukan CT scan dan X-ray untuk diagnosis hari ini.

Peristiwa Geologi Bumi Kita Berulang Seperti Pola Denyut Nadi


Manusia dewasa saat tak melakukan banyak aktivitas, kecepatan detak jantungnya bisa 60 hingga 100 kali. Selama denyut itu, jantung memompa dan menerima darah dari dan ke seluruh tubuh.

Tentunya semua hewan juga memiliki denyut yang sama dengan interval yang berbeda. Tetapi, baru-baru ini para peneliti menemukan denyut yang dimiliki oleh Bumi.

"Denyut Bumi", begitulah mereka menyebutnya, terjadi akibat lusinan peristiwa geologis besar yang dialami. Mulai dari perubahan permukaan laut hingga letusan gunung berapi, yang terjadi selama 260 juta tahun terakhir. Peristiwa ini memiliki pola berirama ketika diamati.

"Dalam waktu yang cukup lama, beberapa ahli geologi bertanya-tanya, apakah ada siklus sekitar 30 juta tahun dalam catatan geologis," kata Michael Rampino, penulis utama, dikutip dari Live Science.


Temuannya ini dipublikasikan di Geoscience Frontiers, yang tersedia Kamis (17/06/2021).

Menurut Rampino, hingga saat ini penanggalan peristiwa seperti itu masih kurang baik. Sehingga, pembuatan pola itu sulit dipelajari secara kuantitatif.

"Banyak [yang membuat], tapi mungkin sebagian besar, [ahli geologi] akan mengatakan bahwa peristiwa geologi sebagian besar terjadi secara acak," kata Rampino.

Maka, Rampino dan timnya membuktikan apakah peristiwa geologis selama jutaan tahun itu memang acak, atau ada pola yang sama untuk mendasarinya.

Dalam laporannya, mereka mengulik ragam literatur dan menemukan 89 peristiwa besar yang terjadi selama 260 juta tahun terakhir. Beberapa di antaranya terkait kepunahan, peristiwa anoxic laut--masa di mana laut mengadung racun akibat penipisan oksigen, fluktuasi permukaan laut, aktivitas vulkanik besar, dan perubahan pada lempeng tektonik bumi.

Lewat analisis Fourier, mereka menempatkan peristiwa dalam urutan kronologis dari yang terlama hingga yang terbaru, untuk mengambil lonjakan frekuensi perisitwa.


Hasilnya, mereka menemukan sebagian besar fenomena yang pernah terjadi dapat dikelompokkan dalam 10 waktu terpisah, dengan rata-rata berjarak 27,5 juta tahun.

Meski dianggap kurang tepat, cara itu cukup sebagai perkiraan dengan interval statistika sebesar 96%, yang artinya tidak mungkin terjadi secara kebetulan atau acak, ujar Rampino.

Di sisi lain, walau penanggalannya secara akurat dimulai dari 260 juta tahun terakhir, Rampino dan tim memperkirakan hasilnya bisa meluas lebih jauh ke masa yang lebih lampau.

Misal, permukaan laut kembali terjadi 600 juta tahun lalu, lebih jauh dari yang dalam rentang waktu mereka. Rampino menduga kejadian itu menggambarkan adanya pola yang sama di waktu yang lebih lampau, seperti pola denyut yang berulang.

Klaster pola terakhir terjadi pada 7 juta hingga 10 juta tahun yang lalu. Para peneliti memperkirakan klaster itu akan terjadi lagi dalam 10 juta hingga 15 juta tahun mendatang.

Di sisi lain, walau penanggalannya secara akurat dimulai dari 260 juta tahun terakhir, Rampino dan tim memperkirakan hasilnya bisa meluas lebih jauh ke masa yang lebih lampau.

Misal, permukaan laut kembali terjadi 600 juta tahun lalu, lebih jauh dari yang dalam rentang waktu mereka. Rampino menduga kejadian itu menggambarkan adanya pola yang sama di waktu yang lebih lampau, seperti pola denyut yang berulang.

Klaster pola terakhir terjadi pada 7 juta hingga 10 juta tahun yang lalu. Para peneliti memperkirakan klaster itu akan terjadi lagi dalam 10 juta hingga 15 juta tahun mendatang.

Kendati demikian tidak jelas apa yang menyebabkan denyutan itu terjadi menyerupai pola, dalam aktivitas geologis. Bisa jadi didorong secara internal oleh lempeng tektonik, dan pergerakan di dalam mantel.

Atau bisa jadi, ada hubungannya dengan pergerakam Bumi di tata surya dan galaksi, Rampino berpendapat. Contoh, denyut nadi 27,5 juta tahun mendekati osilasi vertikal 32 juta tahun di sekitar bidang tengah galaksi kita, Bima Sakti.

Para peneliti hanya berteori, bahwa tata surya kadang-kadang bergerak melalui bidang yang mengandung materi gelap (dark matter) dalam jumlah yang lebih besar di galaksi. Saat planet bergerak melaluinya, tata surya menangkapnya, sehingga dapat memusnahkan dan melepaskan panas. Akibatnya, dapat menghasilkan denyut pemanasan dan aktivitas geologis di Bumi.

Teori mengenai materi gelap ini sebenarnya masih diperdebatkan oleh kalangan ilmuwan akan ada atau tidaknya.

Para peneliti berharap agar bisa mendapatkan data yang lebih lengkap terkait penanggalan geologis tertentu, dan menganalisis periode waktu yang lebih lama untuk melihatnya jauh ke masa lalu.

Bahkan, suatu hari nanti mereka berharap bisa mendapatkan angka yang bisa memahami pergerakan astronomi Bumi dalam tata surya, dan Bima Sakti. Sehingga bisa memperkuat mengenai korelasi siklus astronomi dengan geologi.

Bukti Terbaru: Manusia hidup 30.000 Tahun Yang Lalu di Amerika


Para antropolog dari Iowa State University menemukan bukti di Meksiko bahwa manusia telah hidup di Amerika pada 33.000 tahun yang lalu. Penemuan ini membuktikan bahwa manusia telah ada 20.000 tahun lebih awal daripada kedatangan “Amerika Pertama” yang diduga menyeberangi Jembatan Bering dari Asia sebelum bermigrasi ke selatan sekitar 11000 SM. 

Penemuan terbaru Iowa State University tidak menghilangkan bukti yang mendukung kedatangan “Amerika Pertama”, tetapi menjadi bertentangan dengan teori tentang pemukim pertama di wilayah Amerika Utara dan Selatan.

Andrew Somerville, seorang antropolog mengadakan ekspedisi ke Meksiko untuk meneliti asal usul pertanian di Lembah Tehuacán. Pada penelitian terdahulu, Lembah Tehuacán memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan pertanian di Amerika, dengan berbagai bentuk spesies tanaman lokal pertama yang ditemukan selama eksplorasi arkeologi. 

Untuk mempelajari lebih lanjut sejarah aktivitas manusia di Lembah Tehuacán, Somerville dan rekan-rekannya melacak sampel tulang yang ditemukan dari Gua Coxcatlán pada 1960-an. Penggalian arkeologi di gua yang telah dihuni oleh penduduk asli Amerika lebih dari 10.000 tahun lalu ini terbukti sangat bermanfaat bagi para ilmuwan yang mencari data berupa sosial, budaya, dan ekonomi di Amerika kuno.

Sampel tulang yang diperoleh Somerville di Gua Coxcatlán berasal dari kelinci dan rusa yang diduga dibunuh dan dimakan oleh penghuni gua purba tersebut. Tulang-tulang ini ditemukan pada lapisan terbawah ketika proses penggalian. Hal ini berarti tulang-tulang tersebut sudah ada di gua ketika pertama kali ditempati. Melalui penanggalan radiokarbon, para ilmuwan berharap dapat menemukan dengan tepat kapan manusia mulai hidup di Gua Coxcatlan. 

Ketika mengirimkan penemuan tersebut untuk dianalisis, Somerville dan rekan-rekan tidak merasa curiga bahwa tes tersebut akan mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan. Hasilnya sungguh mengejutkan karena menurut data radiokarbon, tulang rusa dan kelinci telah disimpan di gua tersebut antara 33.448 dan 28.279 tahun yang lalu.

"Kami tidak menyangka akan menemukan sampel yang sangat tua ini. Kami hanya mencoba untuk menemukan studi pertanian untuk menentukan waktu yang lebih tepat. Kami terkejut menemukan kurma tertua di dasar gua. Ini berarti kami perlu menggali informasi mendalam mengenai artefak yang ditemukan pada lapisan itu." kata Somerville.

Pengujian radiokarbon sebelumnya digunakan pada sisa-sisa tanaman dan arang yang diambil dari gua untuk menentukan waktu. Somerville yakin bahwa tulang belulang akan menunjukkan hasil tes radiokarbon yang lebih akurat.

Meskipun tes penanggalan radiokarbon sangat akurat, tetapi tidak cukup membuktikan bahwa manusia berada 20.000 tahun yang lalu di Meksiko.

Namun, hipotesis lainnya menyatakan bahwa tulang kelinci dan rusa yang ditemukan di gua bisa berasal dari hewan yang hidup di dalam dan mati secara alami. Jika teori yang diyakini benar dan manusia tidak hidup di Amerika pada 30000 SM, satu-satunya penghuni gua Coxcatlan adalah hewan.

Hipotesis ini mungkin masuk akal tetapi tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya.

Untuk mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan, Somerville beserta rekan-rekannya berencana untuk memeriksa kembali tulang rusa dan kelinci. Mereka akan mencari sayatan apabila daging atau kulit binatang tersebut diambil oleh manusia. Mereka juga akan mencari tahu apakah tulang tersebut direbus atau dipanggang di atas api, seperti ketika mempersiapkan makan malam.

 

Saturday, September 17, 2022

Cerita Kejam Keluarga Kanibal dan Inses Sawney Bean Berjumlah 48 Orang


Orang-orang Skotlandia punya lagu balada tentang keluarga kanibal Sawney Bean saat malam-malam pekat dan menyeramkan menemani.

"Jangan pergi ke Galloway karena kamu harus tahu bahwa Sawney Bean menunggumu di sana. Sawney Bean, Sawney Bean, jaga Sawney Bean. Jangan biarkan dia merobohkan kudamu Sawney Bean."

Tapi apakah Alexander "Sawney" Bean benar-benar ada? ada beberapa versi berbeda tentang kelahiran tokoh ini. Beberapa ada yang mengatakan pada 1390 ada juga pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Raja James VI dari Skotlandia.

Bagaimanapun, ia lahir di East Lothian, sebuah kota pertanian beberapa mil dari Edinburgh.

Bean memulai hubungan dengan Agnes Douglas yang diduga memiliki sihir dan melakukan penumbalan manusia. Agnes dikenal sebagai 'penyihir hitam' dari Lothian. 

Pasangan itu memutuskan untuk melarikan diri dan bertahan hidup, mereka merampok semua orang yang menghalangi jalan mereka.

Menurut legenda, dalam salah satu perampokan, Sawney Bean mencicipi daging manusia untuk pertama kalinya. Agnes menyarankan kepada Bean bahwa sebelum mati kelaparan, satu-satunya solusi untuk bertahan hidup ialah dengan memakan daging manusia. Agar tidak menarik perhatian, setelah penyerangan mereka mengatur mayat-mayat yang mereka bunuh sedemikian rupa seolah-olah mereka adalah korban binatang buas. 

Setelah menghabiskan beberapa bulan berpegian dan bersembunyi, pasangan itu akhirnya memutuskan untuk menetap di Kota Ayrshire Selatan dekat Ballantrae. Mereka mencari tempat berlindung dan menemukan sebuah gua yang menghadap ke laut. Mereka menemukan pintu masuk gua saat air surut dan menyadari ketika permukaan laut naik, pintu masuk gua tida terlihat oleh siapa pun.


WJ Passingham dalam artikel untuk majalah Black and White 4 Maret 1934 menceritakan kisah Sawney Bean:

"Gua itu dalam, lebar dan kering. Atau setidaknya cukup untuk menghabiskan seluruh musim dingin di sana. Satu-satunya kelemahan adalah kurangnya makanan di dekatnya. Sawney Bean mengintai di daerah itu untuk mencari makan atau penduduk lokal yang bisa menjual sesuatu kepada mereka. Dia memukul seorang musafir yang sedang menyebrang jalan dan membawa jenazahnya ke gua. Dia tidak tertarik pada uang atau harta bendanya, hanya dagingnya."

Agnes dan Sawney kemudian menjadi orang tua dari delapan anak laki-laki dan enam perempuan. Karena begitu banyak mulut yang harus diberi makan perburuan harus meningkat. Selama 28 tahun mereka telah melakukan kekejaman. Mereka menjadi klan kanibal yang gemar menyerang di malam hari supaya mudah melarikan diri. 

Suatu hari dalam perjalanan pulang dari sebuah pameran, sepasang pedagang lewat di dekat temmpat hilangnya korban. Sebelum menyadari apa yang terjadi, mereka dikelilingi oleh sekelompok pria dan wanita yang secara brutal yang bersenjatakan pedang dan pistol. Sang istri terjatuh dari kudanya dan langsung ditangkap dan segera dibawa pergi. 

Si pria berhasil lolos dari serangan kanibal dan sempat melukai beberapa dari mereka secara serius dan sisanya melarikan diri. Ia mengejar mereka untuk menyelamatkan istrinya. Namun ia hanya bisa menemukan sebagian tubuhnya berserakan di jalan. Karena takut dan marah, pedagang itu pergi mencari pihak berwenang untuk membantu memburu orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian istrinya. 

Ketika raja mengetahui apa yang terjadi, dia mengirim 400 tentara untuk menemukan wanita itu. Berkat bantuan anjing pemburu, ekspedisi kerajaan menemukan pintu masuk gua tempat mereka bersembunyi.

Para prajurit masuk melalui lorong berbentuk zigzag yang dindingnya dihiasi kerangka. Mereka menemukan keluarga itu yang tenggelam dalam pesta menghebohkan. Anak-anak bermain dengan sisa-sisa mayat, dikelilingi lengan, kaki, kepala, dan anggota tubuh lainnya. Bahkan ada pernak pernik yang terbuat dari sisa-sisa manusia. 

Keluarga kanibal itu dipenjara di Edinburgh, di mana anggotanya bahkan tidak diadili. Mereka dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi di tempat. Para wanita dan anak-anak dipakukan pada tiang dan dibiarkan hidup cukup lama untuk menyaksikan para pria dari klan tersebut mati. Dipotong-potong dan berdarah sampai mati.

Tanpa menunjukan penyesalan mereka mencaci maki orang-orang yang menangkap mereka. Legenda mengatakan bahwa Sawney Bean terus mengulang perkataan, "Ini belum berakhir, tidak pernah berakhir."

Belakangan, tiang pancang anggota keluarga lainya dibakar. Total klan yang didirikan oleh Bean berkat inses terdiri dari 48 orang menurut laman National Geographic España.

Mitos Skotlandia yang dalam dan gelap tampak nyata dan itu bukanlah hal asing bagi penduduk Skotlandia pada abad pertengahan. 

Wilayah Galloway, tempat peristiwa itu diduga terjadi, hingga zaman moderen, merupakan tempat yang amat liar.

Bagaimanapun, sangat mungkin juga bahwa, dengan memanfaatkan ketenaran yang dimiliki penduduknya sebagai orang-orang tak beradab, propaganda pro-Inggris menciptakan legenda kanibal gila Sawney Bean bertahan hingga hari ini.